Sebelumnya ia dikenal “berteduh dibawah pohon beringin yang rindang” sebagai metafora rumah politiknya. Kini, Vespa biru menghadirkan spektrum baru bagi spekulasi publik.
Gagarin tampak menikmati perjalanan. Sesekali ia melambaikan tangan menyapa warga, sementara angin sore menyapu jaketnya yang sederhana. Tak ada pernyataan politik. Tak ada simbol formal.
Hanya sebuah Vespa tua, sebuah warna, dan tafsir yang tumbuh pelan-pelan.
Di sisi jalan, seorang warga yang menonton iring-iringan berbisik, “Mungkin ada cerita di balik pilihan tunggangannya.”
Dalam dunia politik, bahasa simbol memang kerap lebih nyaring daripada pidato. Dan sore itu di Pacitan, Vespa biru menjadi percakapan baru, sebuah isyarat yang belum selesai dibaca.(Red/yun).
