LIPUTAN68.COM, TABANAN -Pembuatan Teh Beras Merah Inovasi sebagai hilirisasi hasil penelitian digelar Universitas Udayana (Unud) sebagai pengabdian masyarakat yang dirangkaikan dengan acara Kuliah Kerja Nyata atau KKN.
Bahkan, pihaknya melakukan sosialisasi berupa pelatihan pembuatan teh beras merah inovasi sebagai hilirisasi hasil penelitian.
“Saya disini, hasil penelitiannya tentang beras merah, dimana beras merah itu dibuat secara organik, yang kemudian digunakan sebagai teh beras merah,” kata Dr. Ni Luh Suriani, S.Si.,M.Si., selaku DPL atau Dosen Pembimbing Lapangan yang juga Dosen Progam Studi Biologi, Fakultas MIPA Universitas Udayana di Banjar Munduk Paku, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Minggu, 23 Juli 2023.
Menurutnya, sudah banyak ada teh beras merah di Jatiluwih, Tabanan. Namun, berbeda dengan keberadaan teh beras merah di Munduk Paku, Senganan Tabanan yang berciri khas khusus dibandingkan dengan Jatiluwih, yakni Inovatif Produk yang ditambahkan bahan herbal.
“Saya tambahkan herbal, seperti jahe dan sereh, lalu kita latih masyarakat disekitar sini, terutama di Dewandaru Flora sebagai centre atau pusatnya. Jadi, kita latih bagaimana caranya, untuk membuat teh beras merah tersebut,” ungkapnya.
Khusus tambahan herbal berupa jahe, lanjutnya jahe tersebut harus dikering anginkan dan tidak berada dibawah terik sinar matahari, untuk menghindari hilangnya zat pitokimia atau sumber-sumber obat yang terkandung didalam jahe dan sereh.
“Jika tidak punya oven mungkin sekitar 4 hari sudah jadi, tapi jangan dibawah sinar matahari, karena zat pitokimia yang ada di jahe dan sereh itu akan hilang, sehingga kita kering anginkan saja, selama 4 hari sudah kering,” imbuhnya.
Kemudian, tambahan herbal yang sudah dikering anginkan dicampur dengan Beras Merah yang sudah disangrai. Jika ingin dijual, maka Teh Beras Merah akan dikemas rapi. Namun, jika ingin diminum, Teh Beras Merah akan disimpan memakai botol. Oleh karena berkolaborasi dengan UD Dewandaru Flora, maka dibuatkan kemasan Teh Beras Merah dengan masa kadaluwarsa selama 1 tahun. “Biasanya kita simpan di botol gelas atau botol plastik yang aman, yang kemudian bisa kita konsumsi,” terangnya.
Meski produksinya berlimpah akibat edukasi yang tepat sasaran ke petani dalam pemakaian bahan organik, namun masih ditemukan kendala dalam bidang pemasaran produk.
“Kami baru pemasaran di online. Itu pun cuma 1-2 jumlahnya yang laku melalui Dewandaru Flora. Kami ingin dalam jumlah besar ke areal tourism misalnya dipasarkan,” tambahnya.
Terkait keberadaan Beras Merah di Munduk Paku Senganan dikatakan Teh Beras Merah sebagai suatu ikon di Bali, sehingga penelitiannya mengambil bahan Beras Merah.
“Jadi, dia tanaman lokal yang hanya bisa dan ada di Bali, sehingga itu yang kita kembangkan dan diangkat, supaya menjadi suatu ikon dan bisa dijual secara internasional,” paparnya.
Disebutkan, pembuatan Teh Beras Merah sudah dilakukan, sejak dari nenek moyang yang kini dikemas dengan tetap mempertahankan sistem tradisional.
“Kalau di Bali cocok dikembangkan secara tradisional, karena Bali sebagai icon tourism. Jadi, ini lho yang dari nenek moyang kita yang bisa kembangkan sampai sekarang dan bisa menjadi daya tarik wisata dengan sistem tradisional,” jelasnya.
