Gestur kecil itu menjadi penanda, bahwa cinta bukan hanya milik rumah pribadi. Ia pantas dipupuk dan ditunjukkan, bahkan dalam ruang publik, selama tetap dalam batas kesantunan dan makna.
Di balik tugas sebagai pejabat daerah, Gagarin telah menghadirkan contoh bahwa Hari Ibu bukan sekadar seremonial, melainkan ruang refleksi tentang perempuan yang menjadi pilar keluarga, penopang kehidupan, serta sumber kekuatan penuh keikhlasan.
Di ujung acara, suasana tetap hangat. Namun jejak keharuan masih terasa. Setangkai mawar itu kini menjadi saksi bahwa cinta selalu menemukan bahasa, bahkan dalam peringatan resmi pemerintahan.
Karena pada akhirnya, Hari Ibu bukan hanya tentang memperingati sejarah. Ia tentang merawat cinta yang menghidupkan keluarga, masyarakat, hingga suatu daerah.(Red/yun)
