Kemarin saya ikut bersedih, karena saya mulai menikmati “bergabung ke ruang mayoritas” oleh Didi Kempot tetapi sang navigator jiwa-jiwa yang galau itu harus mengadap Tuhan. Didi kempot melatih saya untuk “menjadi Jawa”, menjadi lebih terbuka, menikmati “Pamer Bojo” dalam kehidupan saya di Jogja. Lewat Didi Kempot, paling tidak saya menjadi paham bahwa menyukai irama dan jiwa kaum mayoritas adalah bentuk adaptasi dan toleransi yang membuat dunia tidak ambyar oleh batas yang secara egois kita bentuk sendiri….
Sugeng tindak, Kang Didi Kempot
(M-01)
