Merawat Tradisi, Menyambut Ramadhan: Gugur Gunung Pacitan dalam Perspektif Sosial Budaya dan Islam Menurut KH. Mahmud

Pacitan,Liputan 68.com- Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, masyarakat Pacitan kembali menghidupkan sebuah tradisi lama yang sarat makna, yakni Gugur Gunung. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih makam dan lingkungan, melainkan juga simbol kuat gotong royong, kebersamaan, dan persiapan batin umat Islam dalam menyambut bulan penuh ampunan.

Gugur Gunung biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah atau Sya’ban. Seluruh lapisan masyarakat, dari tokoh agama, pemuda, hingga orang tua, turun bersama membawa peralatan seadanya. Mereka membersihkan makam para leluhur, merapikan lingkungan sekitar, serta diakhiri dengan doa bersama.

Dalam kacamata sosial budaya, Gugur Gunung mencerminkan nilai luhur masyarakat Jawa, beban berat akan terasa ringan jika dikerjakan bersama. “Tradisi ini mempererat ikatan sosial, menghapus sekat status sosial, dan menumbuhkan kembali semangat kebersamaan yang kini mulai tergerus oleh individualisme,” ujar pendakwah kondang di Pacitan, KH. Mahmud, Ahad (25/1/2026).

Secara edukatif, lanjut KH Mahmud, Gugur Gunung menjadi ruang pembelajaran langsung bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja tidak hanya belajar tentang kerja sama, tetapi juga tentang menghormati leluhur, menjaga lingkungan, serta memahami pentingnya tradisi sebagai identitas budaya.

Lebih jauh, kyai yang juga menjabat sebagai Inspektur, Inspektorat Pacitan tersebut mengatakan, tradisi ini mengajarkan bahwa ibadah tidak selalu berdimensi ritual personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial. “Membersihkan makam dan fasilitas umum merupakan bentuk kepedulian sosial yang sejalan dengan ajaran Islam tentang kebersihan dan tanggung jawab kolektif,” jelasnya.

BAGIKAN KE :