Menurut bupati, negara-negara di dunia ini telah mengikuti konvensi di Paris, termasuk negara Indonesia. Dan di Tahun 2050, semuanya sepakat bergerak menuju net zero emission. Salah satunya yaitu Indonesia.
“Negara tidak mungkin melakukan itu semuanya. Butuh bantuan dari Provinsi. Provinsi tidak akan mungkin mengatasi semuanya itu sendiri, butuh bantuan dari Kabupaten.
Kabupaten pun tidak bisa mengatasi itu sendiri. Butuh bantuan dari desa-desa dan kelurahan serta panjenengan semuanya yang ada disini,” bebernya.
Bupati Aji juga menegaskan, bahwa masalah sampah adalah masalah bersama. Sehingga dibutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. “Masalah sampah ini anggarannya ada dan InsyaAllah akan kita tingkatkan. Akan tetapi kami lebih cenderung dalam hal meningkatkan kesadaran masyarakat.
Karena masalah sampah ini adanya dari hulu sampai ke hilir. Seperti di Pancer Door ini, masalah sampah tidak hanya berasal dari masyarakat yang ada disini, bukan hanya dari wisata yang berkunjung disini, tapi juga dari masyarakat yang di kota, di desa yang sampahnya terbawa dari sungai kemudian sampai ke pantai Pancer Door.
Ada juga mungkin kita mendapatkan kiriman sampah dari negara-negara yang lautnya berbatasan dengan Pacitan atau Indonesia ini. Jadi InsyaAllah kalau permasalahan sampah itu selesai di tingkat desa, syukur di tingkat warga atau dirumah masing-masing, maka kita tidak perlu mengadakan bersih pantai. Karena pengelolanya sudah selesai di tingkat desa.
Harapannya kedepan ke arah sana. Maka, mari kita jaga terus semangat kita. Yang paling utama adalah, kepada diri kita sendiri dan generasi dibawah kita. Anak-anak kita ini yang paling penting, bagaimana bisa sadar permasalahan sampah,” tegas Bupati Aji. (Red/yun).
