Petani Dampingan BITRA Bertahan di Tengah Krisis Iklim: Ketika Gabah Mahal Tak Selalu Untungkan Petani

LANGKAT  – LIPUTAN68.COM – Di tengah kemarau panjang dan suhu ekstrem yang melanda sejak awal tahun, petani di berbagai wilayah Sumatera Utara berjuang mempertahankan panen di tengah tekanan iklim dan melonjaknya biaya produksi. Prediksi BMKG yang menyebut musim kemarau 2025 datang lebih lambat dengan puncaknya pada Juli-Agustus, tak membuat kondisi lebih baik—justru memperpanjang periode kering yang mengancam sektor pertanian.

Harga gabah sempat melonjak hingga Rp 7.300 per kilogram di Deli Serdang dan Serdang Bedagai, jauh di atas rata-rata nasional. Namun ironisnya, lonjakan harga ini tidak serta-merta membawa keuntungan bagi petani. “Biaya produksi juga meningkat, dan tidak semua petani mampu menjual langsung ke pasar dengan harga yang baik,” ungkap Rusdiana Adi, Direktur BITRA Indonesia.

Petani dampingan BITRA di Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Simalungun mengeluhkan penurunan hasil panen akibat kekeringan ekstrem dan terbatasnya akses irigasi. Di Simalungun, serangan hama tikus dan ketidakjelasan pembagian air kian memperburuk situasi. Banyak petani bahkan terpaksa beralih menanam jagung industri, bukan pangan pokok.

Menghadapi situasi kritis ini, BITRA Indonesia menggandeng para petani melalui Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pertanian Berkelanjutan. Kegiatan ini tak sekadar edukasi, tapi juga aksi nyata berbasis kearifan lokal. Petani diajak menerapkan sistem “lacak” dalam persemaian—metode tradisional yang dipercaya menghasilkan bibit padi lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim.

“Petani kini belajar membaca pola cuaca, menentukan jarak tanam sesuai iklim, dan mengembangkan pola pertanian organik yang ramah lingkungan,” kata Berliana Siregar, Manajer Program Community Development & Environment (CDE) BITRA Indonesia.

SLI yang dilaksanakan di Desa Kebun Kelapa, Kecamatan Secanggang, Langkat, melibatkan kerja sama antara BITRA, AOI, Dinas Pertanian, BMKG, Polbangtan Medan, serta Ir Soekirman, Duta Organik Asia. Demonstration Plot (Demplot) seluas 3.200 m² digunakan untuk membandingkan hasil panen antara sistem pertanian organik dan konvensional dengan varietas Mentik Susu dan Cibatu.

“SLI ini bukan hanya transfer ilmu, tapi proses membangun kesadaran baru—bahwa keberhasilan pertanian tak bisa hanya mengandalkan kebiasaan lama. Petani harus belajar dari alam dan bertindak cepat demi keberlanjutan pangan,” ujar Ir Soekirman.

Kondisi ini mendorong BITRA dan para petani untuk menyerukan percepatan pembangunan saluran irigasi, sumur bor, serta pompanisasi di daerah rawan kekeringan. Mereka juga menuntut kompensasi bagi petani yang gagal panen, serta kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, BPBD, dan lembaga masyarakat sipil dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.

“Ketika petani berdaya, desa pun berketahanan,” pungkas Rusdiana Adi.

(LP-01)

BAGIKAN KE :