Hari kedua menggema lebih kuat dengan penampilan energik dari Feast, Hindia, K3BI, dan Last Child, disempurnakan oleh musisi lokal dan regional seperti Aresis, BhuRam Dan Rekanan, Bisugema, Cepupus, DJ Adhe Adrianus, DJ Heleyne, DJ Jhansen, Infinity Band, Lukes Project x Risal Maae x King Dae Panie, Rumput Tetangga, dan SVL.
Hari ketiga, yang menjadi puncak festival, ditutup menggelegar melalui penampilan Hipotday!, bersama Ayeline, BestiuA, DJ RRMX, DJ Whiskayuba, Faisal Resi, Heavy Line, Hendra feat. DJ Yosua Laiel, K24 Band, Party Creep, The Linkers, This is Gospel, Tiba Tiba Berkaroae, dan Veins of Betrayal.
Tim Hai Fest menyatakan bahwa musik menjadi medium efektif untuk menyampaikan pesan sosial secara lebih dekat dan emosional.
“Musik punya kekuatan besar. Kami mengapresiasi para musisi yang berani menyuarakan isu ini di panggung. Semoga semakin banyak anak muda sadar bahwa hiburan juga bisa menjadi ruang solidaritas.”
Perwakilan ICW menilai kolaborasi ini sebagai pendekatan kreatif untuk memperluas jangkauan advokasi.
“Transisi energi bukan hanya soal teknis, tetapi menyangkut hak hidup masyarakat. Keterlibatan musisi membuat pesan ini lebih mudah menjangkau publik luas.”
Selain kampanye panggung, Hai Fest dan ICW juga menghadirkan pameran edukatif, rangkaian informasi, dan sesi diskusi mengenai dampak sosial-lingkungan dari proyek geothermal di Flores.
Melalui kampanye lintas sektor ini, Hai Fest dan ICW bertujuan untuk:
Menguatkan suara masyarakat lokal yang terdampak proyek.
Mendorong transparansi dan partisipasi publik dalam pembangunan.
Mengajak anak muda peduli pada isu lingkungan dan kebijakan energi.
Membangun solidaritas nasional bagi warga NTT yang terancam kehilangan ruang hidup.
Dengan antusiasme besar yang tercipta pada penyelenggaraan tahun ini, Hai Fest kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu festival musik paling berpengaruh di Kupang, sekaligus platform yang mampu menjembatani hiburan, edukasi, dan aksi sosial dalam satu panggung yang sama.***
