Liputan KOLOM

Pengelolaan Limbah Tankos Sawit Sebagai Upaya Perbaikan Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat Labuhanbatu (Bagian-2)

Ditulis oleh Liputan68 pada 16 Maret 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Iswan Kaputra & Ilham Maulana

(Keduanya adalah Aktivis Sosial Asal Labuhanbatu)

BACA JUGAKartini Minum Brandy-Rempah, Istri Sultan Langkat dan Putri Sultan Serdang Wafat Terpapar Virus, Cuplikan Catatan Pandemi Yang Mencekam 1900-1920

Bahan Baku, Teknologi & Kelayakan Usaha

Dari jumlah 17 PKS, 26 hamparan luas perkebunan sawit besar dan 118.988,45 ha luas perkebunan kelapa sawit rakyat yang ada di Labuhanbatu, tentunya tidak perlu meragukan lagi bahan baku untuk produksi briket ini. Kami coba simulasikan ketersediaan bahan baku ini dengan mengambil sampel 3 PKS yang berdekatan jaraknya, di sekitar daerah Sigambal dan Aek Nabara, PT Lingga Tiga Sawit, PT Supra Matra Abadi dan PT Indo Sepadan Jaya, masing-masing pabrik ini memiliki kapasitas olahan untuk 50.000 ton kg tandan buah segar (TBS) per jam. Jika dihitung pabrik menggiling selama 23 jam perhari, dengan estimasi istirahat mesin 1 jam perhari, maka akan didapatkan angka 3.450.000 ton TBS yang diolah.

BACA JUGAMencegah Hoaks Vaksinasi Covid-19

Mengikuti logika perhitungan dari riset yang dilakukan di Kuantan Sengingi, Riau yang telah di bahas di atas, maka akan dihasilkan tidak kurang dari 690.000 ton tankos dari 3 PKS tersebut. Dan, potensi emas ini belum dikelola dan dimanfaat-gunakan dengan baik!

Meskipun teknologi yang digunakan dalam pembuatan briket tankos sawit tergolong baru dan merupakan inovasi atau terobosan pengolahan limbah, namun secara teknis teknologinya tidak terlalu rumit, alat-alat modern yang digunakan tidak perlu didatangkan jauh dari luar negeri, cukup dengan memesannya dari dalam negeri, tepatnya peralatan permesinan tersebut telah tersedia di kota Semarang, Jawa Tengah. Pemesanan juga dapat disesuaikan dengan tonase atau kapasitas produksi yang diinginkan.

BACA JUGAPuisi ;  “KENALI AKU”

Untuk menghemat biaya perjalanan dari proses pemesanan dan transaksi, dapat dilakukan secara online dengan pengiriman melalui jasa cargo/expedisi. Karena relatif dapat dikatakan gagasan baru, pesaing bisnis briket berasal dari tankos untuk wilayah provinsi Sumatera Utara masih tergolong minim. Hanya baru ada sejenis industri mini di kota Medan dan kabupaten Asahan.

Begitupun untuk menjadi besar dan berkembang, mereka sangat memerlukan industri briket baru sebagai mitra dalam memenuhi kuota ekspor atau permintaan luar negeri dan untuk menjadi besar, jejaring industri kecil rakyat ini perlu membentuk semacam ekosistem industri briket berasal dari limbah sebagai terobosan.

BACA JUGABerburu Budaya ke Negeri India

Sedangkan industri besar dan badan usaha milik negara (BUMN) yang telah lama mengolah briket bukanlah merupakan saingan langsung dari induistri kecil rakyat tersebut, industri besar memproduksi bahan bakar padat berasal dari kayu –kini menghadapi kesulitan bahan baku– dengan mesin super industri dan mengonversi bentuk menjadi produksi wood pellet sebagai bahan bakar padat biomassa untuk menyuplai pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) . Persaingan bisnis briket masih minim dan memiliki ketergantungan tertentu dalam memenuhi pasar.

Briket berbahan baku limbah sawit tankos layak untuk diproduksi, karena memiliki return on investment (ROI) atau tingkat pengembalian investasi secara keseluruhan 13,03% dan pay back periode (PBP) 0,64 tahun dalam penjualan sebanyak 40.000 kg briket per bulan. Sebagai perhitungan kasar, kami membuat simulasi, biaya tetap Rp 41.250.000,- biaya produksi Rp 43.000.000,- briket dijual dengan harga Rp 4.000,- per kilogram, maka akan didapatkan keuntungan Rp 156.000.000,- per bulan, untuk produksi awal, pada bulan pertama.

BACA JUGASejarah Organisasi Wanita Keraton Surakarta

Potensi Pasar

Potensi pasar briket dapat dilihat dari permintaan briket yang terus meningkat setiap tahun, data sejak tahun 2015 hingga tahun 2019, seperti digambarkan dalam tabel dan peta nilai impor briket dan permintaan pasar yang kami sajikan di bawah, terus menunjukkan peningkatan. Dengan nilai yang terus meningkat, dianggap cukup menjelaskan bahwa permintaan akan briket sangat tinggi dan mengalami pertumbuhan cukup pesat.

BACA JUGARefleksi 77 Tahun Indonesia Merdeka Dinamika Politik dan Ekonomi Memperkuat Kesadaran Satu Bangsa

ITC, UN COMTRADE sepertinya sengaja tidak menghitung atau menampilkan data trader tahun 2020, karena pandemic covid19 yang melanda dunia. Sepertinya penghitungan akan tidak fair jika kondisi khusus pada tahun 2020 ini juga dihitung dan dibandingkan dengan kondisi normal tahun-tahun sebelumnya. Namun data penghitungan kurun waktu 5 tahun sebelumnya saja sudah cukup menjadikan gambaran pertumbuhan pasar briket dunia.

Tahun 2015 hingga 2019, dalam kurun waktu 5 tahun, pertumbuhan kebutuhan negara-negara pengimpor arang dunia, dihitung dari nilai Dollar yang dibelanjakan mencapai angka US$ 6.814.708.000 atau setara dengan Rp 102.220.620.000.000,- (102,2 triliun rupiah) jika dikalikan dengan nilai Rp 15.000,- persatu dollar. Angka rata-rata pertahunnya US$ 1.362.941.600, setara dengan Rp 20.444.124.000.000 (20,5 triliun rupiah). Jika dihitung dengan besaran tonase import negara-negara pengimpor maka akan muncul angka 298 juta ton dengan persentase total pertumbuhan 5 tahun 24,5%. Jika dirata-ratakan pertahun maka angka pertumbuhannya mencapai 60 juta ton atau setara dengan tumbuh 5% setiap tahunnya.

BACA JUGAAnalisis Pengaruh Perputaran Persediaan Terhadap Tingkat Profitabilitas Pada Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Dari 20 negara pengimpor arang briket yang ditampilkan, terlihat 5 besar negara pengimpor adalah Jepang, Jerman, Korea Selatan, China dan Saudi Arabia, sementara Amerika hanya masuk pada urutan ke 6, tidak termasuk dalam 5 besar.

Angka-angka tersebut di atas, membuktikan pertumbuhan pasar arang briket dari permintaan dunia cukup besar. Sementara, negara-negara produsen sangat terbatas karena terkait dengan ketersediaan bahan baku dan keterampilan khusus sumber daya manusia pengelolanya.
Segmentasi dari produk ini merupakan pabrik-pabrik yang menggunakan arang briket sebagai bahan bakar, importir dan industri wholesale yang akan menyalurkannya kepada masyarakatnya di negara penginpor.

BACA JUGASEJARAH PONOROGO SEBAGAI KOTA BAPPENAS KERAJAAN

Pengelompokan segmentasi berdasarkan geografis adalah perusahaan pengimpor di luar negeri berdasarkan urutan penginpor terbesar seperti tertera pada pemaparan paragraph sebelumnya.

Pola Kemitraan

BACA JUGABabad Prabu Hadi Hanyakrawati Raja Mataram II

Pola kemitraan yang disarankan dalam rencana implementasi pengembangan briket tankos ini adalah pola kemitraan vertikal. Hal ini karena kemitraan yang akan dibangun antara pihak suasta, pemerintah, CSR, wira koperasi dan petani sawit berupa kemitraan dalam penyediaan bahan baku dan kemitraan dalam penyediaan modal usaha.

Kemitraan dalam penyediaan bahan baku akan dilakukan dengan para petani kelapa sawit yang ada di Kabupaten Labuhanbatu. Para petani dari beberapa kecamatan yang telah dipilih kemudian akan dikumpulkan dalam kelompok tani dan diajak bermusyawarah untuk membuat kesepakatan, kemudian dilanjutkan dengan pembagian tugas dalam proses kerja sama.

BACA JUGAFENOMENA GLOBAL KEBANGKITAN ISLAM MENJADI STRATEGI POLITIK LOKAL: Sebuah Langkah Jitu Bung Andi Dalam Memenangkan Kontestasi Pilkada Labuhanbatu

Proses berikutnya adalah para petani berpartisipasi bersama-sama membangun produksi unit usaha briket. Sehingga kerja sama yang dilakukan dengan petani menjadikan petani sebagai pemasok bahan baku dari usaha briket dan juga sebagai anggota wira koperasi. Satu hal yang teramat penting dalam konsep kemitraan ini adalah, “petani menjadi anggota wira koperasi”, dimana kepemilikan dan pengambil keputusan pada koperasi adalah semua anggota.

Dengan kata lain, dalam kemitraan yang dibangun, petani kelapa sawit adalah pemilik proses dan unit produksi briket tankos ini.
Banyak usaha kolektif yang menjadi besar, berhasil dan mendunia dimulai dari gagasan yang kuat dan dapat diterjemahkan secara inplementatif (achievable). Bukan mengutamakan modal materil di depan! Modal materil bias jadi nomor dua. Jika gagasan kuat, logis, terukur dan jelas dapat dilaksanakan sudah ada, barulah modal akan menyusul.

BACA JUGAGuru Besar ITB Ahmad Dahlan Angkat Bicara Terkait Ihwal ITB Ahmad Dahlan di Alumni ITB Bandung

Kemitraan dalam hal penyediaan modal untuk merealisasikan gagasan briket tankos ini dapat berasal dari pinjaman lunak atau hibag dari berbagai pihak seperti Pemerintah, Perusahaan dan CSR nya.

Selain kemitraan dengan berbagai pihak yang bersifat kelembagaan, institusi atau organisasi laba (perusahaan suasta), tentunya harus dibangun juga hubungan kemitraan dengan pribadi-pribadi, tokoh masyatakat dan tokoh daerah yang dapat menyokong terwujudnya gagasan baik dari putra-putra daerah Labuhanbatu ini.

BACA JUGAPuro Paku Alaman

Sejak awal, Kami mendengar komidmen yang sangat kuat dari Bapak H. Andi Suhaimi Dalimunthe, ST. MT. Bupati Labuhanbatu untuk mendukung realisasi rencana pabrik briket wira koperasi rakyat ini. Bahkan dikhabarkan Beliau telah menyediakan lahan pribadinya di daerah Lingga Tiga, seluas 5 hektar untuk dipinjam pakaikan demi mewujudkan gagasan rintisan pabrik briket ini.***

(LM-01)

BACA JUGASejarah Kabupaten Nganjuk

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian