Forum Guru NTT Tantang Status Quo: Sekolah Harus Jadi Mesin Anti-Korupsi, Inovasi Lokal, dan Ekonomi Digital!

NTT, Liputan68.com- Di tengah ketimpangan mutu pendidikan dan bayang-bayang praktik korupsi yang masih menghantui birokrasi pendidikan, Forum Guru Nusa Tenggara Timur (NTT) tampil sebagai kekuatan moral yang mendorong perubahan konkret.

Dipimpin oleh Jusup Koehoea, Forum ini memformulasikan tiga agenda utama yang dianggap sebagai kunci transformasi pendidikan di provinsi berbasis kepulauan tersebut: pembangunan karakter anti-korupsi, penguatan keahlian berbasis potensi lokal, dan pengembangan pengetahuan berbasis AI serta ekonomi digital sekolah.

1. Sekolah Harus Jadi Benteng Anti-Korupsi

Forum Guru NTT menegaskan bahwa tidak akan ada perubahan sosial yang berarti tanpa pendidikan karakter yang kuat.

Sekolah harus kembali ke posisi strategis sebagai ruang pembentukan nilai moral. Dalam konteks NTT, pendidikan anti-korupsi bukan sekadar wacana tambahan, melainkan prinsip utama yang harus diintegrasikan dalam setiap praktik pembelajaran.

“Sekolah tidak boleh hanya mencetak anak pintar, tapi juga anak jujur. Kalau tidak, kita sedang mencetak koruptor masa depan,” ujar Jusup Koehoea.

Melalui kurikulum tematik, praktik langsung, dan keteladanan para guru, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati ditekankan agar siswa tumbuh sebagai individu yang memiliki keberanian moral dalam menghadapi sistem yang kerap kompromi terhadap integritas.

2. Pendidikan Harus Berakar di Tanah Sendiri

Alih-alih terus membebek pada sistem pendidikan luar yang tidak kontekstual, Forum Guru NTT mendorong transformasi sekolah menjadi pusat pelatihan keterampilan berbasis potensi lokal.

Dengan mengembangkan keahlian di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan kewirausahaan modern, sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi NTT—sekolah diharapkan menghasilkan job creator, bukan hanya job seeker.

“Kalau sekolah tak mengajarkan anak-anak mengelola tanah, laut, dan ternaknya sendiri, lalu pendidikan kita untuk siapa?” kritik Forum Guru.

Melalui integrasi keterampilan lokal ke dalam kurikulum dan praktik lapangan, siswa diajak untuk mengolah kekayaan alam sekitar secara produktif dan inovatif.

3. AI dan Marketplace Sekolah: Masa Depan Dimulai dari Sekarang

Dalam dunia yang bergerak cepat menuju digitalisasi, Forum Guru NTT menginisiasi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk membangun sekolah yang bukan hanya cerdas, tapi juga mandiri secara ekonomi. Salah satu program andalan adalah pembangunan “Marketplace Sekolah”, sebuah platform digital tempat siswa dan sekolah dapat memasarkan produk seperti hasil tani, ternak, kerajinan, aplikasi, hingga konten digital.

Dengan pendekatan ini, siswa tak hanya belajar ekonomi digital sejak dini, tetapi juga turut serta dalam membangun kemandirian fiskal sekolah.

AI juga difungsikan untuk personalisasi pembelajaran, peningkatan efisiensi manajemen, dan pengembangan aplikasi berbasis lokal.

Forum Guru NTT: Dari Solidaritas Profesi ke Gerakan Perubahan

Lebih dari sekadar organisasi profesi, Forum Guru NTT menjelma menjadi gerakan transformasi pendidikan.

Dengan pendekatan kontekstual, berakar pada realitas lokal, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi global, Forum ini menghadirkan peta jalan baru bagi pendidikan yang relevan, bermakna, dan berdampak nyata bagi masyarakat NTT.

“Ini bukan hanya soal kurikulum, tapi soal keberanian moral. Jika pendidikan terus tunduk pada pola lama, maka daerah ini tidak akan pernah bangkit,” tegas Jusup Koehoea.

Forum Guru NTT kini menyerukan kolaborasi lintas sektor, pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan dunia usaha, untuk merebut kembali peran strategis pendidikan sebagai lokomotif pembangunan karakter, keterampilan, dan kemandirian ekonomi daerah.***

BAGIKAN KE :