Menggandeng Desa, Menyulam Harapan: UNICEF & BPMP NTT Kick Off Program Anak Tidak Sekolah di Kupang

NTT, Liputan68.com -Suasana hangat terasa di Ballroom Hotel T-More, Rabu (27/8/2025). Para pemangku kepentingan dari pemerintah, organisasi internasional, hingga tokoh masyarakat duduk bersama dengan satu tekad: memastikan setiap anak di Kabupaten Kupang kembali mendapat haknya untuk bersekolah.

Kick Off Program Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) Berbasis Desa yang diinisiasi UNICEF bersama Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT ini menjadi langkah awal nyata.

Program tersebut dimulai di lima desa dengan angka ATS tertinggi, yakni Desa Manusak, Noelbaki, Oebelo, Sahraen, serta Kelurahan Naibonat.

Pendidikan Dimulai dari Desa

Kepala Perwakilan UNICEF NTT-NTB, Yudhistira Yewangoe, menegaskan bahwa program ini berangkat dari kebutuhan lokal.

“Program efektif itu dimulai dari bawah, dari masyarakat. Karena masyarakat yang paling tahu persoalan lingkungannya. Tugas kami adalah memberi kapasitas bagi desa untuk mengidentifikasi anak-anak yang tidak sekolah, kemudian mencari solusi lokal bersama pemerintah,” jelasnya.

UNICEF tidak datang sekadar memberi intervensi, tetapi mendampingi melalui pelatihan, diskusi kelompok, hingga monitoring di lapangan.

Program ini pun bukan kali pertama: sebelumnya sudah berjalan di Belu dan TTS, dan kini mulai diterapkan di Kabupaten Kupang.

Kolaborasi Jadi Kunci

Semangat gotong royong menjadi pesan utama. Ny. Vero J. Asadoma, istri Wakil Gubernur NTT sekaligus Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT dan Bunda PAUD, mengingatkan pentingnya kebersamaan:

“Kalau kita bekerja sendiri-sendiri, hasilnya kecil. Tapi kalau bergandengan tangan, sesuatu yang sulit akan jadi lebih mudah. UNICEF sudah menunjukkan niat baik, tapi tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, manfaatnya tidak akan terasa.”

Nada senada datang dari Agustin Martarina, Ketua Tim Wajib Belajar 13 Tahun BPMP NTT. Menurutnya, Kabupaten Kupang yang menempati urutan ketiga dengan jumlah ATS terbanyak di NTT memang butuh perhatian khusus.

“Kami wajib mengawal program wajib belajar agar benar-benar berjalan. Kolaborasi dengan lembaga lain, termasuk swasta, sangat penting,” ujarnya.

11 Ribu Anak Belum Sekolah

Data dari Bappeda Kabupaten Kupang menunjukkan ada lebih dari 11 ribu anak tidak sekolah.

Kepala Bappeda, Juhardi D. Selan, menekankan pentingnya verifikasi agar data ini akurat, apakah anak memang tidak pernah sekolah, putus sekolah, atau berhenti di tengah jalan.

“Bagi kami, masalah pendidikan adalah mimpi besar yang harus diselesaikan bersama. Ini multi aspek, multi dimensi. Jadi kuncinya tetap kolaborasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang, Eliazer Teuf, menyampaikan apresiasi mendalam.

“Intervensi UNICEF ini luar biasa. Angka ATS kita 11.588 anak, dan ini harus ditangani serius. Kami sudah menindaklanjuti dengan pendataan dan aksi nyata sesuai arahan Bupati,” jelasnya.

Suara Sejuk untuk NTT

Kepala Bidang Dikmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ayub Sanam, pernyataan penuh harapan:

“Anak-anak kita adalah aset terbesar NTT. Jika kita bersatu memastikan mereka bersekolah, kita sedang menanam benih masa depan yang lebih baik. Pendidikan bukan hanya soal angka, tapi soal martabat dan harapan.”

Dukungan juga datang dari akar rumput. Kepala Desa Noelbaki, Oktovianus, mengaku program ini memberi harapan besar bagi generasi muda.

“Ini menyangkut masa depan anak-anak kami. Sangat bermanfaat kalau kita bisa bersama-sama memastikan mereka tidak kehilangan kesempatan sekolah,” ujarnya.***

BAGIKAN KE :