NTT, Liputan68.com– Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kini memasuki babak baru.
Kolaborasi strategis antara ChildFund International di Indonesia, Yayasan Cita Masyarakat Madani, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana, diluncurkan Panduan Standar Sistem Rujukan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Berbasis Komunitas.
Inisiatif ini menjadi bagian dari Program Desa SEHATI (Desa Sehat Terpadu Indonesia) yang sejak April 2025 telah berjalan di tiga desa, yakni Pollo, Batnun, dan Oe’Kiu di Kecamatan Amanuban Selatan.
Melalui Diseminasi Hasil Asesmen dan Rekomendasi Panduan Sistem Rujukan KIA yang digelar di Blessing Hotel, Kota Soe pada Selasa (15/7/2025) menghadirkan pejabat pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, serta perwakilan desa yang menjadi lokasi intervensi program.
Angka Kematian Masih Mengkhawatirkan
Asisten 3 Setda TTS, Agnes Fobia, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor.
“Kami memberikan apresiasi kepada Cita Madani, ChildFund, dan FKM Undana. Harapan kami, rekomendasi ini menjadi standar panduan rujukan yang menyelamatkan nyawa ibu dan anak di TTS,” ujarnya.
Data Dinas Kesehatan TTS mencatat, angka kematian ibu (AKI) masih mengkhawatirkan: 15 kasus (2023), naik menjadi 19 (2024), dan hingga Juli 2025 tercatat 7 kasus. Sementara angka kematian bayi (AKB) juga tinggi: 100 bayi (2023), 71 bayi (2024), dan 51 bayi hingga pertengahan 2025.
Dukungan Akademisi dan Masyarakat
Dekan FKM Undana, Prof. Apris Adoe, menegaskan pentingnya riset berbasis lapangan.
“Kami melakukan asesmen dengan metode FGD dan wawancara mendalam, melibatkan kepala desa, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga ibu hamil. Semua ini sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, memastikan rekomendasi tepat sasaran,” tegasnya.
ChildFund: Fokus pada Akses Kesehatan Anak dan Ibu
Siti Aisah, Spesialis Kesehatan dan Gizi ChildFund International di Indonesia, menjelaskan bahwa intervensi ini berbasis data.
“Assessment ini melibatkan akademisi, dinas terkait, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Semua hasilnya menjadi dasar penguatan sistem rujukan yang sesuai dengan konteks lokal,” ungkapnya.
Senada, Itha Kale, Partnership Portfolio Officer ChildFund, menekankan visi lembaganya.
“ChildFund fokus pada pengembangan anak, termasuk memastikan kesehatan ibu dan anak. Program Desa SEHATI adalah langkah nyata untuk mewujudkan hak anak atas kesehatan yang layak,” ujarnya.
Cita Masyarakat Madani: Solusi Berbasis Komunitas
Direktur Yayasan Cita Masyarakat Madani, Silvester Seno, menegaskan bahwa masalah AKI dan AKB bukan sekadar isu medis.
“Ini persoalan struktural: akses, infrastruktur, sosial ekonomi, dan lemahnya sistem rujukan. Karena itu, penguatan rujukan berbasis komunitas sangat penting, terutama di daerah seperti TTS yang punya tantangan geografis besar,” jelasnya.
Menurut Seno, sistem rujukan berbasis komunitas ini mengintegrasikan peran masyarakat desa, kader kesehatan, dan tenaga medis.
“Keterlibatan warga mempercepat deteksi dini risiko dan memastikan rujukan tepat waktu. Inilah kunci menurunkan kematian ibu dan bayi,” tegasnya.
Menuju Sistem Kesehatan Responsif
Melalui Desa SEHATI, ChildFund dan Cita Madani bersama FKM Undana melakukan asesmen, diskusi, dan perumusan solusi lokal.
Hasilnya berupa panduan standar, buku untuk kader kesehatan, dan mekanisme kerja sama yang mendorong perubahan kebijakan daerah.
“Mari kita jadikan momen ini penguatan langkah menuju sistem kesehatan yang lebih responsif, tanggap, dan berpihak pada ibu dan anak,” tutup Seno.
Turut hadir dalam kegiatan: Wakil Dekan FKM Undana beserta tim, Kadis Kesehatan, OPD terkait, Ketua Komisi IV DPRD TTS, perwakilan RS Rujukan (RSU Prof. W.Z. Yohanes Kupang dan RSUD Soe), Camat Amanuban Selatan, kepala desa lokasi program, tokoh agama, bidan, dan kader posyandu.***
