Pacitan – Ronthek gugah saur dikabupaten Pacitan, selain menjadi tradisi tahunan juga menjadi hiburan adrenalin masyarakat.
Pasalnya, setiap Ronthek digelar oleh kelompok masyarakat yang berkeliling turun kejalan, dan bertemu dengan kelompok lain desa, hampir dapat dipastikan ada bentrok. Suara saling caci maki serta aksi lempar pemukul alat Ronthek acapkali mewarnai pertemuan tersebut. Suasana tegang dan panas pun tidak bisa dihindari.
Tapi peristiwa tersebut justru menghadirkan suasana yang cukup menarik bagi masyarakat. Sejumlah masyarakat, mulai dari anak-anak ,tua,muda, perempuan, dan laki-laki, seolah menjadikannya suatu hiburan adrenalin setiap dini hari jelang saur.
Mereka rela berbondong bondong untuk datang di beberapa lokasi rawan bentrok berharap mendapatkan tontonan bentrok antar kelompok Ronthek.
” rumah saya Ploso, ya ini mau nonton Ronthek.siapa tau tawur.kan seru.ini yang di nanti saat puasa.kan rame. ” cerita Bayu warga Ploso saat menunggu Ronthek lewat, bersama istrinya yang tengah hamil besar. Minggu (09/04/2023).
Cerita Bayu ini disampaikan juga oleh beberapa warga yang saat itu turut serta menonton Ronthek diwilayah perbatasan desa Arjowinangun dan desa Sirnoboyo pada Minggu dini hari (09/04/2023).
Pemandangan unik yang terlihat saat kelompok Ronthek bentrok dengan petugas keamanan hingga aksi lempar – lemparan pemukul alat Ronthek terjadi, masyarakat justru dengan tertib berdiri disepanjang trotoar jalan dan melihat aksi tersebut .
” ya ini mas .kan seru.dan ini terjadi setahun sekali saat romadhon.dan kejadian ini yang ditunggu .asiknya lagi mereka ( kelompok Ronthek) besok seolah janjian lagi untuk bertemu lagi .” Jelas Amin warga desa Sukoharjo.
Peristiwa bentrok antar kelompok ronthek atau dengan petugas keamanan, seolah telah menjadi tontonan adrenalin warga Pacitan setiap tahunnya.dan peristiwa tersebut hanya terjadi saat bulan romadhon.

