Luh Suriani Kembangkan Teh Beras Merah Khas Senganan Tabanan

Untuk pembuatannya sangat sederhana, saat Beras Merah dituangkan ke Kuali terbuat dari tanah liat yang disangrai diatas kobaran api yang sedang.

Sesuai dengan pengalamannya, rata-rata Beras Merah yang disangrai sekitar 1 kilogram pada kuali dengan kobaran api sedang perlu waktu sekitar 15-20 menit.

“Api sedang itu, mungkin dibawah 100 derajat Celicius. Untuk membuat 1 kilogram Beras Merah itu tergantung juga besar kecilnya kuali. Jika kuali besar itu cepat, sekitar 15-20 menit dan tergantung juga kobaran api di tungku,” ungkapnya.

Meski demikian, Beras Merah mengandung Orisanol berupa Vitamin E yang tahan panas. Jika ingin cepat matang, suhu sedikit dinaikkan, untuk mendapatkan Orisanol.

“Karena itu yang menjadi penting sekali, karena kulit Beras Merah ada Orisanol yang merupakan anti aging,” tegasnya.

Diakuinya, rasa Teh Beras Merah lebih enak dan gurih dengan cara pembuatannya yang unik. “Jadi, itu yang kita kembangkan, karena menarik minat sebagai ikon pariwisata,” imbuhnya.

Selain produk lokal, Beras Merah itu sendiri manfaatnya sangat luar biasa, karena kandungan gizinya tinggi, diantaranya mengandung tiosidan dan serat yang tinggi, sehingga bisa mencegah berbagai penyakit, seperti kencing manis, kolesterol, tekanan darah tinggi dan lain sebagainya.

“Dia juga mengandung Rekemiknya rendah, yakni setengah dari beras putih,” sebutnya.

Oleh karena itu, Luh Suriani berharap, pihak Pemerintah Daerah setempat bisa menjembatani, untuk gencar mempromosikan produk lokal ke hotel-hotel yang ada di Bali, agar produk lokal seperti Teh Beras Merah bisa tetap eksis keberadaannya.

Bahkan, hotel-hotel di Bali disarankan untuk menggunakan produk lokal seperti Beras Merah Senganan melalui acara welcome drink.

Dengan cara seperti itu, bisa diterangkan ke tamu mancanegara sebagai hasil produk lokal, yang kemungkinan tamu akan respek untuk mempertahankan nilai-nilai lokal itu dengan membeli produk lokal.

“Karena tamu atau wisatawan itu perhatiannya tinggi terhadap lokal genius yang ramah lingkungan berbahan organik,” paparnya.

Selain Luh Suriani, anggota pengabdian  masyarakat juga didukung oleh Prof. I Nyoman Suarsana selaku Ketua LPPM Unud, Dr. dr. Wiwiek Indriani dari Fakultas Kedokteran Unud, Dr. Susun Parwanayoni dari F.MIPA, Program Studi Biologi Unud dan Iswari Ardha Dharani dari Fakultas Kedokteran Unud.  (RED)

BAGIKAN KE :