Pak Jokowi Dan Pancaran Jatidiri Nasional

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Kearifan Lokal Sebagai Mata Air Kebajikan.

Butir butir kearifan lokal diyakini Pak Jokowi sebagai sarana untuk memperkokoh jatidiri nasional. Ragamnya adat Istiadat bangsa dari segala penjuru nusantara menawarkan kebaikan yang berlimpah ruah.

Perjalanan sejarah bangsa membuktikan bahwa nenek moyang selalu kreatif dalam melakukan kreasi budaya. Datangnya datangnya unsur manca negara diolah menjadi barang baru yang lebih mempesona. Misalnya konsep tentang kama arta darma muksa.

Konsep kama merupakan tahap awal ajaran yang dipengaruhi Hinduisme. Dalam agama Budha dikenal adanya konsep kamadhatu. Agama Islam mengajarkan syariat. Dalam konsepsi Kejawen dikenal dengan istilah sembah raga.

Penggunaan konsepsi spiritual ini diperlukan kecerdasan. Seorang pemimpin harus memahami konsep kama. Istilah kama berkaitan dengan dunia kesenangan atau kenikmatan. Arti leksikal kama adalah sperma. Kamasalah adalah nama kecil Batara Kala yang berarti sperma yang salah alamat.

Cerita pedalangan kerap menampilkan lakon murwakala. Orang yang suka bermain sperma akan menimbulkan Batara Kala berserakan yang merusak harmoni kehidupan.

Dalam kehidupan sehari- hari hal tersebut mudah diketemukan dalam dunia anak-anak. Sifat kekanak -kanakan biasanya egois, mau menang sendiri, permintaan harus dikabulkan melebihi keinginnan raja. Kalau diingatkan dia akan menangis. Bila perlu dengan mengamuk segala rupa agar diperhatikan kehendak dan keinginannya.

Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Kata kata magis ini dihayati benar oleh leluhur Pak Jokowi. Orang yang terjangkit sifat kama atau kekanak- kanakan itu hidupnya ingin selalu bersenang-senang terus, tak mau susah dan melimpahkan penderitaan pada orang lain dengan tega. Inilah gunanya pendewasaan diri, kanthi nggegulang batin.

Ayo kadang tumandang, angleluri budaya, karana arum kuncara sanyata, wis dadi sarana, mrih manunggaling bangsa, saben warga ing sanuswantara.

Rerepen itu senggakan gendhing srepeg nem laras slendro pathet nem. Lelagon ini mengandung ajaran menejemen berbasis budaya. Adanya akulturasi budaya merupakan usaha untuk mewujudkan harmoni.

Unsur berbagai ajaran disajikan lebih elok. Seorang pemimpin harus memahami konsep arta. Arta atau harta berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti alat. Harta dapat bermakna sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan. Apapun bentuknya arta atau harta tetaplah hanya alat, bukan suatu tujuan. Ada istilah arta daya.

Gegarane wong akrami, dudu bandha dudu rupa, amung ati pawitane. Kutipan ini mengajarkan keutamaan batiniah. Bagi mereka yang sudah menikah diharapkan bekerja dengan tekun agar tercukupi kebutuhannya. Kebutuhan terpenuhi dengan harta. Anak istri yang tercukupi secara materiil menunjukkan sikap tanggung jawab kepala rumah tangga.

Sandhang pangan papan tercukupi menjadi sumber energi. Kehormatan dan kebahagiaan keluarga akan terjaga bila ekonominya tidak morat -marit. Silang sengketa antara suami istri sering terjadi hanya karena kekurangan harta dan mudah sekali kemarahan tersulut. Perlu cermat dalam berbelanja, gemi nastiti ngati ati.

Lingkungan Surakarta asal usul Pak Jokowi amat peduli dengan kebudayaan. Bahkan Surakarta menjadi sumber pengembangan budaya. Misalnya pesan dalam lelagon. Sluku sluku bathok, bathoke ela elo, si rama menyang Sala, leh olehe payung mutha, mak jenthit lolobah, wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip goleka dhuwit.

Nama orang yang memakai kata dasar darma amat banyak. Contoh Darmono, Sudarmo, Sudarmono, Darmodiharjo. Kata ini mengandung makna. Seorang pemimpin harus memahami konsep darma. Istilah darma sudah sangat akrab dengan telinga kita. Misalnya kata darma melekat pada darma bakti, darma pertiwi, darma wanita, dan sebagainya. Darma bakti bagi ibu pertiwi.

Kata darma lebih mengacu pada kerja sosial dan nilai perjuangan demi orang banyak. Jarwa mudha, mudhane sang Prabu Kresna. Mumpung anom, ngudi sarananing praja.

Melalui siaran RRI Surakarta, Pak Jokowi sering mendengarkan alunan wangsalan yang mengandung nilai patriotisme. Setelah orang tercukupi kebutuhan ekonominya, dianjurkan agar mau bekerja untuk sosial. Bila istri sudah bahagia, anak -anak telah jadi orang, dan hidup mencapai kemapanan, sebisa- bisanya orang mengamalkan diri dan hartanya untuk kegiatan sosial non profit. Tuna satak bathi sanak.

Jarwa nendra, narendra yaksa Alengka. Rukun Tresna, dadi srana njunjung praja. Perhatian kepada dunia materi pelan- pelan harus dikurangi dan meningkatkan darma.

Wangsalan merupakan sumber kearifan lokal yang bernilai edi peni. Orang yang banyak darma yang dilakukannya bagi orang banyak, meskipun sudah mati, namanya tetap harum dan pantas dikenang. Orang akan menghormati jasa- jasanya sebagaimana pepatah: harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Jarweng jalma, jalma kang koncatan jiwa. Wong perwira, mati alabuh negara.

Pada usia senja, maut hampir menjemput, orang harus mawas diri. Segala rupa yang menjerat diri seperti harta dan pesona duniawi harus ditinggalkan. Pikiran dan perasaan harus dikerahkan pada alam kelanggengan dan bekal kelak hidup di alam akhirat, supaya akhir hidupnya benar- benar muksa atau khusnul khatimah. Emating pati patitis.

Etika dijunjung Pak Jokowi berdasar ajaran para leluhur. Persaingan duniawi yang berujung pada konflik dan kekerasan lebih baik dijauhi. Lengser keprabon madeg pandhita melepas tahta menjadi pendeta. Kesibukannya adalah ibadah dan mendidik anak muda menjadi insan yang tangguh di kemudian hari, suatu pengalaman yang diwariskan pada generasi di bawahnya.

Pemikiran kama arta darma muksa sepadan dengan ajaran kamadhatu rupadhatu, arupadhatu, nirwana. Muncul istilah syariat tarikat hahikat makrifat. Pujangga Surakarta menyebut dengan sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa.

BAGIKAN KE :