Liputan BERITA

Keluh Kesah Pertukangan Emas Di Pacitan, Saat Dihempas Badai Covid-19

Ditulis oleh Liputan68 pada 16 Maret 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan- Badai pandemi global coronavirus disease covid-19, membuat semua sektor usaha di Pacitan, lesu. Bahkan bisa dibilang, banyak dari mereka yang mengatakan, ibarat hidup segan mati tak mau.

Namun begitu, mereka harus tetap tegar. Mengigat keperluan dapur tak bisa untuk ditunda.

BACA JUGALAPOR PAK BUPATI, DIDUGA LELANG PROYEK DINAS PU LAMPUNG TIMUR SENILAI RP. 18 M DIMENANGKAN PERUSAHAAN YANG PERNAH KESANDUNG KASUS KORUPSI

Hal tersebut seperti diungkapkan, salah seorang pertukangan emas, Pramono. Pria paruh baya yang sudah puluhan tahun menekuni dunia reparasi emas dan perak ini, harus ikut terdampak badai coronavirus. “Semua pertukangan emas disini, lesu Mas (wartawan, Red). Selama coronavirus belum pergi, semua usaha pasti lesu sepeti ini,” tutur Pramono, yang membuka usaha disebuah gang sempit, timur gedung Penggadaian Pacitan, Selasa (16/3).

Selama hampir 25 tahun menekuni dunia pertukangan emas, Pramono mengakui sempat menangguk omset dan untung besar ketika booming batu akik pada Tahun 2013-2014 lalu. Setelah itu, kembali surut. “Puncaknya ketika terjadi badai covid-19. Dalam sehari paling banyak hanya dua sampai tiga orang yang memanfaatkan jasa reparasi emas. Baik itu sepuh atau perbaikan,” jelasnya.

BACA JUGAMenanam Kesadaran di Sabuk Hijau: DLH Pacitan Satukan Pegiat Lingkungan di Pantai Pancer Door

Saat ditanya berapa omset saat ini yang ia terima dalam sehari, Pramono tak segan-segan mengungkapkan, kalau satu pelanggan ditarik Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu, itu artinya bekerja dari pagi hingga menjelang sore, hanya mendapat omset Rp 30 ribu sampai Rp 45 ribu. “Kadang juga pernah kosong, nggak ada pemasukan,” pungkasnya. (yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian