Sejarah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Oleh: Dr Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp. 087864404347)

A. Berdirinya Pelabuhan Tanjung Perak

Terkenalnya pelabuhan Tanjung Perak Surabaya didukung oleh lagu yang atraktif dan kreatif. Lagu ini berjudul Tanjung Perak. Kerap dikumandangkan lewat siaran radio. Juga dalam pementasan wayang kulit dan ludruk suka melantunkan lelagon Tanjung Perak. Terlebih-lebih lagu Tanjung Perak ini mengandung unsur informatif dan suasana rekreatif.

Tanjung Perak

Thit thit thuwit dhar
Damar mati muliha
Siti lenga pasar sapi mati semar mendem
Dho remi mi fa sol jenang dodol geyal geyol
Mi re mire tahu tempe enak rasane

Waktu terang bulan, udara bersinar terang
Teranglah sekali di kotalah Surabaya
Belum brapa lama saya duduk dengan bimbang
Datang kawan saya, Mas Bambang itu namanya
Ayo rame-rame dayang kota Tanjung Perak
Panggil satu taksi kita soraklah bersorak, taksi

Tanjung Perak tepi laut
Siapa suka boleh ikut
Sama bapak, ibu, sing kuru, sing lemu
Minang kacung babu koki

Tanjung Perak tepi laut
Siapa suka boleh ikut
Bawa gitar kranjang piul
Jangan lupa bawa anggur
Tanjung Perak tepi laut
Tanjung Perak tepi laut

Dengan demikian adanya lagu Tanjung Perak itu menjadi promosi bagi aktivitas kerja pelabuhan yang terletak di kota Surabaya. Lagu Tanjung Perak ini banyak lucunya. Tanda hubungan sosial yang dekat dan akrab. Berlatar kota Surabaya dan menu Jawa Timuran. Menggunakan idiom plesetan yang bikin ketawa.

Dalam sejarahnya pelabuhan Tanjung Perak telah dikenal sejak jaman kerajaan Medang Kamulan, Kahuripan, Daha, Jenggala, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Mataram, dan Surakarta Hadiningrat. Pelabuhan Tanjung Perak digunakan sebagai sarana lalu lintas barang dan jasa. Barang ekspor impor melalui pelabuhan Tanjung Perak sebagai pendukung perputaran roda ekonomi.

Jaman kerajaan Medang Wetan dipimpin oleh Prabu Darmawangsa Teguh, pelabuhan Tanjung Perak dibangun di daerah Perak Pabean Cantihan Surabaya. Pelabuhan Tanjung Perak saat itu sudah dilengkapi dengan terminal peti kemas. Dari pelabuhan Tanjung Perak ini berhubungan pula dengan Pelabuhan Ujung yang menuju pelabuhan Kamal Bangkalan.

Pada jaman kerajaan Kahuripan dipimpin oleh Raja Airlangga, pelabuhan Tanjung Perak semakin maju dan berkembang. Banyak pegawai dan administratur pelabuhan Tanjung Perak yang diambil dari warga Bali. Prabu Udayana sebagai ayah Airlangga turut pula membantu kelancaran Tanjung Perak dengan mengirim tenaga ahli dan trampil.

Begitulah suasana pelabuhan Tanjung Perak pada masa kerajaan Medang Wetan dan kerajaan Kahuripan. Kerajaan Kahuripan beribukota di Surabaya. Sebelumnya kerajaan Kahuripan bernama Medan Wetan yang beribukota di Mojokerto. Dulu rajanya Prabu Darmawangsa Teguh dan Empu Sindok.

Kota Surabaya dibangun oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Airlangga. Kepemimpinan Airlangga merupakan perpaduan antara budaya Bali, Jawa dan Kalimantan Timur. Asal usulnya dari beragam etnis, membuat dirinya toleran atas keberagaman.

Ayahnya adalah Prabu Udayana, maharaja bijaksana dari Bali. Ibunya dari Kutai, keturunan raja Mulawarman. Namanya Ratnawarman. Dia putri bangsawan yang trampil berbisnis. Usahanya meliputi kayu besi, kain tenun songket, perhiasan emas, pelayaran dan perkapalan. Ketika menjadi the first Lady di Istana Bali, tentu masyarakat bertambah makmur. Pemuda dilatih, dididik dan bekerja sesuai dengan ketrampilan.

Dalam suasana kejayaan itulah Airlangga mengalami pendidikan kebangsawanan. Prabu Udayana besanan dengan Prabu Darmawangsa Teguh. Raja Medang Martabumi ini punya gadis jelita. Bernama Prabasasi. Pernikahan Airlangga dengan Prabasasi berlangsung pada tanggal 21 April 1006.

Pesta pernikahan agung dilaksanakan besar-besaran. Tiap hari berkumandang gendhing mat-matan. Para penyanyi diundang bergiliran. Malam harinya dipentaskan wayang kulit semalam suntuk. Lakon diambil dari cerita adiparwa. Dipilih cerita yang mengandung nilai filosofis tinggi. Terutama yang berkaitan dengan teladan membangun rumah tangga.

Upacara pernikahan di Kraton Medang Martabumi dilanjutkan dengan tradisi sepasaran. Sebulan kemudian Prabu Udayana merayakan ngundhuh mantu. Hadir dalam pesta selapanan ini raja Samudra Pasai, Raja Baru, raja Bugis, Raja Banjar, raja Melayu, raja Maluku, raja Makassar, raja Nusa Tenggara. Duduk pada deretan tamu kehormatan yaitu Fatimah Binti Maimun dan Maulana Malik Ibrahim tokoh muslim dari kewalian Gresik.

Turut mengundang keluarga besar kerajaan Kutai. Permaisuri Ratu Ratnawarman mengumumkan tidak menerima sumbangan dari mana pun. Maklum Ratu Ratnawarman seorang pengusaha kaya raya. Soal pesta pasti sudah tersedia yang berlimpah ruah. Acara ngundhuh mantu baginya menjadi kesempatan untuk menjamu warga Bali. Sang permaisuri raja Udayana terkenal pemurah dan ramah tamah.

Roda perekonomian semakin lancar dengan dibangunnya pelabuhan Tanjung Perak. Hasil perkebunan dari Kediri, peternakan Mojokerto, sayur-mayur Ngawi, dan bumbu pecel Madiun dikirim ke luar pulau lewat pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Demikian pula buah apel Malang dipasarkan pula oleh keluarga kerajaan Kahuripan. Rakyat pun bertambah makmur.

Barang dan jasa dari mancanegara diimpor kerajaan Kahuripan lewat pelabuhan Tanjung Perak. Tenaga profesional dan disiplin membuat jalannya ekonomi menjadi lancar, gancar. Keuntungan usaha pelabuhan ini digunakan untuk pembangunan di segala bidang.

Perlu diketahui sejarah perjuangan para pendidikan pelabuhan Tanjung Perak yang menjunjung nilai heroisme. Prabu Darmawangsa Teguh beserta Ratu Sudisna sungguh sangat berbahagia. Putri satu-satunya telah berumah tangga. Berarti telah mentas. Sebagai orang tua hidupnya sudah merasa tutug.

Masa depan kerajaan Medang Martabumi dibicarakan bersama nayaka dan sentana. Sidang penting ini dipimpin oleh perdana Menteri Narotama. Hasilnya musyawarah ini cukup mengejutkan. Pada tahun 1110 Prabu Darmawangsa Teguh memutuskan untuk lengser keprabon madeg pendeta.

Pembicaraan suksesi kerajaan Medang pada Martabumi cukup alot, panas, melelahkan. Fraksi fraksi kerajaan mengalami polarisasi. Ada dua kubu yang sangat dominan. Kubu Ginantar bersaing dengan kubu prameswari Sudisna. Dalam voting permusyawaratan, kubu prameswari Sudisna unggul.

Kubu Ginantar tersingkir dan tidak puas. Sedangkan Prabu Darmawangsa Teguh sendiri tak mau bicara politik. Sang Prabu menjadi pertapa di Ngetos lereng gunung Wilis. Di Pertapan Ngetos ini Begawan Darmawangsa Teguh mengajarkan kama arta darma muksa.

Kekuasaan Kerajaan Medang Martabumi untuk sementara dipegang Patih Narotama. Akan tetapi, Rakyan Ginantar merasa berhak atas tahta. Sebetulnya Rakyan Ginantar adalah adik tiri Prabu Darmawangsa Teguh lain ibu. Lahir dari garwa selir. Pelan-pelan dia menyusun kekuatan.

Konsolidasi politik berpusat di Kadipaten Wora Wari. Ketika para pembesar Kerajaan berkunjung ke daerah Blambangan, tiba-tiba ada insiden yang mengejutkan. Rakyan Ginantar berusaha merebut kekuasaan. Modusnya dengan nabok nyilih tangan. Preman bayaran disuap untuk membuat kerusuhan.

Pembesar Kerajaan Medang Martabumi segera bertindak cepat. Patih Narotama menunjuk Airlangga sebagai panglima keamanan. Markasnya di Sumoroto Ponorogo. Pendidikan militer sewaktu hidup di Bali kali ini diuji di lapangan.

Segera Airlangga kontak dengan para bupati pesisir dan Bang Wetan. Dalam tempo sepasar keamanan pulih kembali. Jasa besar Airlangga ini menjadi inspirasi warga kerajaan Medang Martabumi untuk mendaulat Airlangga sebagai raja. Mbata rubuh surake wadya gumuruh. Semua sepakat.

Punggawa dan rakyat bertekad bulat. Airlangga harus menjadi pemimpin kerajaan. Atas restu dan saran Ibu Ageng prameswari Ratu Sudisna nama Medang Martabumi diganti menjadi kerajaan Kahuripan. Penobatan Prabu Airlangga dihadiri oleh Paguyuban raja nusantara.

Tamu undangan dari Tiongkok, Hindustan, Srilanka pun datang. Bahkan utusan Kasultanan Mamluk dari Kairo Mesir mendapat kursi kehormatan. Namanya Syekh Magribi Jumadil Kubro. Beliau akhirnya menikah, Dewi Patmirah putri Adipati gegelang. Hubungan kerajaan Kahuripan dengan Kasultanan Mamluk Mesir semakin akrab.

Atas restu dan saran Ibu Ageng prameswari Ratu Sudisna nama Medang Martabumi diganti menjadi kerajaan Kahuripan. Penobatan Prabu Airlangga pada tanggal 31 Mei 1110 dihadiri oleh Paguyuban raja nusantara. Tamu undangan dari Tiongkok, Hindustan, Srilanka pun datang.

Bahkan utusan Kasultanan Mamluk dari Kairo Mesir mendapat kursi kehormatan. Namanya Syekh Magribi Jumadil Kubro. Beliau akhirnya menikah, Dewi Patmirah putri Adipati gegelang. Hubungan kerajaan Kahuripan dengan Kasultanan Mamluk Mesir semakin akrab.

Hubungan dagang antara negara melalui pelabuhan Tanjung Perak. Berkaitan dengan itu pengelola pelabuhan pun dituntut untuk menguasai seluk beluk ekonomi kenegaraan.

B. Pelabuhan Tanjung Perak Melancarkan Roda Ekonomi

Penggunaan pelabuhan Tanjung Perak ditujukan untuk memperlancar jalannya lalu lintas barang dan jasa. Faktor keamanan, kedisiplinan dan keteraturan yang menjadi hal pokok yang diutamakan. Pengelola pelabuhan pun dibekali dengan ilmu manajemen yang berwawasan bisnis global.

Surabaya benar-benar dirancang sebagai kota metropolitan sejak jaman Prabu Airlangga berkuasa. Kerajaan Kahuripan menempatkan Surabaya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi. Airlangga boleh dikata orang sangat beruntung. Dia mendapatkan warisan dua tahta. Dari kerajaan Bali dan Kahuripan.

Faktor geneologi memang sah adanya. Aspek kecakapan, kemampuan, kejujuran, ketampanan, kepribadian lebih dari cukup. Didukung pula harta benda dari ibunya. Kelayakan untuk menjadi raja ditunjukkan dengan prestasi gemilang. Bidang pertanian mendapat perhatian prima dari raja Airlangga. Daerah selatan gunung Renteng sangat subur.

Logistik pangan harus tersedia sewaktu waktu. Pertanian jadi fokus perhatian. Sawah membentang dari gunung Lawu ke timur. Utara gunung Wilis dan Kelud cocok untuk lumbung padi. Wilayah sekitar gunung Arjuno, Semeru dan Bromo baik sekali untuk budidaya peternakan dan perkebunan. Kopi, teh, ceh tumbuh bagus. Buah pisang, pepaya, mangga, apel, surikaya, jambu, manggis, salak mendatangkan kemakmuran. Raja Airlangga bekerja keras. Negerinya tak boleh impor beras.Kerajaan Kahuripan dengan pusat menejemen di Surabaya berhasil swasembada pangan. Pada tanggal 17 Januari 1112 Prabu Airlangga membangun lumbung desa di daerah Wonokromo.

Kawasan sekitar gunung kendheng diolah sebagai sumber komoditas. Hutan jati, semen, minyak diusahakan dengan teliti. Tidak boleh usaha yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang kehutanan dan pertambangan dibina.

Keuntungan harus bisa nikmati oleh sekalian warga negara. Menejemen perekonomian ini berkat didikan ibunda Ratu Ratnawarman. Kelestarian lingkungan gunung kendheng pun terjaga dengan baik. Kaum terpelajar juga dilibatkan dalam pengelolaan alam.

BAGIKAN KE :