Prinsip itu ia bawa ke ruang-ruang politik, menjadikannya pemimpin yang tegas tanpa kehilangan rasa, kuat tanpa mengabaikan empati.
Di tengah masyarakat, ASB tak datang sebagai penguasa. Ia hadir sebagai sesama, menyapa, mendengar, dan berbagi beban. Jiwa sosialnya mengalir alami, seolah setiap langkahnya adalah perpanjangan dari sumpah pendekar, melindungi, bukan menguasai.
Bagi ASB, pencak silat adalah doa yang bergerak. “Politik adalah ladang pengabdian. Dan hidup, pada akhirnya, adalah tentang menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara ketegasan dan welas asih,” jelas ASB.
Di Pacitan, ia dikenal sebagai pimpinan tertinggi DPRD. Namun jauh sebelum itu, ia telah lebih dulu belajar menjadi manusia.(Red/yun).
