Dalam kameraku, anak-anak bertelanjang dada
Kulit tubuh mereka hitam legam mengangkat ikan dari dalam sampan ke tempayan.
Camar datang mencakar
Tiang layar perlahan bergetar
Sebentar lagi cahayanya mulai membakar
dapur-dapur segala salur makanan di daun-daun hingga semak belukar.
Dalam kameraku kaurajut isyarat alam, angin memulangkan nelayan ke peraduan. Memecah-mecah rindu dalam kehangatan matahari yang telah membiru. Langit-langit rerumputan bersujud di hadapan cahaya yang penuh gairah, menyambut datangnya pagi. Kerut-kerut langit seumpama arakan awan hitam yang mengirim tanda sebentar lagi hujan akan datang? Membawa segala rindu, kuyub di tengah lautan ikan-ikan.
Padahal matahari telah dicuri oleh tangan seorang nelayan yang pulang pagi ini.
Dalam kameraku, aku meraut waktu ingin selalu berbincang padamu bahkan dalam setiap nafasku. Kau adalah kekasihku yang diberi Tuhan untuk mengajarkan aku kesungguhan hidup tanpa harus ragu. Tanpa harus meniru-niru, gamang dan tak menentu. Seperti lautmu itu, yang penuh gelombang dan badai, tapi terus menyimpan rahasia kelanjutan hidup nelayan dan sampan di tengah lautan.
