Memotret Matahari

Sebagai “saksi” setiap perjalanan mengayuh pedal, aku suka memotret kehidupan orang-orang kecil yang aku lihat dan aku kunjungi. Khususnya tiga klas masyarakat dalam ajaran marhaen, yakni: petani, buruh dan nelayan. Sebab mereka adalah bagian dari keluargaku juga. Itu yang membuat semangat bersepedaku terus menyala. Melihat fakta ketimbang kata, seperti ungkapanku dalam kameraku di bawah ini.

#Memotret_Matahari

Dalam kameraku, anak-anak nelayan bermain cangkang, sebelum terik siang tinggi menjulang.
Membakar ubun-ubun nelayan.
Menanti pulang ayah-ayah mereka yang pergi sejak kemarin petang, melaut. Mencari ikan, kerang dan udang.
Memasang jaring di tengah gelombang pasang. Membentang layar ke samudera lepas pandang. Melempar umpan di tengah kegelapan panjang. Sepasang lentera memancar terang, kadang cahaya itu redup dan kian menghilang
dari gerak-gerik, hilir mudik sampan nelayan.

Di tengah dingin malam, laut adalah kehidupan yang membawa segala waktu ke dalam rindu pelukan. Rindu dekapan. Rindu kehangatan yang dilawan dengan tanggung jawab dan harapan. Anak dan bini yang menanti di depan paluh tak pernah berkeluh. Sejak subuh kapal mulai menangkar jangkar.
Yang menanti, yang menukarkan angan jadi kenyataan. Malam juga sesungguhnya sebuah rahasia Tuhan dalam menyayangi si nelayan,
di tengah ayunan ombak dan angin selatan.

BAGIKAN KE :