Keluh Kesah Pertukangan Emas Di Pacitan, Saat Dihempas Badai Covid-19
Pacitan- Badai pandemi global coronavirus disease covid-19, membuat semua sektor usaha di Pacitan, lesu. Bahkan bisa dibilang, banyak dari mereka yang mengatakan, ibarat hidup segan mati tak mau.
Namun begitu, mereka harus tetap tegar. Mengigat keperluan dapur tak bisa untuk ditunda.
Hal tersebut seperti diungkapkan, salah seorang pertukangan emas, Pramono. Pria paruh baya yang sudah puluhan tahun menekuni dunia reparasi emas dan perak ini, harus ikut terdampak badai coronavirus. “Semua pertukangan emas disini, lesu Mas (wartawan, Red). Selama coronavirus belum pergi, semua usaha pasti lesu sepeti ini,” tutur Pramono, yang membuka usaha disebuah gang sempit, timur gedung Penggadaian Pacitan, Selasa (16/3).
Selama hampir 25 tahun menekuni dunia pertukangan emas, Pramono mengakui sempat menangguk omset dan untung besar ketika booming batu akik pada Tahun 2013-2014 lalu. Setelah itu, kembali surut. “Puncaknya ketika terjadi badai covid-19. Dalam sehari paling banyak hanya dua sampai tiga orang yang memanfaatkan jasa reparasi emas. Baik itu sepuh atau perbaikan,” jelasnya.
Saat ditanya berapa omset saat ini yang ia terima dalam sehari, Pramono tak segan-segan mengungkapkan, kalau satu pelanggan ditarik Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu, itu artinya bekerja dari pagi hingga menjelang sore, hanya mendapat omset Rp 30 ribu sampai Rp 45 ribu. “Kadang juga pernah kosong, nggak ada pemasukan,” pungkasnya. (yun).

Tinggalkan Balasan