Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)
A. Nusantara Berharap Suasana Aman Damai.
Wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke selalu mengutamakan perdamaian dan keselamatan bersama. Keselarasan sosial diperoleh dengan membina masyarakat yang bersatu padu guyub rukun. Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa. Muaranya hubungan warga jadi serasi. Masing- masing warga selalu seimbang.
Pitutur luhur warisan nenek moyang menjadi panduan hidup bagi Pak Jokowi dalam mewujudkan perdamaian. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu menciptakan suasana ayem. Suasana batin yang tenang, tidak ambisius, menerima dan tidak terpancing oleh perubahan yang mengagetkan disebut ayem. Hidup dipandang sebagai menjalankan takdir Tuhan, saderma nglakoni. Tidak ada konsep kalah menang dalam persaingan. Semua menjalani garis hidupnya masing -masing.
Hubungan antara manusia dengan alam terjadi keseimbangan. Dalam alam pedesaan, suasana ayem sangat menonjol. Perasaan senasib sepenanggungan, seiring sederita, menciptakan solidaritas yang sangat kuat yang buahnya adalah keikhlasan untuk saling membantu. Oleh sebab itulah kekerasan jarang dijumpai di desa, karena didorong oleh suasana kekeluargaan yang ayem. Kedamaian seperti suasana Candi Sukuh.
Candi Cetho lan Sukuh sinawang katon pangkuh,
Sanadyan prasaja ananging mawa prabawa, Dadi tandha yekti luhuring budaya,Wiwit kuna Nuswantara wus kaloka.
Akeh sing durung ngerti papan dununge candi,
Cedhak gunung Lawu winangun awujud tugu,
Minangka sarana manembah Hyang Widhi, Ingkang tansah paring berkah lan rejeki.
Kala jaman smana Candi Sukuh lan Cetho, Ujaring pra wredha yasan warga Majalengka.
Kasor andon yuda nasak wanawasa.
Urip nrima ing sukuning Lawu arga.
Candi Sukuh lan Cetho saiki dadi srana. Boten mung kinarya sasana manungku puja, Nanging uga dadi papan wisata di,
Sarta uga kanggo noleh jaman kina.
Pemahaman atas tafsir penjelasan makna. Candi Sukuh terletak di ereng- ereng Gunung Lawu. Di sini terdapat cerita Sudamala. Isinya tentang Sadewa yang meruwat Bathari Durga. Sejak dulu kala tradisi ruwatan sudah berlangsung di Tanah Jawa. Upacara ruwatan murwakala berguna untuk menentramkan hati petani.
Upacara tradisional bagi masyarakat untuk mencapai suasana ayem tentrem, aman damai, sehat sejahtera. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu menciptakan suasana ayom bagai masyarakatnya. Ayom berarti teduh, sejuk dan terlindungi. Orang yang berjiwa ayom berarti bisa dijadikan tempat berteduh, tempat berlindung yang menyejukkan.
Payung agung merupakan gambaran bagi seorang pemimpin yang baik. Suasana perdamaian Nusantara diperoleh dengan sikap saling menghormati.
Pemimpin jujur lahir batin. Pemimpin bagi rakyat desa adalah pengayoman. Ia berkewajiban menciptakan rasa ayem- ayom yang dipimpinnya. Prinsip seorang pemimpin yaitu menciptakan kesejahteraan anak buah terlebih dahulu, baru dirinya berhak mengenyam kenikmatan. Kalau prinsip ini tidak dilaksanakan, maka solidaritas anak buah akan memudar dan pelan pelan akan meninggalkan pemimpinnya, dan dengan sendirinya mereka akan mencari pengayoman baru.
Tiap warga perlu waspada dalam hati. Lebih tragis lagi kalau seorang pemimpin hanya mengejar kenikmatan dan itu dilakukan dengan penuh tipu muslihat. Pemimpin demikian hari jatuhnya tinggal menunggu waktu. Seorang pemimpin yang tulus dan bisa memberi pengayoman maka jika pergi akan ditangisi oleh anak buahnya. Sebaliknya pemimpin yang tidak bisa memberi pengayoman, kepergiannya akan disambut dengan tawa dan kelegaan hati anak buah.
Dhadhanggula
Amrih manis Yen amardi siwi,
Rinakit resmining rerumpakan,
Dimen lantip graitane,
Suba sita ywa kantun,
Mring asepuh tansah ngajeni,
Kekanthi mitra rowang, Rumaket nyadulur, yen tumindak tepa awak, Aja nganti dahwen open drengki srei,
Sumungah sesongaran.
Welas asih mring sagung dumadi,
Angluhurna Asmaning Pangeran,
Ing sarina lan wengine
Lan mantep idhepipun,
Anut agamane pribadi, Apadene kapercayan,
Ing bebrayan agung,
Adhedhasar Pancasila,
Uga Undang- undang Dasaring negari, Republik Indonesia.
Eling putra ndungkap limang warsi, ingkang ugi winastan balita,
Aywa sisip pamerdine,
Den timbang bobotipun, Ajeg saben pendhak sesasi,Bareng warga bebrayan, Tumuju posyandu, Wus cumawis bat- obatan, Lamun sakit tumuli glis ditambani,
Murih enggal ing waras.
