Dengan angka tersebut, Indonesia sudah tertinggal jauh dalam investasi riset dan pengembangan. Jika pemangkasan terus dilakukan, maka Indonesia berisiko semakin tertinggal dalam daya saing global.
“Pemotongan anggaran riset sebesar ini akan menghambat inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Padahal, riset adalah kunci dari pendidikan yang berkualitas. Jika kita terus memangkas anggaran, bagaimana mungkin kita bisa bersaing dengan negara lain?” ungkap Dela dengan nada tanya.
Sebagai bentuk protes terhadap wacana kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan dan riset, DPC GMNI Pacitan mendesak pemerintah untuk:
1. Menghentikan Rencana Pemangkasan Anggaran Pendidikan dan Riset
Pemerintah harus memastikan bahwa alokasi anggaran untuk pendidikan dan riset tidak dikurangi, bahkan seharusnya ditingkatkan demi menciptakan SDM unggul.
2. Menjadikan Pendidikan dan Riset sebagai Prioritas Utama
Pendidikan bukan hanya investasi jangka panjang, tetapi juga kunci utama bagi daya saing Indonesia di tingkat global.
3. Mengatur Skala Prioritas dengan Tepat
Pemerintah seharusnya dapat mengidentifikasi program-program yang secara substansial tidak terlalu berdampak bagi kemajuan bangsa untuk dilakukan efisiensi anggaran, tanpa mengorbankan sektor pendidikan dan riset yang merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan Indonesia.
4. Meningkatkan Transparansi Anggaran Pendidikan dan Riset
Publik harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait anggaran pendidikan dan riset, agar tidak ada penyalahgunaan atau salah alokasi dana.
GMNI Pacitan menegaskan bahwa, pendidikan dan riset adalah dua elemen fundamental yang tidak boleh dianggap sekadar prioritas pendukung.
“Sebagai organisasi yang berkomitmen pada kemajuan pendidikan dan kesejahteraan rakyat, GMNI Pacitan akan terus mengawal kebijakan pemerintah agar pendidikan tetap menjadi prioritas utama demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya. (Red/yun).
