Untuk negara pasti menggunakan lukisan ingkang panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja ‘suatu negara yang terbentang luas lautan dan pegunungannya, ramai pelabuhan dan perdagangannya, murah sandang pangan, subur makmur tertib tentram damai jauh dari laku kejahatan’. Tidak ada dalang menceritakan keburukan atau cacat suatu negara. Jadi imajinasi orang desa terhadap lembaga negara akan selalu indah, makmur, dan serba membahagiakan.
Sedangkan lukisan yang menunjukkan kewibawaan, keagungan, dan kebijaksanaan raja diceritaka. Narendara ingkang kinasih dewa, kinawula ing widadari, cinedhak ing brahmana, lan kinacek sesamaning narendra.
Narendra guna ing aguna tan ngendhak gunaning janma, paring payung kang kudanan, paring teken kang kelunyon, paring obor kang kepetengan ‘Raja yang dikasihi para dewa, diperhamba bidadari, dekat dengan ulama, dan disegani sesama raja. Raja yang menguasai pengetahuan luas namun tak merendahkan pengetahuan orang lain, memberi payung siapa yang kehujanan, memberi tongkat orang yang kelicinan, memberi pelita orang yang kegelapan.
Di situ kepala negara atau raja dilukiskan sebagai orang yang adil berwibawa, murah hati pada rakyat dan dicintai para ulama. Oleh karena itu imajinasi orang desa terhadap pemegang kapemimpinan adalah mengayomi.
B. Kagungan Konsep Narendra Ber Budi Bawa Laksana.
Masyarakat Jawa amat menghayati konsep kepemimpinan tradisional. Orang desa sangat menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat lembaga yang namanya negara. Loyalitas orang desa terhadap hukum dan pemerintah atau negara sebagaimana tercermin dalam idiom formal mereka. Desa mawa cara negara mawa tata. Desa dengan adat istiadat, negara dengan undang- undang.
Asal demi negara, apapun yang dimiliki bila diminta akan diserahkan. Meskipun secara material mereka sering dirugikan, namun rasa ruginya itu akan terobati oleh ungkapan kagem negara. Setia pada pemerintah atau pamong praja akan mendatangkan berkah karena pemerintah dianggab sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam memelihara dan mengupayakan tatanan sosial yang gemah ripah loh jinawi karta raharja.
Loyalitas pada negara dalam pewayangan terdapat pada lakon Sumantri Ngenger. Di situ tokoh Sumantri, seorang anak desa ingin mengabdikan diri kepada kerajaan Maespati yang diperintah oleh Prabu Arjuna Sasrabahu. Kesetiaan dan keteladanan Sumantri pada negara dilukiskan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Tripama. Salah satu petikan syairnya. Aran Patih Suwanda, lelabuhanipun, kang ginelung tripakara, guna kaya purune antepi, nuhoni trah utama. Namanya Patih Suwanda atau Sumantri, jasanya terikat tiga hal. Kepandaian, kesaktian dan semangat mantab memenuhi keturunan utama.
Nilai kesetiaan yang tinggi terhadap negara itu kadang -kadang membuat seseorang harus menentukan keputusan yang kontroversial. Hal yang cukup dilematis ini juga dialami oleh Sumantri sewaktu dia dihadapkan pada dua pilihan: mengabdi negara atau mengorbankan adiknya, Sukasarana. Keputusan Sumantri ternyata lebih berpihak kepada kepentingan negara meskipun harus kehilangan adiknya. Lakon Sumantri Ngenger tersebut mempengaruhi jalan pikiran sebagian besar orang desa bahwa urusan negara lebih utama daripada sekedar kepentingan keluarga.
Ber budi berarti seorang pemimpin harus bertindak ber budi bawa leksana. Maksud ungkapan ber budi adalah sikap seorang pemimpin yang murah hati, suka memberi ganjaran, berdana ria dan selalu memikirkan kesejahteraan bawahan dan rakyatnya.
Ungkapan ber budi maknanya asring paring dana. Tindak kongkritnya yaitu anggeganjar saben dina yang bermakna seorang pemimpin yang pemurah, kreatif, inovatif serta memiliki kepribadian agung.
Lire kang bawa leksana anetepi pangandika adalah suatu ungkapan yang penuh dengan prinsip luhur yang perlu dipraktikkan para pemimpin.
Dalam kancah Sejarah Nasional boleh diambil contoh kepemimpinan raja besar yang sukses gemilang. Misalnya Prabu Hayam Wuruk yang memerintah kerajaan Majapahit pada tahun 1350 – 1386. Beliau memerintah dengan dibantu oleh Patih Gajahmada dengan sumpah Palapa.
Kejayaan kerajaan Majapahit tentu memberi inspirasi bagi pasangan Mas Gibran Rakabuming Raka dan Mbak Selvi Ananda Putri. Benar juga kehadiran Jan Ethes Srinarendra cukup memberi warna bagi Pak Jokowi dan Bu Iriana. Kemana- mana Jan Ethes menemani Pak Jokowi dan Bu Iriana. Seolah-olah tugas berat menjadi ringan. Rasa lelah hilang seketika. Gerak-gerik Jan Ethes merupakan obat yang cespleng.
Sejak kecil Jan Ethes Srinarendra tampak sering bersama Pak Jokowi. Gendongan Pak Jokowi dan pangkuan Bu Iriana begitu hangat, mesra, sayang, kasih. Seorang kakek nenek pada cucu berhubungan secara alami. Orang yang melihat merasakan sebuah pandangan yang betul- betul asri anglam lami.
Pagelaran wayang purwa bisa memberi deskripsi hubungan kakek dengan cucu. Seperti Begawan Abiyasa kedatangan Raden Abimanyu di Pertapan Saptaharga. Raden Abimanyu bersama repat panakawan. Semar Gareng Petruk Bagong. Sowan ke Pertapan Saptaharga atau Wukir Retawu bertujuan untuk minta bimbingan spiritual.
Begawan Abiyasa pernah menjadi raja besar di kerajaan Astina. Pengalaman Abiyasa memerintah negeri Astina ditularkan kepada Abimanyu. Kelak Abimanyu tampil sebagai pemimpin bangsa yang handal, profesional, bermoral. Harapan ini berlaku pula buat sang cucu, Jan Ethes Srinarendra. Kehebatan Pak Jokowi bisa diwariskan kepada putra wayah.
Raja Dwarawati Prabu Kresna juga idola bagi orang Jawa. Seni Pakeliran mengisahkan Prabu Kresna sebagai narendra oboring jagad raya. Karena pintar, cedik, bijaksana, banyak akal. Bahkan Prabu Baladewa sebagai kakak yang lebih tua merasa kalah pamor. Apa kata Kresna, Baladewa menurut saja, mbangun turut.
Para Pandawa menjadikan Prabu Kresna sebagai botoh atau penasihat utama. Jan Ethes Srinarendra digarap mengarah kepada kebijaksanaan Prabu Kresna yang masyhur, kondang kalokengrat.
Ngungak jamankawuri. Sejarah nasional mengenal Prabu Jayabaya raja Kediri. Ramalan raja Kediri menjadi referensi bagi kalangan kasepuhan Jawa. Mereka membaca tanda – tanda jaman. Prabu Jayabaya membagi jaman Kertayuga, Duparayuga, Kaliyuga dan Kalisengara. Pada jaman Kalisengara ini masyarakat disuruh untuk eling lan waspada.
Uwur sembur tutur. Pak Jokowi dan Bu Iriana selaku orang tua memberi wejangan luhur. Nasihat ini ditujukan kepada Mas Gibran Rakabuming Raka, Mbak Selvi Ananda, Mas Bobby Nasution, Mbak Kahiyang Ayu dan Mas Kaesang Pengarep. Sambil momong Jan Ethes Srinarendra, keluarga Pak Jokowi, Bu Iriana berusaha untuk menggali kearifan lokal. Urip kudu darma bekti, gemi nastiti, ngati- ati.
Sambang sawang sambung srawung tulung tinulung diterapkan dalam menjalin paseduluran. Sejak dini Jan Ethes Srinarendra diajari untuk hidup guyub rukun. Hormat kepada yang lebih tua, kasih kepada yang lebih muda. Tata krama, unggah-ungguh, sopan santun, diberikan sejak dini sebagai sarana pergaulan.
Masa kecil yang bahagia. Jan Ethes Srinarendra tumbuh wajar, segar, bugar. Kini punya adik yang bernama La Lembah Manah. Lahir pada tanggal 15 November 2019. Pelan-pelan Jan Ethes Srinarendra belajar untuk bisa momong sang adik. Dengan hati yang sumringah Jan Ethes Srinarendra ngliling La Lembah Manah dengan wajah sumringah.
Wayah kinasih Pak Jokowi Bu Iriana berjumlah empat orang. Yaitu Jan Ethes Srinarendra, La Lembah Manah, Sedah Mirah Nasution, Panembahan Al Nahyan Nasution. Mereka membuat dunia semakin berseri-seri. Jagad turut mangayu bagya ayem tentrem.
(M-01)
