Sejarah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Pantai utara pulau Jawa dikelola raja Airlangga dengan prinsip menejemen maritim. Pesisir utara yang meliputi daerah Gresik, Lamongan, Tuban, dan Semarang jelas cocok untuk kehidupan nelayan. Oleh karena itu kerajaan Kahuripan membangun pelabuhan.

Pelayaran pun jadi lancar. Perahu perahu mengangkut kerajinan ukir ukiran Jepara. Pabrik trasi dibangun di Lasem Rembang. Hasil nelayan meningkat. Perdagangan mendatangkan keuntungan. Devisa negara pun surplus. Kehidupan rakyat Kahuripan jelas subur makmur.

Pusat pemerintahan berada di kota Surabaya. Kerajaan Kahuripan menata birokrasi yang efektif efisien. Sistem pemerintahan diisi oleh orang yang punya kapabilitas dan integritas. Pelayaran umum berjalan lancar rakyat puas. Mereka bekerja tenang.

Semua warga kerajaan aktif, kreatif dan inovatif. Produksi barang dan jasa maju sekali. Pelabuhan Tanjung Perak dan Tanjung Emas ramai sekali. Lalulintas tak ada hambatan. Birokrasi kerajaan Kahuripan yang berlokasi di Surabaya tampil bersih dan berwibawa.

Sekses gemilang raja Airlangga dalam pembangunan Surabaya juga berdampak pada kreasi kebudayaan. Empu Kanwa diberi tugas untuk menyusun kitab Kakawin Arjuna Wiwaha. Kisah Kakawin ini legendaris. Para pengelola pelabuhan Tanjung Perak amat baik membaca literatur klasik.

Tahun 1760 kitab ini direka ulang Sinuwun Paku Buwono lll, raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Pada tahun 1966 diteliti oleh Subalinata dalam bentuk skripsi. Dr Kunthara Wiryamatana, dosen fakultas Sastra UGM membahas karya jaman Airlangga. Disertasi ini menunjukkan kerajaan Kahuripan sebagai contoh pengembang kebudayaan yang agung dan anggun. Surabaya mewarisi peradaban yang utuh, sepuh dan tangguh.

Jual beli yang melibatkan lalu lintas barang menjadi faktor dominan bagi perkembanganekonomi sebuah negara. Kehadiran pelabuhan Tanjung Perak sungguh membantubagi terwujudnya kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu para pengelola pelabuhan dibekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup.

C. Pewaris Nilai Agung bagi Kepemimpinan Kota Surabaya

Kerajaan Majapahit yang berdiri sejak tahun 1292 menjadikan pelabuhan Tanjung Perak sebagai garda depan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Raden Wijaya seorang pemimpin yang amat paham terhadap seluk beluk bisnis, politik, ekonomi, budaya, sosial dan hukum. Pengelolaan pelabuhan Tanjung Perak berlangsung dengan penuh dinamis dan kreatif.

Peran strategis kota Surabaya dimainkan oleh Raden Wijaya tahun 1293. Konsolidasi awal kerajaan Majapahit melibatkan Arya Wiraraja, tokoh penting masyarakat Madura. Dari Surabaya inilah kerajaan Majapahit akhirnya berdiri sebagai negara yang besar dan jaya. Bahkan mendapat predikat sebagai kerajaan nasional.

Tokoh Surabaya dalam bidang spiritual juga perlu dikemukakan. Kanjeng Sunan Ampel adalah Wali Sanga yang berdomisili di kota Surabaya. Dulu menjadi pengasuh utama Raden Patah, raja Kasultanan Demak Bintara. Bersama dengan Kanjeng Sunan Bonang pada tahun 1478 Kasultanan Demak Bintoro berdiri sebagai kerajaan Islam di Tanah Jawa.

Tak ketinggalan istri Sunan Ampel, yaitu Nyi Ageng Maloka adalah wanita Sholehah yang turut mendidik Raden Patah yang bergelar Sultan Syah Alam Akbar Patah Jimbun Sirullah.

Semangat dakwah Islamiyah yang dipelopori Sunan Ampel dan Nyi Ageng Maloka pada tahun 1482 itu merupakan sebuah keteladanan. Syiar Islam menggunakan pendekatan budaya. Arab digarap, Jawa digawa. Hasilnya adalah keselarasan sosial. Pelopor keagamaan kota Surabaya ini berpegang teguh ajaran Rahmatan Lil Alamin.

Kraton Demak Bintara menggantikan posisi kerajaan Majapahit. pengelolaan pelabuhan Tanjung perak semakin maju. Perdagangan malah semakin meluas sebanyak pedagang dan gujarat dari timur tengah yang menggunakan jasa dari pengelola pelabuhan Tanjung Perak.

Prestasi gemilang pemimpin Surabaya yang pantas dicatat dengan emas adalah Adipati Pangeran Pekik. Bupati Surabaya ini menikah dengan Ratu Wandansari, putri Prabu Hadi Hanyokrowati Khalifatullah Panetep Panotogomo yang menjadi raja Mataram. Ratu Wandansari juga adik kandung Kanjeng Sultan Agung. Dari pernikahan ini lahir Kanjeng Ratu Kencono. Beliau ibunda Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral.

Pangeran Pekik dan Ratu Wandansari mendidik sang cucu, Raden Rahmat. Kelak Raden Rahmat pada tahun 1677 dinobatkan menjadi raja Mataram dengan gelar Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral. Saat itulah Pangeran Pekik menjadi arsitek perpindahan ibukota Mataram dari Plered ke Kartasura.

Perpindahan ibukota Mataram ke Kartasura itu ditangani oleh ahli dari Makasar, Madura dan Surabaya. Pangeran Pekik menyokong dana besar-besaran. Arsitektur utama diserahkan kepada putra Surabaya yang bernama Sawungggaling. Beliau tokoh kenamaan Surabaya yang amat disegani.

Selama tenggang waktu tahun 1677-1708 sesungguhnya kebijakan kerajaan Mataram sangat dipengaruhi pakar dari Surabaya. Wajar sekali karena Bupati Surabaya, Pangeran Pekik adalah perancang sekaligus sponsor utama pembangunan ibukota Mataram Kartasura.

Donatur utama perjuangan Untung Surapati berkaitan erat dengan Pangeran Pekik. Sebelum menjadi Bupati Pasuruan dengan gelar Tumenggung wiranegara tahun 1684, Untung Surapati bermukim di Surabaya. Memang dia anak buah Pangeran Pekik. Maka hubungan dengan Sri Susuhunan Amangkurat Amral terlalu dekat. Jaringan kerja yang tersusun rapi.

Pelabuhan Tanjung Perak sangat maju pada masa pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral 1677- 1703. Raja Mataram ini memang asli arek Suroboyo. Barang, jasa, produk kerajaan Mataram banyak yang disalurkan lewat pelabuhan Tanjung Perak. Bahkan pelabuhan Tanjung Perak memiliki kantor cabang di kota Kartasura.

Kerjasama dengan para penguasa surabaya dilakukan dengan sangat baik oleh pengelola pelabuhan Tanjung Perak. Pewaris nilai agung pernah diberi kesempatan untuk memimpin Surabaya. Mereka adalah orang yang sangat terhormat dalam lintasan sejarah peradaban.

1. Radjamin Nasution 1945
2. Soerjadi, 1945-1950
3. Doel Arnowo, 1950-1952
4. Moestadjab Soemowidagdo, 1952-1956
5. Istadjab Tjokrokoesoemo, 1956-1958
6. R. Satrijo Sastrodiredjo, 1958-1963
7. Moerachman, 1963-1965
8. Raden Soekotjo, 1965-1974
9. Raden Soeparno, 1974-1979
10. Moehadji Widjaja, 1979-1989
11. Poernomo Kasidi, 1989-1994
12. 10. Soenarto Soemoprawiro, 1994-2002
13. Bambang Dwi Hartono, 2002-2010
14. Tri Rismaharini, 2010-2020

Para pemimpin Surabaya itu selalu memancarkan kawidadan kawibawan kamulyan dan karaharjan. Nilai kepahlawanan menjadi inspirasi untuk mengabdi.

Surabaya Kota Pahlawan

Surabaya kuthane Jawa Timur. Tlatahe katelah dadi kutha pahlawan. Sura wani baya pakewuh cethane. Dadi pawitan revolusi bangsane.

Sepuluh Nopember patang puluh lima. Cilaka dur angkara. Digempur lebur luluh.

Pranyata gedhe kaprawirane. Pra mudha kasudirane arek Surabaya. Sura wani baya pakewuh cethane. Dadi pawitan revolusi bangsane.

Singasari Majapahit nyata agung. Pangajab dadya tepa palupi ing ngaluhur.
Mbata rubuh surake, tur gumuruh swarane. Pambarisan pahlawan Surabaya.

Semangat arek Surabaya juga berpengaruh pada etos kerja pengelola pelabuhan Tanjung Perak. Berjuang untuk kemajuan negeri.

Rek Ayo Rek

Rek ayo rek mlaku-mlaku neng Tunjungan
Rek ayo rek rame-rame bebarengan
Cak ayo cak sapa gelem melu aku
Cak ayo cak golek kenalan cah ayu

Ngalor ngidul liwat toko ngumbah mata
Masi ngomong nyenggal-nyenggol dadi lega
Sapa ngerti nasib awak lagi mujur
Kenal anake sing dodol rujak cingur

Jok dipikir masiya ra duwe sangu
Jok dipikir angger padha gelem mlaku
Mangan tahu jo dicampur karo limun
Malem minggu gak apik dienggo nglamun

Lagu ini terkenal di wilayah Tanjung Perak Surabaya Jawa Timur. Dialek khas Surabaya memang terkenal sebagai bahasa yang lugas dan terbuka. Namun tampak dekat dan akrab serta segar bila didengar. Saat merantau ke Surabaya sering menyanyi lagu Ayo Rek. Lantas ingat para perantau. Mereka barisan urbanisasi arek Surabaya. Semoga berhasil memperbaiki nasib.

Surabaya Ngumandhang

Ngumandhang kutha Surabaya
Aduh jan dhuwur tugu pahlawan
Pembangunan sengkut sesawangan runtut,
Endah tur piguna jalan raya mayangkara
Kagunan gardhu kang wus kajegub
Wonokromo kebun binatange
E tobil pepak isen-isene
Tegakna kumandhang ngumandhang ing Surabaya

Kemajuan pelabuhan Tanjung Perak sudah terbukti dalam rentetan sejarah. Lelagon di atas memberi warna bahwa kota Surabaya sebagai pusat pemerintahan dan bisnis selalu berjalan dengan dinamis. Warga dari segala lapisan masyarakat bekerja di kota Surabaya dengan aman dan nyaman.

Kenangan manis pelabuhan Tanjung Perak terjadi pada tahun 1788. Saat itu pelabuhan Tanjung Perak mendapat tenaga trampil dari Raden Ajeng Sukaptinah, putri Bupati Pamekasan Madura. Sebagai komisaris pelabuhan Tanjung Perak Raden Ajeng Sukaptinah sangat mumpuni dalam manajemen pelayaran.

Kelak Raden Ajeng Sukaptinah menjadi garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana IV raja Kraton Surakarta Hadiningrat. Dengan gelar Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Pelabuhan Tanjung Perak dalam perjalanan historis memiliki kenangan manis.

(LM-01)

BAGIKAN KE :