NTT, Liputan68.com- Pada Jumat, 12 September 2025 menjadi hari istimewa bagi warga Desa Besmarak, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang.
Di bawah terik matahari, deretan kebun tomat berwarna merah menyala seolah jadi simbol keberhasilan program ketahanan pangan desa. Hari itu, warga bersama-sama memanen tomat untuk ketiga kalinya dari satu kali masa tanam.
Tak tanggung-tanggung, hasil panen kali ini mencapai 102 ember atau setara 612 kilogram tomat segar.
Jika ditotal sejak panen pertama pada 6 September (18 ember) dan panen kedua 9 September (76 ember), maka produksi tomat Desa Besmarak kian menjanjikan.
“Ini baru awal. Dari satu kali tanam bisa sampai 17 kali panen. Bayangkan potensi ekonominya bagi warga,” ujar Petrus Laazar Timate, Kepala Desa Besmarak, penuh optimisme.
Tomat sebagai Identitas Desa
Desa Besmarak kini dikenal sebagai desa tematik tomat. Hampir 15 hektare lahan ditanami tomat jenis Servo, varietas hibrida dari Cap Panah Merah yang terkenal tahan lama dan bernilai jual tinggi.
Program ini bukan hanya swadaya warga, melainkan hasil dukungan dana ketahanan pangan desa sebesar Rp184 juta.
Dana itu dimanfaatkan untuk pengadaan sumur bor, pipa irigasi tetes, bibit unggul, pupuk, hingga obat-obatan pertanian.
Semua diarahkan agar produksi tomat konsisten sekaligus mendukung kebijakan Presiden Prabowo yang mewajibkan 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan, sesuai Permendes terkait.
“Kami tidak memakai pola kelompok tani. Siapa saja warga yang punya lahan, langsung kami intervensi. Hasilnya bisa kita lihat sekarang: tomat merata di seluruh kebun,” jelas Petrus.
Dari Kebun ke Kemasan
Lebih jauh, Desa Besmarak tak hanya berhenti di produksi buah segar. Mereka sudah menjalankan program One Village One Product (OVOP) dengan mengolah tomat menjadi saus kemasan desa.
Produk lokal ini bahkan sudah dipasarkan melalui NTT Mart dengan merek yang mewakili identitas Besmarak.
Menurut Yustinus Hoba Ledjap, Pendamping Desa, langkah ini membuktikan bahwa desa mampu bergerak dari hulu ke hilir.
“Kita tidak hanya menjual hasil panen mentah, tapi juga menciptakan nilai tambah. Ini bentuk kemandirian ekonomi desa,” katanya.
Harapan Pemilik Lahan
Bagi para pemilik lahan, hasil panen ini jelas membawa harapan besar. Zakarias Nenobesi, salah satu pemilik lahan, mengaku sangat terbantu.
“Dengan harga tomat yang bisa tembus Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per kilo, bahkan kadang Rp20 ribu saat musim paceklik, kami bisa menambah pendapatan keluarga.”
“Apalagi dengan panen berulang, ekonomi rumah tangga terasa lebih ringan,” ujarnya sambil tersenyum melihat tomatnya dipetik.
Menatap Panen Selanjutnya
Panen ketiga ini hanyalah bagian dari perjalanan panjang. Dengan teknologi irigasi tetes yang memastikan air selalu tersedia, warga yakin 17 kali panen dari sekali tanam bukan sekadar target di atas kertas.
Desa Besmarak perlahan tumbuh sebagai contoh nyata bagaimana Dana Desa bisa mengubah wajah pertanian lokal. Dari tanah kering di Nekamese, kini lahir desa tomat yang menjanjikan masa depan ekonomi lebih cerah bagi warganya.***
