Babad Mangkunegara I

Kanjeng Pangeran Mangkunagara mengadu kepada tuan Oprup di Surakarta yang semula menanggung kembalinya Kanjeng Ratu Bendara kepada suaminya.

Hal tersebut menemui jalan buntu an investor asing turun tangan karena hal itu dianggap memungkinkan kerenggangan antara Kanjeng Sultan dan Pangeran Adipati Mangkunagara, akhirnya dapat mengganggu keakraban, bahkan keamanan. Atas nasehat Anggota Dewan manca di Semarang, wakilnya di Yogyakarta bertemu dengan Kanjeng Ratu Bendara dihadapan Kanjeng Sultan di Kraton Yogyakarta.

Kanjeng Ratu Bendara memberi kepastian kepada wakil tentara manca , tidak bersedia kembali kepada suaminya.

Karena ketegangan itu tak dapat diredakan, maka wakil tentara Belanda di Semarang memerintahkan agar Kanjeng Ratu Bendara datang di Semarang bersama dengan Patih Danureja dan Pengulu hakim di Yogyakarta. Dari Surakarta didatangkan Penghulu hakim.

Pengulu pengulu hakim itu akan dipertemukan dengan para pengulu di pesisir untuk mengupayakan menyelesaikan menurut adat Jawa dan agama Islam. Kanjeng Ratu Bendara datang ke Semarang diiringi Pangeran Pakuningrat, Patih Danureja dan Pengulu hakim. Dari Surakarta datang wakil tentara Belanda, Pengulu hakim dan Pangeran Mangkuyuda.

Pertemuan di kediaman wakil Tentara manca di Semarang dihadiri oleh Kanjeng Ratu Bendara, para pengiringnya dari Yogyakarta termasuk Pengulu hakim, dari Surakarta Tumenggung Mangkuyuda dan Pengulu hakim, dan dari pesisir beberapa orang Ulama.

Pembicaraannya tentang hukum bilamana seorang garwa menolak kembali kepada suaminya.

Sesuai dengan hukum adat dan agama, sang garwa berhak meminta cerai yang disebut rapak, tetapi diharuskan memberi pemancal ganti rugi atau ganti kehormatan. Akhirnya terjadi perceraian sah Kanjeng Ratu Bendara dari Pangeran Adipati Mangkunagara dengan jalan rapak sedang sebagai pemancal Kanjeng Sultan memberikan tanah di Pajang.

Dalam keputusan itu ditambahkan oleh Pangeran Adipati Mangkunagara, bahwa Kanjeng Ratu Bendara tidak boleh dinikahkan selama suaminya masih hidup. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 15 Jumadilawal 1869 Jawa atau 1763 Masehi.

Ternyata kemudian bahwa Kanjeng Ratu Bendara dinikahkan dengan Pangeran Dipanagara. Pangeran Adipati Mangkunagara akan mengusik hal itu, tetapi disabarkan oleh wakil tentara manca dan dihibur dengan kepastian bahwa tanah di Yogyakarta dan Surakarta yang dikuasai sang Pangeran tetap menjadi miliknya.
Kanjeng Sunan menderita gerah yang makin lama makin parah dan akhirnya mangkat.

Sebagai penggantinya diangkat Adipati Anom dengan gelar: Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono kaping IV Senapati Ing Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah ing Surakarta. Peristiwa itu terjadi pada hari Senen Paing tanggal 29 Besar, tahun Jimakir, 1714 Jawa atau 1787 Masehi. Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV mengadakan banyak perubahan, antara lain:

1. Pakaian prajurit kraton semula berpakaian manca, diganti berpakaian Jawa.

2. Tiap hari Jumaat tidak pernah terlampaui Kanjeng Sunan mesti salat Jumaat di mesjid besar. Kanjeng Susuhunan sangat patuh kepada agama Islam.

3. Tiap hari Sabtu pada waktu Kanjeng Sinuhun berkenan watangan main tombak kecil di atas kuda, semua abdi dalem diharuskan memakai sorban putih.

4. Kanjeng Sinuhun sama sekali tidak mau meneguk minuman keras. Yang diminumnya air panas atau teh.

5. Kanjeng Susuhunan mempunyai 6 orang abdi yang amat dikasihinya, yakni: 1. Raden Santri; 2. Pangeran Panengah; 3. Rade Wiradigda; 4. Raden Kanduruwan; 5. Kyai Bahman; 6. Kyai Nursaleh. Mereka diangkat sebagai pinisepuh dan penasehat Raja. Tiap malam 6 orang abd dalem itu tentu sowan Ingkang Sinuwun.

Lain daripada itu, para punggawa wedana ke bawah yang sering datang ke Loji kediaman wakil manca ditetapkan sebagai kurang patuh kepada agama Islam dan diturunkan pangkatnya. Para wedana diwajibkan memberi santapan kepada santri yang mengaji Qur’an secara bergiliran di dalam kraton.

Wakil Belanda sering datang di Mangkunagaran membicarakan soal Kanjeng Sunan Paku Buwono IV yang amat mendekatkan 6 orang abdinya yang ketat mengikuti peraturan agama Islam. Pendapat mereka amat diperhatikan, bahkan mereka dijadikan penasehat Raja.

Pada hari Rabu tanggal tiga bulan Besar tahun Jimawal, dengan sangkalan Tunggal Brahmana Sukendra penulisan dimulai. Yang menjadi awal cerita ialah sejarah leluhur kerajaan yang menurunkan darah Mangkunagaran. Dimulai dari Paduka yang Mulia Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono I, yang bertahta di negeri Kartasura. Ingkang Minulya berputra Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Mangkurat, kemudian berputra lagi, yang tidak lahir dan permaisuri.

Yang tua bernama Kanjeng Pangeran Arya Mangkunagara, dan yang muda bernama Kanjeng pangeran Arya Adiwijaya. Pangeran Arya Mangkunagara berputra Kanjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I.

Kocap kacarita pada waktu Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan Prabu Mangkurat mangkat; pengganti tahtanya ialah putra permaisuri yang kemudian bergelar Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II di Kartasura, yang kemudian pindah ke Negeri Surakarta Adiningrat.

Adapun Kanjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunagara berputra Kanjeng Pangeran Prabuwijaya, yang kawin dengan putri Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan Paku Buwono III yang bernama Gusti Kanjeng Ratu Alit. Dari perkawinan tersebut lahirlah Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara II. Dikisahkan banyak juga putra laki-laki maupun perempuan, akan tetapi tidak dikisahkan lebih lanjut karena hanya diambil yang pokok-pokok, yang memegang peranan baku dalam sejarah kerajaan.

Kembali kepada Pangeran Adiwijaya, berputra kaden Mas Arya Kusumadiningrat, yang berputra dua orang, kedua duanya menjadi menantu Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara II.
Kedua-duanya bergelar Pangeran. Yang tua bernama Pangeran Natakusuma, sedangkan ingkang rayi bernama Pangeran Adiwijaya.

Pangeran Natakusuma berputra tiga orang. Yang sulung perempuan, kemudian laki-laki, dan yang bungsu perempuan. Putra sulung tersebut menikah dengan Raden Adipati Natadiningrat di Semarang, sehingga tak lama kemudian pindah. Sesudah dewasa putra yang laki-laki bernama Pangeran Riya, sangat disayang dan dimanjakan oleh eyangnya.

Dan diharapkan menggantikan tahta, dan telah dimintakan persetujuan pihak Gubernemen, serta telah mendapat pula surat persetujuan dari eksekutif perusahaan multinasional, atau Sri Baginda Yang Bijaksana di Negeri Walandi. Ingkang Minulya di Negeri Walandi merestui dan mengabulkan panyuwunan tersebut.

Kocap kacarita Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara II telah surud ing kasidan jati. Layonnya dimakamkan di Astana Gunung Bangun, setempat dengan ayah dan eyangnya.

Pelaksanaannya tidak dikisahkan. Semuanya telah selesai dengan baik. Segera Kanjeng Pangeran Arya diangkat oleh gubernemen menggantikan tahta eyangnya dengan nama Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Arya Prangwadana, Rider Kolonel Komandan.

Dalam pada itu Kanjeng Pangeran Adiwijaya telah berputera tujuh orang, empat laki-laki, tiga perempuan. Setelah ayahandanya surud ing kasidan jati, putra sulungnya menggantikan kedudukan ayahnya dan tetap menggunakan nama Kanjeng Pangeran Adiwijaya. Tugasnya tidak berbeda dengan ayahandanya, yakni setiap dinten senin, dan Kamis menghadap ke datulaya.

Adapun ketiga ingkang rayi, semua dekat dan mendapat kepercayaan dari kakaknya, Kanjeng Pangeran Adipati Arya Prabu Prangwadana. Yang tua bernama Raden Mas Arya Kusumadiningrat, ingkang rayi bernama Raden Mas Arya Gandakusuma, dan yang termuda bernama Raden Mas Arya Gandawardaya, yang ternyata tidak panjang usianya. Raden Mas Arya Kusumadiningrat menikah dengan seorang putri adik Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Prabu Prangwadana.

Akan tetapi sebelum berputra telah meninggal dunia. Kocap kacarita Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran adipati Arya Prabu Prangwadana pun telah menikah dengan putra pamandanya, Kanjeng Pangeran Wuryamijaya. Dari perkawinan ini lahir dua orang putra, yang tua bernama Bandara Gusti Raden Ajeng Dunuk, yang muda bernama Bandara Gusti Raden Ajeng Denok. Ibunya lalu meninggal dunia dan dimakamkan di Astana Gunung Bangun.

Raden Mas Arya Gandakusuma yang telah disebutkan di muka tadi juga telah menikah dengan putra Kanjeng Pangeran Suryamataram, dan berputra sembilan orang, ialah: 1. Raden Mas Sutomo, 2. Raden Ajeng Seneng, 3. Raden Mas Sukardi, 4. Raden Mas Sukirna, 5. Raden Mas Sunendra, 6. Raden Mas Suman, 7. Raden Ajeng Suwiyati, yang mempunyai nama panggilan.

Ketiga putri adik Kanjeng Pangeran Arya Adiwijaya, yang tua menikah dengan Raden Cakrawijaya. Sesudah berputra dua orang mereka bercerai, lalu kawin lagi dengan Raden Karyadimeja, seorang warga dari Pacitan yang tinggal di Surakarta di lingkungan Mangkunagaran. Ingkang rayi menikah dengan Adipati Panjer, akan tetapi tak lama telah bercerai, dan kawin lagi dengan kerabat ayahnya, yakni putra uwaknya yang bernama Raden Tumenggung Cakra wadana, seorang punggawa Kasunananan yang menjabat sebagai Wedana pajak di Ampel. Perkawinan ini lestari.

Dikisahkan kembali Kanjeng Pangeran Adipati Arya Prabu Prangwadana setelah berusia empat puluh tahun telah mendapat restu Gubermen, ditetapkan dan winisuda sebagai Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran adipati Mangkunagara III.

Karena telah diakui dan dipercaya kemampuannya memimpin kawula dasihnya, dan gelarnya ditambah pula menjadi Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunagara III, Rider Kolonel Komandan. Sesudah itu Sri Paduka Kanjeng Gusti berkenan mengangkat kedua ingkang rayi, ditetapkan sebagai pimpinan legiun. Yang tua, yakni Raden Mas Arya Kusumadiningrat menjabat Mayor Prajurit Berkuda. Ingkang rayi yang bernama Raden Mas Arya Gandakusuma menjabat Mayor Prajurit Darat memimpin wadyabala sebesar enam ratus orang.

Demikian pula atas kehendak Sri Paduka Kanjeng Gusti, para sentana dan para abdinya ditetapkan kedudukannya, sesuai dengan martabat mereka masing-masing. Demikian tak ada selisih pendapat di antara kawula dasih dan keluarga, dan semua telah seia sekata. Waktu telah lama berlalu ketika istri Raden Mas Arya Gandakusuma meninggal paripurna melahirkan bersama bayi yang dilahirkannya.

Seluruh keluarga Gandakusuman gempar, dan Raden Mas Mayor Gandakusuma sendiri sangat sedih bagaikan lepas ruhnya. Para putra semuanya menangis sehingga suasananya kalut tak terlukiskan lagi. Sesudah tenang layon pun disantuni lalu dikebumikan di Astana Gunung Bangun. Sudah menjadi adat bagi darah Mangkunagaran, para sentana dekat selalu dikebumikan di situ.

Dikisahkan kembali perihal Negeri Surakarta Adiningrat, pada waktu itu yang bertahta ialah Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VII. Yang menjabat sebagai wakil Eksekutif lokal ialah Tuan Kolonel Busken.

Asisten eksekutif lokalnya Tuan Lideman. Senopati Perusahaan multinasional dalam benteng bernama Litnan Kolonel Van Haissen, juru bahasanya bernama Tuan Karel Frederick Winter. Yang menjadi patih ialah Raden Adipati Sasradiningrat II. Sedang-kan yang memegang kedudukan sebagai Pangeran Adipati Anom Amangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram pada waktu itu belum ada, karena Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VII tidak mempunyai putra laki-laki.

Dalam keadaan demikian yang diangkat sebagai wakil Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom ialah Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hangabehi, yang menurut abunya ialah kakak Sri Baginda. Pembesar sekerajaan Surakarta yang dapat disejajarkan ialah Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara III, Rider Kolonel Senopati Prajurit Pulau Jawa sebagai sraya Gubermen, yang telah mandiri, tidak berada di bawah kekuasaan Ingkang Minulya Raja.

Dapat pula dikisahkan bahwa Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara, Rider Kolonel Senopati menguasai tanah seluas 5.500 karya. Sudah berwenang menyelenggarakan pengadilan, dan berwenang pula mengangkat seseorang dalam kedudukan pangeran, tumenggung, mantri, dan punggawa, serta memiliki delapan ratus orang prajurit, yang dipimpin oleh para putra dan sentana. Jika mereka telah mahir dapat juga diserahi tugas mengatur siasat perang.

Kemahirannya sudah lama dengan Perusahaan multi-nasional, demikian pula busana serta persenjataannya. Akan terlalu panjang jika semuanya dikisahkan. Pada waktu itu putra Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara, Rider Kolonel Senopati sudah semakin banyak jumlahnya. Di antaranya, yang lahir dari selir ada dua orang yang telah dewasa. Yang tua sudah mendapat kedudukan sebagai Tamtama Prajurit Darat, diberi nama Pangeran Suryadiningrat. Yang muda diangkat sebagai Pimpinan Legiun, dan diberi nama Pangeran Suryamataram.

Saudara saudara yang lain tidak dikisahkan karena masih kecil-kecil. Juga atas perkenan Sri Paduka Kanjeng Gusti kedua ingkang rayi yakni Raden Mas Arya Sumadiningrat dan Raden Mas Arya Gandakusuma dinaikkan gelarnya menjadi pangeran. Akan tetapi namanya tetap seperti semula. Hanya Kanjeng Pangeran Arya Kusumadiningrat dialih tugaskan dan lingkungan keprajuritan dengan perubahan pangkat menjadi Mayor Idehan. Yang ditunjuk sebagai penggantinya ialah putra eyangnya yang bernama Raden Mas Arya Brajanata, berpangkat Mayor Legiun. Tertib militer yang bernuansa budaya tampak lebih adi luhung.

C. Mingkar mingkuring angkara

Pangkur

1. Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karenan Mardi siwi,
Sinawung resmining kidung.
Sinuba sinukarta,
Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap ing tanah Jawa,
Agama ageming aji.

2. Jinejer neng Wedhatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun.
Yen tan mikani rasa,
Yekti sepi asepa lir sepah samun,
Samangsane pasamuan gonyak ganyuk nglilingsemi.

3. Nggugu karsane priyangga,
Nora ngganggo peparah lamun angling,
Lumuh ingaran balilu,
Uger guru aleman,
Nanging janma ingkang wus
Waspadeng semu
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis.

4. Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda denira cacariwis,
Ngandhar-andhar angendhukur,
Kandhane nora kaprah,
Saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah,
Ngalingi marang si pingging.

5. Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane mung weh reseping ati,
Bungah ingaranan cubluk,
Sukeng tyas yen denina,
Nora kaya si punggung anggung gumrunggung
Ugungan sadina dina
Aja mangkono wong urip.

6. Uripe sepisan rusak,
Nora mulur nalare ting saluwir,
Kadi ta guwa kang sirung,
Sinerang ing maruta,
Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung,
Pindha padhane si mudha,
Prandene paksa kumaki.

7. Kikisane mung sapala,
Palayune ngendelekn yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning luhur,
Lha iya ingkang rama,
Balik sira sarawungan bae durung
Mring atining tata krama,
Nggon anggon agama suci.

8. Socaning jiwangganira,
Jer katara lamun pocapan pasthi,
Lumuh asor kudu unggul,
Semengah sesongaran,
Yen mengkono kena ingaran katungkul,
Karem ing reh kaprawiran,
Nora enak itu kaki.

9. Kekerane ngelmu karang,
Kekarangan saking bangsaning gaib,
Iku boreh paminipun,
Tan rumusuk ing jasad,
Amung aneng sajabaning daging kulup,
Yen kapengkok pancabaya,
Ubayane mbalenjani.

10. Marma ing sabisa bisa,
Bebasane muriha tyas basuki,
Puruitaa kang patut,
Lan traping angganira,
Ana uga angger ugering kaprabun,
Abon aboning panembah,
Kang kambah ing siyang ratri.

11. Iku kaki takokena,
Marang para sarjana kang martapi mring tapaking tepa tulus,
Kawawa nahen hawa,
Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
Tan mesthi neng janma wredha
Tuwin mudha sudra kaki.

12. Sapantuk wahyuning Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil

13. Tan samar pamoring sukma,
Sinuksmaya Winahya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep layaping aluyup,
Pindha pesating sumpena,
Sumusuping rasa jati.

14. Sejatine kang mangkana,
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,
Bali alaming ngasuwung,
Tan karem karameyan,
Ingkang sipat wisesa winisesa wus,
Mulih mula mulanira,
Mulane wong anom sami.

Berdirinya Pura Mangkunegaran menambah kasantosan budaya Jawa. Unsur logika etika estetika berjalan beriringan. Tanah Jawa makin arum kuncara.

(LM-01)

BAGIKAN KE :