Pacitan,Liputan68.com- Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), adalah sosok jenderal besar pengawal reformasi di Indonesia. Ia kembali pulang kampung untuk membuktikan bahwa dirinya ada bagi seluruh masyarakat Pacitan.
Aura SBY seakan menjadi magnit pemantik semangat seluruh lapisan masyarakat, untuk kembali bangkit merayakan dan mengenang detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, 79 tahun silam yang telah dibayar dengan cucuran darah dan tetesan air mata oleh para pahlawan kusuma bangsa kala itu.
Salah seorang pengamat pemilu di Pacitan, Berty Stevanus mengatakan ada beberapa hal tersirat dan tersurat dibalik kehadiran Presiden ke-enam RI ini di kampung halamannya.
Yang pertama, sambung dia, secara eksplisit SBY datang ke Pacitan untuk merayakan 17’an bersama masyarakat dan ratusan rekan-rekan seangkatan saat di Akabri silam.
Hal ini punya makna tersirat, kalau SBY sebagai jenderal besar tidak lupa akan asal-usulnya dari sebuah kampung kecil yang dulunya tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas di negara ini.
Namun dengan kehadiran SBY di lini pemerintahan tertinggi yaitu sebagai orang nomor satu di Indonesia selama satu dekade, sehingga menjadikan Kabupaten Pacitan menjadi terkenal di seantero negeri, bahkan dunia internasional sempat melek tentang nama Pacitan sebagai daerah asal-usul Presiden SBY, yang juga memiliki berjuta keindahan destinasi wisatanya.
“Kesan pertama SBY datang ke Pacitan sebagai bukti kalau beliau tidak lupa dengan kampung halamannya. Dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-79. SBY ingin kembali berbaur dengan masyarakat dan membuktikan kalau dirinya selalu ada untuk Pacitan,” ujar mantan Ketua Bawaslu Pacitan ini, Jum’at (16/8).
Kesan kedua, SBY hadir di Pacitan juga dalam rangka mengenang dan merayakan setahun berdirinya Museum dan Galeri SBY-Ani di kawasan Jalur Lintas Selatan, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan.
Keberadaan Museum Presiden ini juga sebagai bukti, kalau SBY tidak akan pernah lupa dengan Pacitan yang dulunya terstigmakan sebagai daerah, “Adoh Ratu Cedak Watu (jauh dari kekuasaan namun dekat dengan bebatuan)”.
Apalagi kehadiran SBY ini kali dengan mengajak rombongan teman-temannya se alumni di Akabri Tahun 1973 silam untuk melihat kampung halamannya.
