Ki Panut Darmoko Pelestari Pakem Pedalangan

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, Hp: 0878 6440 4347)

1 . Guru Seni Pewayangan.

Bagi masyarakat pedalangan nama Ki Panut Darmoko sungguh sangat familiar. Beliau memang seniman kawentar, misuwur dan kaloka. Mulai dari perkotaan, pedesaan dan pegunungan banyak yang mempunyai kesan dan rekaman tentang sejarah kehidupannya.

Ki Panut lahir pada tahun 1930. Dengan demikian beliau mengalami hidup tiga jaman, yaitu jaman Belanda, jaman Jepang dan jaman kemerdekaan. Sampai saat ini telah menyaksikan enam presiden Republik Indonesia. Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 1966, Ki Panut pernah diundang untuk pentas wayang di istana negara. Semalam suntuk Presiden Soekarno kersa mirsani. Bahkan pada pagi harinya, Presiden Soekarno mengajak kembul bujana andrawina.

Pada tahun 1985 beliau tampil lagi di istana negara atas undangan Presiden Soeharto. Khalayak sudah tahu bahwa Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto sangat ahli dalam budaya Jawa. Keduanya mampu memberi referensi, apresiasi dan refleksi atas seni pakeliran. Baik Bung Karno maupun Pak Harto, dua-duanya menjadikan tokoh-tokoh utama pewayangan sebagai kaca benggala ulat patrap pangucap, acuan dalam berpikir, berucap dan bertindak.

Dalang wayang purwa yang tampil di hadapan Presiden RI pasti sudah melalui seleksi yang amat ketat. Dari sisi kualifikasi, kontribusi, prestasi dan dedikasi tentu dinilai oleh tim panitia. Masyarakat dan pemerintah mengetahui kemampuan sang dalang dalam memberi pencerahan serta hiburan yang bermutu. Pengakuan formal informal tersebut yang membuat Presiden RI memberi anugerah kepada Ki Dalang untuk tampil di istana sebagai tanda kehormatan. Diharapkan sang dalang dalam berolah seni semakin waskitha dan wicaksana.

2. Kawruh Pedalangan

Kakek Ki Panut Darmoko bernama Ki Anggeg. Selama dua abad lamanya Ki Anggeg berhasil membangun dinasti pedalangan. Ki Anggeg berkesempatan menghirup mekar-mekaring kabudayan Jawi abad 19 dan abad 20. Puncak-puncak kebudayaan Jawa yang berpusat di Kraton Surakarta Hadiningrat mengalir deras ke seluruh pelosok relung-relung wilayah Jawa. Pujangga Jawa seperti Yasadipura, Ranggawarsita, Paku Buwana dan Mangkunegara kreatif dan produktif dalam berkarya cipta budaya. Pada tataran keluhuran dan keagungan, budaya Jawa mencapai status edi peni dan adi luhung. Edi peni berkaitan dengan puncak estetika atau keindahan. Adi luhung berkaitan dengan aspek kefilsafatan.

Demi nguri-uri kabudayan Jawi, Ki Anggeg membuat paheman atau perkumpulan yang beranggotakan penggemar seni budaya. Perkumpulan ini mirip padepokan mini. Padepokan Ki Anggeg merupakan pusat gladhen dan berlatih kesenian. Seni pedalangan, karawitan, kesusastraan, diolah bersama seniman sejawat, sehingga suasana di sekitarnya selalu regeng dan nggayeng. Tamu-tamunya hilir mudik, cantrik-cantriknya berdatangan untuk ngangsu kawruh undhaking seserepan.

Dua putra Ki Anggeg bernama Mudayat dan Mukadi. Kedua orang ini mampu mewarisi ketrampilan orang tuanya. Ki Mudayat dikenal sebagai dalang yang laris karena kualitas sanggitnya. Sedangkan Ki Mukadi dikenal sebagai dalang yang laris karena kualitas sabetannya.

Di samping mengkader putra-putranya, Ki Anggeg juga banyak mengorbitkan dalang mumpuni yang mau nyantrik padanya. Contohnya, Ki Darmo Gempon yang berdomisili di Duwel, Sukorejo, Rejoso, Nganjuk. Sampai tahun 1940-an Ki Darmo Gempon amat kondang sebagai dalang yang nyaring suaranya. Murid Ki Darmo Gempon bernama Ki Tarimin atau Ki Hardjo Soekondho. Beliau seorang dalang dan pengrawit mumpuni.

Ki Mudayat wafat tahun 1948, sementara calangan atau tanggapan pentas masih banyak. Beruntung sekali putranya yang bernama Panut Darmoko bersedia nyaur utang orang tuanya. Dalam usia 18 tahun rupanya sudah matang kualitas pedalangannya. Jauh sebelumnya, Panut kecil memang terbiasa ikut kakeknya ndalang. Kadang-kadang kakeknya memaksa Panut kecil untuk mucuki pentas. Usianya saat itu kira-kira 4 tahun. Penonton bersorak-sorai, tepuk tangan dan lega hatinya. Anak kecil bisa ndalang memang langka. Jadilah pentas dalang Panut kecil meriah dan lucu. Demikian pula, saat pamannya Ki Mukadi ndalang, Panut juga disuruh mucuki pada awal pentas. Sejak kecil bintang Panut selalu bersinar terang, berkat ketekunan dan kerja keras.

Tumuju marang kamulyan ora alus dalane, akeh sandhungane, gedhe godha rencanane. Ibarat wong lelayaran ing samudera agung, alun lan ombak dadi pepalange. Nanging sapa temen bakal tinemu, sing tekun bakal antuk teken wekasan tekan. Waton gembleng tekade, nyawiji pambudi dayane, linambaran tawakal.

Begitulah ajaran nenek moyangnya yang selalu dikutip oleh Ki Panut melalui wejangan Begawan Abiyasa di pertapaan Saptaharga.

3. Ilmu Laku

Begitu tamat dari pendidikan tingkat SMP, Panut Darmoko lantas meneruskan studi di kota Surakarta. Tepatnya di Sekolah Konservatori, cikal bakal Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Sekolah Tinggi Seni Karawitan Indonesia, Institut Seni Indonesia. Mendalami ilmu pengetahuan di kota budaya ini berlangsung antara tahun 1950-1954. Empat tahun lamanya berkecimpung dalam pendidikan formal bidang kesenian.

Kesadaran untuk mengembangkan diri melalui pendidikan menunjukkan stratifikasi keluarganya. Kecuali mahir berkesenian, keluarga keturunan Ki Anggeg tetap mersudi kawruh, memetri ngelmi. Ki Panut sekeluarga tidak menjadikan seni semata-mata sebagai sarana ngupa boga, ngamen, mbarang atau aktivitas demi bayaran. Lebih dari itu seni merupakan elemen kehidupan yang dapat memperkaya jiwa serta membuat mutu hidup lebih baik. Kredo ini sesuai dengan ungkapa universal ‘dengan seni hidup menjadi lebih indah, dengan ilmu hidup menjadi lebih mudah, dengan agama hidup menjadi lebih terarah.’

Dalam bidang kesenian keluarga ini terbukti mewujudkan dinasti budaya yang terpandang. Dari generasi kakek yang diwakili Ki Anggeg, kemudian diteruskan oleh generasi bapak yang diwakili Ki Mudayat dan Ki Mukadi. Sedangkan generasi anak diwakili oleh Ki Panut Darmoko dan Ki Fc Pamudji. Harap diketahui adik Ki Panut yang bernama Ki Fc Pamudji adalah pengrawit terkenal spesialis penggender. Bila Ki Panut sedang ndalang, penggender-nya adalah Ki Pamuji. Kompak, serasi dan menggairahkan. Begitulah penampilan sang kakak dan sang adik.

Dunia pendidikan digeluti oleh dua insan bersaudara. Dua-duanya berprofesi sebagai guru. Sampai dengan tahun 1988 Pak Panut dan Pak Pamuji mengajar di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Nganjuk. Antara tahun 1960-1980-an SPG merupakan sekolah yang populer di kalangan masyarakat pedesaan. SPG menjadi sarana efektif untuk melakukan mobilitas vertikal. Mengubah status anak petani menjadi pegawai negeri, menjadi idaman kebanyakan masyarakat desa. Lembaga pendidikan SPG menawarkan jalan mobilitas sosial bagi anak-anak petani.

Status pengajar di SPG menjadikan Ki Panut dan Ki Pamudji dikenal sampai pelosok pedesaan. Guru-guru SD di seluruh kabupaten Nganjuk pada umumnya bekas anak didiknya. Murid-murid ini pulalah yang juga termasuk reklame gratis bagi Pak Panut dan Pak Pamudji dalam pemasaran seni pedalangan. Orang tua murid merasa bangga jika sangggup mementaskan Ki Panut di rumahnya. Ki Panut menjelmakan diri sebagai ikon status sosial. Siapa saja yang dapat nanggap dalang Panut, maka akan terpandang. Ada pemeo ‘nanggap dalang Panut sama dengan tuku jeneng.’

Kenyataannya memang begitu. Antara tahun 1950-1980 jadwal pentas Ki Panut padat sekali. Tentu berbeda dengan dalang lokal lainnya. Para dalang cuma mengandalkan aspek ketrampilan seni, sementara Ki Panut didukung oleh posisinya sebagai guru utama di Nganjuk. Ditambah lagi dengan jaringan elit lokal dan nonlokal, seolah-olah nama Ki Panut sulit ditandingi hanya dengan kompetisi wantahan.

Istri Ki Panut sendiri juga bekerja sebagai guru. Berkat keteladanannya Bu Panut mencapai puncak karir sebagai Kepala Sekolah Dasar. Lengkap sduah keluarga Ki Panut yang mempelopori kemajuan pendidikan di Nganjuk. Keteladanan Ki Panut beserta istri ini menjadi inspirasi buat putra-putri beserta cucu-cucunya. Dari ekluarga pendidik ini mendorong mereka untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Pengaruh Ki Panut di hadapan para elit birokrasi, politik, pemerintahan di Nganjuk memang tinggi. Dr. Soetrisno, R., M.Si, Bupati Nganjuk periode 1993-2003 mengakui hal itu. Sebelum beliau bertugas menjalankan pemerintahan, terlebih dulu sowan Pak Panut untuk mohon doa restu. Beliau menghadap Pak Panut bersama dengan istrinya, Dra. Doni RH. Soetrisno, M.Si. Tidak cuma itu saja, Pak Tris juga mempromosikan Pak Panut untuk mendalang di UGM dan beberapa tempat di luar negeri.

Putra Ki Panut yang bernama Mas Tulus bisa mendalang, nabuh karawitan dan main musik modern. Sejak sekolah di SMP bakatnya sudah tampak. Pada suatu saat memang tampil. Masyarakat Nganjuk kelak Mas Tulus akan menerusklan darma bakti orang tuanya sebagai dalang tersohor. Kharisma Ki Panut yang tinggi semoga terwariskan pada putranya ini.

Dalam bidang agama, keluarga Ki Panut juga sangat memperhatikan. Di rumahnya terdapat sebuah mushola sebagai sarana peribadatan sehari-hari. Manjing sanggar Pamelengan, menjadi sarana untuk mendekatkan pada Gusti Allah SWT. Di sinilah manifestasi dari ungkapan agama ageming aji. Pada tahun 1984 Ki Panut menunaikan ibadah di tanah suci Mekkah. Lengkap sudah gelar beliau sebagai dalang Ki Haji Panut Darmoko.

4. Reriptan Edi Peni

Dunia kreatif juga dilampaui oleh keluarga Ki Panut Darmoko. Namanya Fc Pamudji. Orang Nganjuk lebih mengenal ketika tampil mendampingi Ki Panut saat ndalang. Bila sedang nggender, suara iramanya sangat halus dan teratur. Indahnya bukan main. Pas sekali mengiringi suara Ki Panut yang melengking cumlering. Ki Panut dan Ki Pamudji ibarat tumbu oleh kekep. Klop. Betul-betul mendatangkan suasana serasi dalam pentas pakeliran.

Di kalangan jurnalistik Jawa nama Fc Pamudji tidak asing lagi. Beliau kerap mengisi rubrik di Kalawarti berbahasa Jawa. Misalnya majalah Panyebar Semangat dan Jayabaya yang terbit di kota Surabaya. Cerita bersambungnya dimuat secara serial di majalah Jayabaya dengan judul Sumpahmu Sumpahku. Pembacanya penasaran terus, sehingga selalu menunggu kelanjutan cerita ini. Serial ini sudah dibukukan dan diterbitkan oleh Yayasan Sadang Nganjuk dengan kata pengantar Drs. Soetrisno R, Bupati Nganjuk. Kebetulan sang bupati amat cinta seni, budaya dan pendidikan.

Pengabdian Fc Pamudji selain di bidang kesenian, juga dalam bidang pendidikan. Bersama dengan sang kakak, Fc Pamudji sama-sama mengajar di SPG yang menelorkan banyak tenaga keguruan. Kegigihan Pak Pamudji mengantarkan dirinya mencapai puncak prestasi sebagai Guru Teladan Nasional. Beliau berhak dikirim ke negeri Jepang. Berikutnya beliau diangkat menjadi Kepala Sekolah SMA 3 Nganjuk. Sebuah jabatan yang menunjukkan kepercayaan atas segala dedikasi dan perjuangannya.

Pengetahuan Pamudji sungguh sangat luas. Hal ini bisa terbaca dari novelnya yang berjudul Mas Kumambang. Sebuah cerita yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan bersetting pada skop global. Pembaca diajak untuk mengarungi samudera kehidupan yang penuh warna-warni. Novel ini layak dijadikan bahan pengisi rohani. Sinambi kalaning nganggur, novel Mas Kumambang memang mengandung nuansa keemasan.

Energi plus yang dimiliki Pak Pamudji sebagian disalurkan lewat dunia komponis. Beliau mengarang aneka ragam lagu, contohnya Milangkori, Syair Srempegan dan Nganjuk Berseiman. Semuanya tentu mendukung daya tarik pentas pedalangan Ki Panut Darmoko, sebagai wujud darma marang kadang sepuh. Di bawah ini kita kutipkan gendhing ciptaan Ki Panut Darmoko.

Nganjuk Mranani

Kutha cilik sangisore Gunung Wilis

iku pantes dadi pecangkramaning pra turis

yo kanca ning Seduda ing perenging arga

lelumban lan byur-byuran

weh bagasing raga

rampung njajan nginep neng pesanggrahan

wis mesthi kepranan nyawang kaendahan

Jo lali jo keri kutha Nganjuk mranani

Iku dadi proyek kacukupan

sandhang pangan

Ngocori sabin-sabin sakeloring kutha

Mesthi agawe pengin

wong sing padha teka

sumur kompor ing ngendi-endi ana

Tandur-tandur subur mesthi

gawe makmur

Ja lali ja keri kutha Nganjuk ngenteni.

Kabudayan kesenian pancen nyata

Iku pantes dadi pikukuh

kapribadening bangsa

Kerawitan pedalangan beksa olahraga

Candhi Ngetos wis nyata

peninggalan kuna

Pembangunan kuncara liyan praja

Rerengganing kutha wus sarwa tumata

Ja lali ja keri kutha

Nganjuk nggon seni.

Berseiman berseiman

Motto pamarintah

Kabupaten Nganjuk

Apa ta tegese

Apa ta maknane

Mengku kekarepan

Bersih sehat indah nyaman

Ber bersih lingkungane

Se sehat keluargane

Indah sesawangane

Tinata sarwa asri

Aman sajroning kutha

Sumrambah desa ngadesa

Yo kanca budi daya

Murih suksese

Berseiman berseiman

Nganjuk berseiman

Sedangkan karya Ki Pamudji yang perlu diketahui di antaranya yaitu yang berjudul Milangkori:

Kutha Ponorogo Mas misuwur reyoge

Cak-cak Surabaya

ja lali mbarek ludruge

Ampun kesusu kondur

mirsanana sandur

Wayang topeng dalang saking Madura sampun kondhang

Njajah desa milang kori

nggoleki condhonging ati

Seni gambus misri Jombang

gandrung Banyuwangi

Pandaan sendratarine

yen Nganjuk kondhang tandhake.

Kutha Bondowoso mas

misuwur tapene,

Cak cak Surabaya ja lali rujak cingure,

Timbang bali nglentung

wingka Babad luwung,

Mojokerto jipang

wedang angsle asli Malang,

Njajah desa milang kori nggoleki condhonging ati,

Brem kutha Mediun kripik Trenggalek tamba gumun,

Kediri tahu takwane yen Nganjuk kondhang angine.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *