Liputan BERITA

Mendambakan Stamina Prima Saat Berhubungan Intim Dengan Obat Kuat. Begini Pendapat IDI Pacitan Agar Masyarakat Tidak Salah Kaprah

Ditulis oleh Liputan68 pada 23 April 2024 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Belajar dari pengalaman pahit, banyaknya kejadian fatal yang dialami sejumlah lelaki saat melakukan hubungan intim dengan mengkonsumsi obat kuat, juga memantik atensi Ikatan dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pacitan.

Seperti disampaikan Wakil Ketua IDI Pacitan, Johan Tri Putranto. Menurut dokter umum yang saat ini menjabat sebagai Kepala Tata Usaha RSUD dr Darsono ini, memang tidak sedikit pria yang mendambakan stamina yang kuat saat berhubungan intim.

Namun demikian, ini bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, apalagi jika aktivitas seksual dilakukan di malam hari, saat energi sudah cukup terkuras untuk bekerja di siang harinya.

“Akhirnya, banyak pria yang mencoba obat kuat, dengan harapan bisa mendongkrak stamina di ranjang,” ujar Johan dalam siaran persnya, Selasa (23/4).

Namun, apakah penggunaan obat kuat efektif untuk meningkatkan stamina pria? Jika dijelaskan dari cara kerjanya, sambung Johan, obat kuat bekerja dengan cara merangsang produksi siklik guanosin monofosfat.

Yaitu zat untuk merelaksasi otot-otot, sehingga arteri di Mr P atau “si otong” bisa melebar dan sirkulasi darah lebih lancar. “Kalau dilihat dari cara kerja obatnya memang sepertinya bisa membantu kelancaran ereksi. Mengingat proses terjadinya ereksi sangat dipengaruhi oleh kelancaran aliran darah menuju Mr P,” jelas mantan Kepala UPT Puskesmas Gondosari, Kecamatan Punung, Dinas Kesehatan Pacitan ini.

Lebih lanjut, Johan mengatakan, ada berbagai jenis obat kuat dan cara kerjanya.
Meski apa yang dijanjikan sama, obat kuat itu ada banyak jenisnya. Dari berbagai jenis itu, ternyata cara kerjanya berbeda-beda.

Berikut beberapa jenis obat kuat yang dijual di pasaran dan cara kerjanya:

1. Sildenafil atau Viagra

Obat kuat jenis ini tentu sudah sering kita lihat iklan-iklannya di pinggir jalan ya? Namun, tahukah anda bahwa sildenafil atau viagra ini sebenarnya adalah obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi di paru-paru (hipertensi pulmonal).

Meski pada beberapa kasus, obat ini kerap diresepkan untuk mengatasi masalah impotensi, sildenafil atau viagra tidak akan memberikan efek apa-apa jika tidak ada rangsangan seksual.

Jika digunakan sebagai obat kuat, sildenafil atau viagra bekerja dengan cara meningkatkan aliran darah ke Mr P, ketika ada rangsangan seksual. Jadi, setelah meminum obat kuat ini, Mr P tetap perlu mendapatkan rangsangan seksual agar bisa terjadi ereksi. Reaksi sildenafil biasanya akan terasa sekitar 30 menit sebelum berhubungan intim.

2. Vardenafil atau Levitra

Levitra adalah PDE-5 inhibator (obat yang memblokir enzim phosphodiesterase tipe 5) kedua yang muncul di pasar Amerika Serikat dan telah disetujui oleh FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS) pada 2003. Cara kerjanya sama seperti viagra, yaitu membantu Mr P berereksi dengan mengalirkan darah ke organ intim tersebut. Namun, khasiat Levitra bisa dirasakan lebih cepat, yaitu sekitar 25 menit setelah dikonsumsi.

3. Tadalafil atau Cialis

Setelah Levitra, Cialis adalah PDE-5 inhibitor ketiga yang dipasarkan di Amerika Serikat. Obat kuat ini juga terbukti efektif membantu ereksi dan reaksinya dapat dirasakan 16-45 menit setelah mengkonsumsi. Durasi kerja Cialis bisa bertahan hingga 2 sampai 3 jam. Setelah sesi hubungan intim selesai, ereksi akan hilang dan bisa bangkit kembali jika mendapatkan rangsangan seksual lagi.

Itulah 3 jenis obat kuat yang beredar di pasaran. Perlu diketahui bahwa ketiga jenis obat kuat itu memiliki efek samping yang berbeda-beda pada kesehatan tubuh.

Jadi, sebaiknya jangan mengandalkan penggunaan obat kuat, tapi mulailah menerapkan gaya hidup sehat yang bisa meningkatkan stamina secara alami.

Jika anda mengalami masalah seputar kesehatan reproduksi, coba konsultasikan dengan dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Lantas amankah obat kuat itu dikonsumsi?
Meski beberapa merek obat kuat mungkin mengklaim sebagai obat herbal atau vitamin, ada beberapa produsen obat ilegal yang mencampur dengan bahan-bahan diatas.

Johan menegaskan, diperlukan pengawasan dari pihak berwenang lebih lanjut tentang bahan-bahan yang terdapat dalam obat kuat yg beredar secara luas dimasyarakat.

Sementara itu, efek samping akan selalu ada, seperti pusing, tekanan darah rendah, mual, berdebar-debar, bahkan gemetar.

“Kita juga perlu berhati-hati dengan beberapa bahan seperti Kava, karena sering dikaitkan dengan kerusakan organ tubuh, utamanya hati. Soal keefektifan, beberapa orang yang mengonsumsi obat kuat mungkin akan merasa perkasa, stamina seksual meningkat, dan merasa lebih percaya diri saat di ranjang. Namun, bisa jadi pendapat itu adalah sugesti dari pikiran setelah minum obat.

Sebab, kepercayaan diri laki-laki juga memengaruhi terjadinya ereksi. Ketika ia minum obat kuat, kemungkinan sebagian dirinya akan merasa percaya diri, sehingga ia menyimpulkan bahwa obat tersebut ampuh.

Di satu sisi, obat kuat mungkin bekerja dengan untuk melebarkan dan merelaksasi pembuluh darah. Namun di sisi lain, sebagian efek lainnya dipengaruhi oleh faktor fisik dan mental,” bebernya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian