MEDAN – LIPUTAN68.com – Semasa pemerintahan kerajaan Hayam Wuruk Majapahit mencapai puncak kejayaan, namun sekaligus merupakan ambang dari keruntuhannya.
Pertanda pertama mengenai akan runtuhnya kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden wijaya tersebut setelah adanya perang Bubat antara pasukan Sunda dibawah kepemimpinan prabu Maharaja Linggabuana Wisesa melawan pasukan Majapahit dibawah pimpinan Patih Amengkubumi Gajahmada.
Diketahui bahwa perang Bubat terjadi akibat perselisihan antara Patih Gajahmada dari kerajaan Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dari kerajaan Sunda di desa Pelabuhan Bubat.
Hingga dari perang tersebut mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan pasukan Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa termasuk Dyah Pitaloka Citraresmi.
Sumber yang bisa digunakan sebagai referensi mengenai perang Bubat adalah serat Pararaton, Kidung Sunda, dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.
Dalam serat Pararaton dikisahkan peristiwa perang Bubat terjadi pada tahun Saka 1279 atau 1357 M semasa pemerintahan Hayam Wuruk. Pada masa itu, ambisi Patih Gajahmada untuk menaklukan wilayah-wilayah di seluruh Nusantara yang bermula dari Tumasik, Tanjung Pura, Bali, Dompo, Singa Serang mencapai keberhasilannya.
Meskipun demikian terdapat dua kerajaan yaitu kerajaan Sunda dan kerajaan Padjajaran yang belum tunduk pada Majapahit. Kerajaan Sunda pada waktu itu dipimpin oleh seorang Raja bernama Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa.
Pandangan Patih Gajahmada yang ingin segera menyatukan kerajaan Sunda ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit bertentangan dengan pandangan dari pihak istana, baik ibu suri Tribhuwana Tunggadewi maupun Dyah Wiyat yang menilai bahwa kerajaan Sunda adalah kerabat sendiri.
Sementara sikap dari Hayam Wuruk terlihat lebih condong kepada pandangan dari Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat ketimbang pandangan dari Patih Gajahmada.
Kisah perang Bubat bermula dari hasrat Hayam Wuruk yang ingin menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi.
Ketika melamar Dyah Pitaloka Citraresmi dari Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa, Patih Gajahmada menjadi utusan dari Hayam Wuruk.
Lamaran dari Patih Gajahmada tersebut diterima oleh Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa, karena Patih Gajahmada masih berhasrat menundukkan kerajaan Sunda dengan cara halus.
Patih Gajamada meminta kepada Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa agar pernikahan dari Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka Citraresmi dilaksanakan di Majapahit dan bukanlah di kerajaan Sunda.
Awalnya Prabu Maharaja Linggabuana menolak permintaan dari Patih Gajahmada, namun demi menyambung tahta tali persaudaraan antara kerajaan Sunda dengan Majapahit yang sudah lama terputus, Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa pun menerima permintaan Patih Gajahmada.
Pada waktu yang telah diputuskan, Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa beserta permaisuri dan beberapa bangsawan istana kerajaan Sunda berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan Dyah Pitaloka Citraresmi dan sekaligus melangsungkan pesta pernikahan di Majapahit.
Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi perjalanan dari Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa menuju Majapahit. Perjalanan jauh yang mereka tempuh dari Galuh menuju ibu kota dari Majapahit yang berada di Trowulan.
Ratusan rakyat mengantar sang putri Dyah Pitaloka Citraresmi beserta Raja dan punggawa menuju pantai.
Sesampainya di pantai mereka menyaksikan lautan berwarna merah darah yang melambangkan bahwa rombongan tersebut tidak akan kembali lagi ke negeri kelahirannya. Namun perlambang itu tidak dihiraukan oleh Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dan rombongannya.
Berdasarkan catatan sejarah Padjajaran yang ditulis oleh Saleh Danasasmita dan naskah perang Bubat yang ditulis oleh Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan tersebut guna mempererat tali persaudaraan antara Majapahit dengan kerajaan Sunda.
Mengingat Raden Wijaya yang menjadi pendiri dari kerajaan Majapahit dianggap sebagai keturunan rakyat Jayadarma Raja Sunda. Hal tersebut juga tercatat pada pustaka Raja-raja di Bumi Nusantara parwwa kedua sargah ketiga.
Setelah rombongan dari kerajaan Sunda sampai di Pesanggrahan Bubat, datanglah utusan yang menyampaikan maksud dari Patih Gajahmada agar Dyah Pitaloka Citraresmi diserahkan ke kerajaan Majapahit sebagai tanda takluknya kerajaan Sunda terhadap kerajaan Majapahit.
