NTT Darurat Human Trafficking, Romo Dipolisikan: PADMA Desak Ormas NTT Bersatu Cabut Laporan Demi Kemanusiaan

NTT, Liputan68.com Di tengah darurat kemanusiaan yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT), provinsi dengan angka tertinggi kasus perdagangan manusia (human trafficking) dan kejahatan seksual, satu suara lantang muncul dari Lembaga PADMA INDONESIA (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia).

Ketua Dewan Pembina PADMA, Gabriel Goa, mengecam langkah hukum yang diambil Ormas NTT Bersatu terhadap Romo Patris Allegro, dan menyebutnya sebagai tindakan yang berpotensi memecah persaudaraan lintas iman dan memicu konflik sosial.

“Di saat peti-peti jenazah terus berdatangan dari Malaysia, dan para tokoh lintas iman, Suster Lauren PI, Mama Pdt. Emi Sahertian, Ade Ratmi, Ibu Hajah, dan basodara lainnya berdoa dan menangis bersama keluarga korban tanpa memandang SARA, kami tidak pernah melihat kehadiran atau kepedulian nyata dari Ormas NTT Bersatu dalam momen-momen kemanusiaan itu,” ujar Gabriel dengan nada prihatin (3/8/2025).

Gabriel menekankan bahwa perjuangan para tokoh lintas agama tidak dibangun atas dasar identitas agama, suku, atau ras, tetapi atas dasar panggilan nurani terhadap penderitaan sesama manusia.

Korban perdagangan manusia dan kejahatan seksual di NTT adalah korban kejahatan kemanusiaan, bukan alat untuk pertikaian sektarian.

Tiga tuntutan tegas PADMA INDONESIA disampaikan sebagai berikut:

1. Cabut Laporan Polisi Terhadap Romo Patris Allegro. PADMA mendesak Ormas NTT Bersatu agar segera mencabut laporan polisi terhadap Romo Patris demi mencegah konflik sosial di bumi NTT yang selama ini dikenal sebagai “Nusa Terindah Toleransi”. Bila konflik terjadi akibat laporan tersebut, maka Ormas NTT Bersatu dinilai harus bertanggung jawab sebagai pemicunya.

2. Desakan kepada Kapolda NTT untuk Bertindak Bijak. PADMA meminta Kapolda NTT mengambil langkah hati-hati dan proporsional dalam menangani laporan terhadap Romo Patris. NTT tidak boleh menjadi ladang konflik seperti Ambon, Poso, dan Kalimantan, akibat ketidakpekaan penanganan isu sensitif berbasis SARA.

3. Ajakan Kolaborasi Lintas Iman dan Ormas Keagamaan. Gabriel Goa mengajak seluruh lembaga agama, OKP keagamaan, dan ormas lintas iman untuk terus bersatu dalam misi kemanusiaan: mengatasi stunting, memerangi human trafficking dan kejahatan seksual secara kolektif dan berkelanjutan, tanpa membeda-bedakan asal usul korban.

“Jika kita ingin damai, maka keadilan harus ditegakkan. Jangan permainkan hukum untuk melemahkan para pembela korban,” tegas Gabriel Goa mengutip moto perjuangannya: “If you want peace, work for justice.”***

BAGIKAN KE :