Peringati Hari Lingkungan Hidup, Sejumlah NGO Serukan Penghijauan di Perkotaan

“Kami menemukan fakta bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) global telah meningkat selama tiga tahun terakhir berturut-turut, ini berpotensi membawa bencana. Potret bencana yang terjadi di Sumatera Utara seperti banjir bandang di Parapat, Simalungun dan Deli Serdang, Longsor di lokasi PLTA Batang Toru, serta intensitas hujan yang tidak menentu menjadi indikasi bahwa perubahan atau anomali Iklim itu benar adanya dan harus segera dikendalikan.” Terang Doni Latuparisa, Eksekutif Daerah (ED) Walhi Sumut.

“Bencana bukan hanya menyangkut bergesernya bentang alam dan air yang tak terkendali, tapi juga diluar hal-hal tersebut! Dugaan kuat dengan mudah meluasnya penyebaran virus covid-19, tidak terlepas dari salah satu konsekuensi dari hancurnya ekosistem alam yang menjadikan kehidupan di dalamnya tidak seimbang dan tidak harmoni lagi! Menghancurkan ekosistem dan area habitat alami hewan, maka manusia telah menciptakan kondisi yang sangat ideal bagi patogen untuk menyebar dengan cepat dan luas termasuk penyebaran virus corona yang pada awalnya, diberitakan berasal dari kelelawar yang menjangkiti tubuh manusia.” Lanjut Doni.

Sementara, sebagai tuan rumah bagi lahan adat yang dilakukan penghijauan, Ketua Umum BPRPI, Alfi Syahrin, Menutup prosesi seremoni kata sambutan sebelum dimulai penanaman pohon dengan ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mempercayakan acara HLHS 2021 dan penghijauan penanaman pohon ini diletakkan pada salah satu Kampung BPRPI.

“Terimaksih Kami sampaikan pada BITRA Indonesia dan WALHI Sumut. Peringatan HLHS dan penanaman pohon hari ini adalah hal yang sangat kami tunggu sejak lama. Kami dari BPRPI memiliki komitmen bahwa setiap kampung harus membuat ruang hijau yang juga bisa menambah nilai ekonomis bagi masyarakat adat kampung, khusunya.” Sambutnya.

“Kami juga mendorong agar kerja sama peduli lingkungan ini, dapat dilanjutkan dengan mendidik rakyat khususnya masyarakat kampung adat BPRPI agar memahami pengelolaan pekarangan rumah yang peduli pada lingkungan seperti pertanian pekarangan ramah lingkungan, permakultur. Apalagi Kampung Tanjung Gusta ini berada dilingkaran Kota Medan, kita siap menjadi penyangga ruang hijau untuk penyeimbang iklim di Kota Medan, di tengah maraknya pembangunan yang kurang memikirkan ruang hijau di perkotaan khususnya di Kota Medan.” Pungkasnya.

(LM-01)

BAGIKAN KE :