GEDUNG DPRD JABAR
Minim Arena Berdemokrasi
Oleh Imam Wahyudi (iW)
Aksi mahasiswa Bandung di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, Senin dan Selasa siang tadi — berlangsung “memanas” dan berujung ricuh. Dipicu tindakan represif oknum polisi terhadap sejumlah pelaku aksi. Polisi yang sejatinya “mengawal” hingga pengamanan aksi unjuk rasa itu. Memang begitu tupoksinya.
Pengawalan polisi tidak seharusnya jadi “momok” alias hantu bagi hak berserikat dan menyampaikan pendapat di muka umum. Toh, kerap terjadi. Mengapa? Aksi mahasiswa bagai menemukan jalannya kembali, setelah cukup lama “diam” yang mengesankan benar telah terintervensi kepentingan rezim. Mahasiswa yang dalam sejarahnya senantiasa menggelorakan suara rakyat, kerap melebihi peran perwakilan rakyat.
