Sejarah Ki Ageng Giring Penerima Wahyu Kedhaton

Oleh: Dr Purwadi M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Asal Usul Ki Ageng Giring.

Ki Ageng Giring adalah putra Pangeran Karanggayam. Masih saudara sepupu dengan Ki Ageng Pamanahan dan Juru Martani.

Pangeran Karanggayam merupakan penasihat utama Karaton Pajang yang berdiri sejak tanggal 24 Juli 1546. Karyanya berjudul Serat Nitisruti.

Untuk ini tim LOKANTARA mengadakan acara riset lapangan. Pisowanan ke Astana Giri Larangan dilakukan pada hari Rabu, 4 Nopember 2020.

Kegiatan memule leluhur Pajang dan Mataram dipimpin oleh Bu Yani Sapto Hudoyo. Tokoh wanita ini amat mahir dalam seni budaya. Lama mendampingi Pak Sapto Hudoyo hingga tahun 2003.

Pajimatan Ki Ageng Giring berada di bukit Larangan desa Gumelem Susukan Banjarnegara, Jawa Tengah. Alamnya indah permai penuh dengan pohon kelapa. Masyarakat punya keahlian batik dan pandai besi. Tradisi warisan Mataram tetap lestari.

Cuaca cerah, langit biru, angin sumilir. Tim Sapto Hudoyo Art Gallery berangkat pukul 8 pagi. Dari rumah jl Solo, tepat depan Bandara Maguwo Yogyakarta. Terlebih dulu dengan sarapan sayur sop bayem. Tak lupa bawa camilan karak karuk. Untuk kriyukan di jalan. Sekedar cegah ngantuk. Enjing bidhal gumuruh saking jroning praja.

Bagi masyarakat Jawa sejarah memang terlalu penting. Sejarah Kraton Pajang berdiri setelah Kasultanan Demak Bintara. Pendirinya Mas Karebet atau Joko Tingkir. Kelak bergelar Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama.

Negeri Pajang maju makmur, karena dipimpin oleh raja yang ber budi baws laksana, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, memayu hayuning bawana.

Kraton Pajang melanjutkan cita cita Demak Bintara. Pada tahun 1547 Ki Ageng Giring diutus untuk membina wilayah Dulangmas. Kedu Magelang Banyumas perdikan istimewa. Rakyat Dulangmas diajari bertani, berkebun, beternak di sepanjang Kali Serayu. Ki Ageng Giring mengelola Pertapan Bukit Larangan.

Lagu Serayu.

Adhuh segere banyune ing sendhang,
ilang kesele wis mari le mriyang,
banyune bening nyegerake ati,
kudu sing eling mring tindak kang suci.

Lelagon Serayu amat populer di kalangan warga Dulangmas. Bu Yani Sapto Hudoyo mampir di pasar dongkelan, untuk beli kembang. Sekar melati, mawar, kantil, kenanga berbau wangi semerbak.

Jalan lewat jalur selatan, dari Manding menuju Gombong. Sepanjang jalan bicara tentang sejarah Banyumas yang dibangun oleh Sinuwun Amangkurat Agung tahun 1648. Bu Yani Sapto Hudoyo berwawasan luas. Perjuangan prameswari Mataram, Ratu Wiratsari menjadi suri teladan.

Dalam tempo 1,5 jam sudah tiba di Karangayar Kebumen.Masuk budaya ngapak. Ingat dalang Ki Sugino, Ki Sugito, Ki Daulat. Juga sindhen Nyi Suryati yang bersuara merdu.

Ricik ricik Banyumas.

Ricik kumricik grimising wis rata, sedhela maning wis teka,
nyong kaget adhuh rika mbekta napa, bungkus pethak niku isi sega.

Kimplah kimplah banyune alambah lambah,
menep kutah angileni sawah sawah.
Kali banjir iline tekan ing pinggir.
Ngisor gunung nandur pari tela jagung.

Yuyu kangkang mbrangkang angadhang adhang, mingis mingis siyunge angisis isis.

Mampir di warung mendoan sekitar pukul 13.30. Sebelah waduh sempor gombong. Air berlimpah ruah cocok untuk irigasi. Perikanan berjalan lancar. Nila gorameh hidup di waduk sempor. Wisata keluarga dengan kuliner ala desa. Perbukitan gombong tampak asri.

Suguhan sega pecel kembang kejombrang. Nyamleng betul untuk makan siang. Mendowan sailir gedhene. Tempe tipis berasa gurih. Degan krambil ijo terasa seger. Maklum kawasan banyak tumbuh pohon kelapa. Godhong mlinjo, kula sampun sayah nyuwun ngaso.

B. Pendidikan Sejarah Kawasan Budaya.

BAGIKAN KE :