Sejarah Seni Sandiwara Kethoprak

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA HP. 087864404347)

A. Perkembangan Sandiwara Kethoprak

Kethoprak merupakan jenis kesenian sandiwara Jawa. Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan yang berkuasa tahun 840 – 856 telah dikembangkan seni sandiwara. Lakonnya tentang kisah percintaan Raden Bandung Bondowoso kepada Rara Jonggrang. Pementasan ini bersamaan dengan peresmian pemugaran candi Prambanan.

Pada jaman kerajaan Singosari pada tahun 1223 diadakan pagelaran sandiwara ceritanya tentang perjalanan Dewi Kilisuci. Putri Raja Airlangga ini menjadi pertapa yang sangat sakti mandraguna. Berkat kesaktiannya Dewi Kilisuci dianggap sebagai sesepuh kerajaan Jenggala dan kerajaan Daha. Segala keputusan Dewi Kilisuci menjadi pertimbangan utama bagi pelaksanaan kebijakan negara.

Cerita tentang percintaan digambarkan dengan sempurna pada masa pemerintahan Prabu Jayakatwang di Kediri. Pada tahun 1283 diselenggarakan pementasan sandiwara. Lakonnya mengambil tentang percintaan Panji Asmarabangun dengan Galuh Candrakirana. Secara serial dipentaskan juga lakon Ande-ande Lumut, Enthit, dan Panji Kudanawarsa.

Lakon sandiwara umumnya mengambil tema sejarah yang bernilai pendidikan, kepahlawanan, keutamaan, serta keteladanan. Unsur pembinaan mental spiritual masyarakat sangat diperhatikan dalam pentas sandiwara. Dengan demikian sandiwara menjadi sarana yang efektif untuk membina karakter bangsa.

Teater dalam khasanah seni tradisional lebih populer dengan istilah sandiwara. Berbagai macam bentuk sandiwara tradisional di antaranya adalah kethoprak, ludruk, kentrung, wayang kulit, wayang gedhog, wayang thengul dan wayang klithik. Pementasan sandiwara tradisional itu senantiasa menggunakan pedoman pakem yang berprinsip pada aspek tontonan, tuntunan dan tatanan.

Sandiwara secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta. Sandi berarti rahasia, lambang, simbol, misteri dan samar-samar. Wara artinya berita, warta, informasi, ajaran, piwulang atau pesan-pesan. Secara maknawiyah sandiwara mengandung pengertian ajaran kehidupan yang disampaikan dengan penuh perlambang estetis. Dalam hal ini penonton diberi kebebasan untuk menafsirkan pesan-pesan simbolik.

Interpretasi terhadap kandungan serta piwulang pentas sandiwara pada umumnya memang memuat sasmitaning ngaurip, sebagaimana pagelaran wayang purwa. Wayang adalah wewayangan atau bayang-bayang kehidupan yang meliputi purwa, madya, wasana yang perlu tafsir semiotik dan hermeneutik.

Tujuan utama pementasan sandiwara dalam perspektif kearifan lokal yaitu weruh sangkan paraning dumadi, atau tahu asal-muasal hakikat hidup. Oleh karena itu setiap pergelaran teater tradisional diharapkan mampu meningkatkan daya ketajaman spiritual demi kebahagiaan lahir batin. Dalam kancah kebudayaan Jawa kebenaran tertinggi adalah tercapainya tingkat manunggaling kawula Gusti, yang dilalui dengan cara menghayati ngelmu kasampurnan.

Seiring dengan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, pada awal abad XX, tumbuh beraneka rupa organisasi kemasyarakatan. Budi Utomo sebagai cikal bakal kebangkitan nasional, kemudian disusul oleh menjamurnya organisasi yang bersifat modern, baik keagamaan, pendidikan, politik maupun seni. Rupa-rupanya masing-masing organisasi itu juga membina perkumpulan teater sebagai wahana sosialisasi visi, misi organisasi. Tema dan lakon yang diusung biasanya selalu berkaitan dengan garis ideologi.

Kelompok kebudayaan yang tergabung dalam angkatan Balai Pustaka menekankan topik pro kontra terhadap adat istiadat yang dianggap kolot. Komunitas seni budaya membawa persoalan sekitar kawin paksa, minimnya emansipasi wanita dan masalah domestik rumah tangga. Jelas sekali para pegiat budaya menghendaki suasana yang lebih longgar, tanpa dikekang oleh tradisi yang ketinggalan zaman.

Lain halnya dengan komunitas yang tergabung dalam Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru memberi warna yang lebih luas. Komunitas Pujangga Baru dengan tokoh-tokohnya seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armyn Pane dan Amir Hamzah mengarahkan kebudayaan Indonesia ke arah yang lebih universal.

Pengaruh gerakan renaisance dan aufklarung yang menandai peradaban Eropa masuk dalam hati sanubari mereka. Kebangkitan masyarakat Eropa yang menghendaki demokrasi, kompetisi, inovasi, kreasi dan produksi menurut mereka perlu ditiru oleh bangsa Indonesia agar cepat mencapai kemajuan.

Setelah Indonesia merdeka, orientasi kebudayaan menga-lami pergeseran. Semangat anti asing bergelora. Pentas-pentas teater pun kerap mengutip idiom ultranasionalis. Misalnya rawe-rawe rantas malang-malang putung, sedumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati pecahing dada wutahing ludira, lila lan legawa kanggo mulyaning negara, holopis kuntul baris. Semua semboyan ini sesuai dengan derap revolusi. Darah anak muda yang bergolak akan mudah membara dengan ungkapan-ungkapan patriotik.
Pernyataan heroisme itu semakin bersemangat tatkala terdapat gagasan perang melawan dominasi asing. Sangat disadari oleh para pemimpin saat itu, bahwa slogan propagandis yang populis di tengah rakyat perlu sebagai penyalur energi.

Untuk ungkapan yang menunjukkan anti penjajahan terdapat dalam kalimat melu Landa urip rekasa, melu Jepang kesingkang-singkang. Teater tradisional yang terwadahi dalam perkumpulan seni ludruk, kethoprak dan wayang wong pada era tahun 1950-an akrab dengan lagu-lagu yang berisi slogan dan propaganda. Kita kutipkan lagu PNI :

Lagu PNI

Sosio nasional demokrasi
Kepala banteng segitiga PNI
Buruh tani saka guru revolusi
Aja rame-rame ana pedhet liwat kene
Pedhet loreng-lorang yen wis gedhe dadi banteng
Hidup Bung Karno!

Dokumentasi kegiatan teater yang berhubungan dengan kampanye politik banyak disimpan dalam perpustakaan Cornel University. Barangkali sangat menarik bila arsip dan dokumentasi itu kita buka lantas dipelajari, diteliti dan dikaji secara mendalam sebagai refleksi dan referensi historis. Dengan demikian kita dapat membuat anyaman peradaban dengan berpijak kepada nilai kearifan masa lampau.

Pergantian kepemimpinan nasional berdampak pula kepada perilaku berkesenian. Banyak group teater yang berpindah haluan. Sebelumnya teater tradisional banyak yang menjadikan partai politik sebagai patron. Kemudian ketika tentara berkuasa, group-group seni teater pun berafiliasi dengan penguasa baru. Dapat diambil contoh Kethoprak Mataram Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro.

Group kethoprak ini terang-terangan menyebutkan bahwa Kodam VII Diponegoro beserta jajarannya adalah pihak yang menjadi pembina. Adalagi kelompok Ludruk Kopasgat Trrisula Darma. Kopasgat adalah Komando Pasukan Gerak Cepat yang bermarkas di Lapangan Udara Iswahyudi Jawa Timur. Paguyuban Ludruk ini di bawah pembinaan TNI Angkatan Udara.

Setelah tahun 1998, cuaca perpolitikan di Indonesia berubah. Gerakan reformasi juga berpengaruh terhadap perkembangan seni teater. Hubungan antara teater dan politik berlangsung lagi. Tetapi kurang begitu mendalam. Satu-satunya teater tradisional yang kerap tampil adalah pagelaran wayang purwa.

Sementara wayang wong, kethoprak dan ludruk akhir-akhir ini jarang tampil. Alasannya beaya produksi sekarang terlalu mahal. Tanpa ada sponsor yang mendukung finansial rasanya terlalu berat. Untuk itu memang diperlukan usaha yang kreatif agar permasalahan ini bisa diatasi bersama, tanpa mengaburkan esensi unsur seni.

Panggung teater Indonesia kini banyak diperankan oleh pegiat sinetron, kethoprak humor, film terjemahan, komedi malam, yang tiap saat ditayangkan melalui berbagai stasiun televisi. Kelompok ini bisa eksis karena dukungan dana yang berlimpah ruah dari perusahaan besar. Akan tetapi ada kegelisahan baru karena pementasan teater lewat televisi penggarapanya kurang maksimal.

Para pelakunya terlalu sedikit pengalaman sehingga hasil produksinya mendapat reaksi yang kurang menyenangkan di hadapan para pemirsanya. Kita ambil contoh sinetron dengan judul Jaka Tarub, Jaka Tingkir dan Prabu Angling Darma. Penampilan sinetron ini tampak kurangnya dari segi improvisasi, kharakterisasi dan musikalisasi.

Harapan kita dunia teater Indonesia akan mengalami kemajuan. Pegiat seni perlu lebih keras dalam berusaha dan bekerja. Inovasi dan kreasi mesti ditingkatkan terus-menerus dengan cara melakukan pengkajian dan pendalaman. Bila perlu melakukan kerja sama dengan kelompok antar bidang.

B. Pementasan Seni Kethoprak

Cerita ketoprak banyak diambil dari Babad Demak, Babad Pajang, Babad Majapahit, Babad Tanah Jawi, Babad Kraton, Babad Kartasura, Babad Mangkubumi dan Babad Dipanagara. Unsur ketauladanan dan kepahlawanan para bangsawan Jawa mendominasi lakon ketoprak.

Bagi kebanyakan orang Jawa, ketoprak merupakan sumber inspirasi nasionalisme sekaligus sarana nostalgia pada kehidupan masa lampau. Kebijakan dan kebajikan yang diperagakan dalam ketoprak membuat para pemirsanya seolah-olah bagian dari panggung.

Menurut Wiwien Widyawati (2010), ada juga ketoprak yang menceritakan kisah dengan setting Timur Tengah. Negeri Mesir, Yaman, dan Turki menjadi latar cerita. Biasanya lakon ini bersumber dari kitab-kitab Menak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

Pujangga Kyai Yasadipura berhasil menerjemahkan Serat Menak Sarehas, Menak Gandrung, Umarmaya Umarmadi, Rengganis, Menak Lare dan Nabi Yusuf. Semua cerita ini mengandung nama Islam. Hadirnya nama Islam ini sekaligus cara akomodatif untuk melakukan akulturasi kebudayaan.
Kalau diamati secara sungguh-sungguh, ketoprak menjadi legitimasi yang ampuh atas eksistensi Kerajaan Mataram. Pendiri Mataram yang bernama Panembahan Senapati diceritakan dapat menakhlukkan dahsyatnya pantai selatan, bahkan penguasanya yang bernama Kanjeng Ratu Kidul dijadikan garwa prameswari.

Tokoh bijaksana yang mendukung keprabon Senopati adalah trio legendaris yaitu Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Juru Martani. Ketiganya betul-betul dilukiskan sebagai pribadi agung dan anggun. Tutur kata, ilmu dan tingkah lakunya sangat ideal sebagai panutan.

Dalam lakon Arya Penangsang Gugur, ketiga sesepuh Mataram itu sangat berjasa dalam membela Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. Dengan begitu munculnya Sutawijaya yang kelak menjadi raja Mataram pertama dapat nglintir keprabon berdasarkan kerelaan Sultan Hadiwijaya. Bahkan dalam banyak cerita ketoprak, Sutawijaya adalah putra Sultan Hadiwijaya.

Darah Pajang mengalir ke darah Mataram. Kita semua tahu bahwa Pajang mendapat legitimasi dari tiga poros kekuasaan besar di Tanah Jawa yaitu Majapahit, Demak dan Pengging. Dari sini Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati semakin kokoh posisinya.

Raja-raja Mataram selanjutnya digambarkan sebagai pahlawan besar dan sakti mandraguna. Terlebih-lebih gambaran mengenai Sultan Agung, bahkan diberi gelar setara wali. Dalam berbagai cerita, Sultan Agung tampil sebagai narendra gugn binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana.

Pada suatu saat Sultan Agung dan raja-raja sebelumnya mesti mendapat restu dan bimbingan spiritual dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Kenyataannya, semua raja Jawa Islam meyakini bahwa Sunan Kalijaga adalah guru spiritual yang berwibawa dan sangat dihormati.

Kelebihan ketoprak dalam setiap kali adegan adalah keterampilan dalam menerapkan unggah-ungguhing basa, kasar alusing rasa dan jenggar genturing tapa. Kemampuan berbahasa Jawa halus sesuai dengan kaidah parama sastra menjadi ukuran mutlak bagi pemainnya. Pengetahuan tentang udanegara dan tata praja akan memantapkan perwatakan. Seorang raja yang sedang lenggah sinewaka mesti tampil berwibawa dan meyakinkan. Dia menjadi pusat perhatian.

Pemain yang didhapuk sebagai garwa prameswari haruslah putri cerdas yang tak boleh nguciwani. Ulat, patrap, dan pangucap hendaknya bisa mengimbangi sang raja, baik dalam hal wawasan maupun kelakuan. Bila perlu nasihat atau paramayoga yang dihaturkan pada sang Baginda Raja dapat ngudhari ruwet rentenge negari. Oleh karena itu, peraga yang didhapuk sebagai prameswari mesti banyak latihan. Mimik, gerak dan cara berucap perlu gladhen terus-menerus, sehingga penampilannya memuaskan semua pihak.

Ajaran mengenai kearifan hidup ditunjukkan oleh Sultan Hadiwijaya ketika mau dibunuh oleh seorang utusan Adipati Jipang. Berkat kesaktian Sultan Hadiwijaya pusaka yang digunakan untuk membunuh itu tidak mempan. Dia tidak dihukum, malahan diberi hadiah. Begitulah keluhuran budi Sultan Pajang yang pantas menjadi suri tauladan.

Juga ketika Sultan Hadiwijaya masih muda dengan nama Joko Tingkir yang suka mencari ilmu pengetahuan. Tidak ada tokoh dalam sejarah Jawa yang gigih menuntut ilmu seperti Joko Tingkir. Di mana pun ada orang pandai, dia mesti berguru. Kisah ini mengingatkan tokoh pewayangan, Raden Arjuna, yang suka berguru kepada brahmana suci.

Mobilitas vertikal yang dilakukan oleh Joko Tingkir ternyata melalui proses pendadaran yang tidak gampang. Strategi kultural dan struktural dipakai Joko Tingkir dalam mewujudkan cita-citanya. Sebagai keturunan darah biru, Joko Tingkir mampu memposisikan diri secara tepat, dengan cara merangkul kelas menengah, birokrasi, cendekiawan dan kaum pinggiran. Sukses gemilang Joko Tingkir membuktikan idiom tradisional lara lapa tapa brata dalam perjuangan.

Contoh lakon kethoprak yang mengambil tema sejarah yaitu cerita Prabu Brawijaya dan cerita Joko Tingkir. Lakon Prabu Brawijaya merupakan cerita legitimasi historis. masyarakat Jawa berharap atas keteladanan Prabu Brawijaya Raja Majapahit.

Prabu Brawijaya adalah raja Majapahit yang telah mewariskan semangat kebangsaan dan kenegaraan. Jaman keemasan Kraton Majapahit selalu dikenang dari masa ke masa dengan penuh rasa kebanggaan. Wilayah luas, pemerintahan berwibawa, militer kuat, rakyat makmur, pendidikan maju, penguasaan bahari kelautan, dan kebudayaan berkembang adalah prestasi gemilang yang diukir oleh Prabu Brawijaya dalam memimpin kraton yang beribukota di Trowulan, Mojokerto ini.

Dalam lintasan sejarah, Prabu Brawijaya benar-benar kepanjingan wahyu cakraningrat, yang merupakan lambang derajat kekuasaan. Siapa saja yang memperoleh wahyu ini, dirinya dipercaya akan mampu memegang kendali kepemimpinan. Dinasti Prabu Brawijaya kelak menjadi penguasa Jawa yang terkemuka dan berpengaruh.

Para raja Kasultanan Demak Bintoro adalah keturunan langsung Prabu Brawijaya. Demikian pula Kraton Pajang dengan rajanya, Sultan Hadiwijaya, masih mengalir darah raja besar Majapahit. Munculnya Kraton Mataram pun secara genealogis adalah trah Dinasti Prabu Brawijaya.
Sedemikian besar pengaruhnya dalam panggung sejarah nasional, maka setiap pemimpin kontemporer masa kini yang muncul akan selalu berusaha mengklaim dirinya masih keturunan Prabu Brawijaya. Legitimasi politik yang bersifat magis genetis ini memang membuat percaya diri di kalangan pemimpin lokal dan nasional. Bagi mereka Petilasan Prabu Brawijaya tetap menjadi referensi, refleksi dan inspirasi.

Sedangkan lakon Joko Tingkir bertolak dari pendirian kerajaan Pajang pada tahun 1546. Dengan berlatar daerah Pengging, pementasan kethoprak dengan lakon Joko Tingkir cukup memberi hiburan segar. Penonton dapat mengambil suri teladan atas perjuangan yang gigih.

Joko Tingkir dalam panggung sejarah Indonesia mempunyai beberapa keunggulan kepribadian (psikologis), kemasyarakatan (sosiologis), keturunan (genetis), kenegaraan (yuridis) dan keagamaan (asketis). Kelima keunggulan itu menjadikan Joko Tingkir mampu tampil sebagai tokoh yang handal, fenomenal dan profesional.
Ditinjau dari segi genetis, Joko Tingkir merupakan trah Kraton Majapahit. Jelas sekali dia adalah satria agung trahing kusuma rembesing madu, keturunan bangsawan besar. Secara sosiologis keluarga besar Joko Tingkir berhasil membangun jaringan sosial yang kuat dan mengakar. Ayah Joko Tingkir yang bernama Ki Ageng Pengging menjadi pelopor Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). LSM pimpinan Ki Ageng Pengging ini selalu didukung oleh anak muda, kelas menengah dan kaum reformis yang rindu perubahan.

Akhirnya Joko Tingkir menjadi raja di Kraton Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Secara yuridis kenegaraan dia dapat mewujudkan good governance dan clean government, pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Ini wajar sekali, karena semasa mudanya Joko Tingkir memiliki psikologi kepribadian yang mengagumkan.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *