Lebih lanjut, Eko mengatakan, selama ini kedua situs tersebut banyak didatangi mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Museum Trowulan, untuk melakukan penelitian. Bahkan tak jarang mereka yang ingin meraih gelar profesor, tak lengkap sebelum datang ke Desa Sooka.
Selain itu, sambung Kades Eko, tepatnya di Dusun Kladen, saat musim batu akik di Tahun 2013-2014 lalu, bebatuan di dusun tersebut sempat mengangkat nama Pacitan hingga ke tingkat nasional bahkan dunia. “Sebab para ahli bebatuan mulia menyebut bebatuan akik dari Kladen sebagai King Kladen (Raja Kladen). Mengingat kualitas batu mulia yang jernih dan memancarkan sinar yang begitu kemilau dan bernilai ekonomis tinggi untuk dipakai sebagai perhiasan,” tukasnya. (yun).
