Ironis. Di Klaim Sebagai Sentra Penghasil Kelapa, Namun Di Pacitan Harga Kelapa Terus Melangit. Apa Penyebabnya? Berikut Penuturan Kabag Perekonomian Ali Mustofa

Pacitan,Liputan 68.com- Harga buah kelapa di Pacitan, dari hari ke hari terus menampakkan tren kenaikan.

Sekarang ini, untuk satu butir kelapa rata-rata dijual tak kurang dari Rp 15 ribu. Meski belum lama ini, sempat mengalami penurunan.

Kendati begitu, harga bahan baku pembuatan santan tersebut, masih bertengger di kisaran Rp 13 ribu per biji.

Fenomena melonjaknya harga buah kelapa di Pacitan, memang cukup ironis, mengingat selama ini kabupaten yang berada di ujung Selatan Jawa-Timur tersebut dikenal sebagai sentra penghasil kelapa.

Menurut Kabag Perekonomian, Setkab Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, salah satu penyebab melonjaknya harga kelapa yaitu, karena faktor regenerasi pohon dan juga tukang panjat atau pemetik kelapa, yang sulit didapat.

“Jadi selain jumlah pohon yang terus berkurang, juga tukang petik kelapa yang sekarang ini susah didapat. Kalaupun ada tentu dengan upah yang tinggi.

Sehingga dampaknya, harga kelapa semakin melejit. Selain itu, hasil panenan petani juga terus berkurang,” kata M. Ali, sebelum mengikuti rakor diruang rapat bupati, Senin (7/7/2025).

Pejabat yang belakangan banter diisukan akan naik posisi di jajaran jabatan pimpinan tinggi pratama (JPTP) ini mengungkapkan, menurunnya produksi kelapa di era kekinian, juga dipengaruhi ketersediaan lahan yang terus menyempit.

Dulu, sambung dia, Pacitan memang di kenal sebagai sentra penghasil kelapa lantaran hamparan lahan untuk sentra pertanian kelapa memang cukup luas.

“Sekarang ini susah mencari lahan untuk sentra pertanian kelapa. Kalaupun ada, lokasinya sporadis dengan luasan sangat terbatas. Sehingga sulit dilakukan budidaya, karena cost produksi juga semakin melambung.

Ditambah dengan kondisi geografis Pacitan yang bergunung dan berbukit, serta kontur tanah yang kebanyakan kurang pas untuk ditanami kelapa,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia berharap petani kelapa bisa mencari solusi agar produksi kelapa di Pacitan bisa kembali meningkat. Yaitu dengan budidaya kelapa Genjah Entok.

Selain masa panen yang relatif singkat, juga ketinggian pohon yang hanya sekitar 2-3 meter, sehingga mudah untuk dipetik tanpa perlu pemanjat dengan keberanian dan keahlian khusus.

“Semoga petani kita bisa mencoba untuk melakukan budidaya kelapa entok. Paling nggak sampai 3 tahun sudah bisa dipanen. Kalau kelapa dalam, baru bisa berbuah dan dipanen seteleh usia 10 tahunan,” harapnya.

Sementara itu seperti diketahui bahwa kelapa Genjah Entok adalah varietas kelapa unggul yang dikenal karena menghasilkan buah lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan kelapa biasa.

Istilah “genjah” sendiri mengacu pada tanaman yang berbuah lebih awal, sementara “entok” merujuk pada ciri fisik tanaman yang relatif pendek dan kokoh.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai Kelapa Genjah Entok:

BAGIKAN KE :