Dua Nasution Head to Head Berebut Kursi Walikota Medan

“Koalisi gemuk ini bisa merupakan modal awal yang sangat cukup dan menjadi kelebihan jika dikelola dengan efektif. Platform Kolaborasi sangat kuat tergambar dari ragam partai yang bisa bekerja di dalam, dan juga kelompok sosial yang beragam dan terbuka. Jaringan ini mengandaikan lebih banyak peluang,” paparnya.

Dijelaskannya, kehadiran Bobby Nasution dalam Pemilihan Wali Kota Medan 2020 tidak sekedar menarik perhatian partai politik. Tapi juga menjadi harapan bagi masyarakat Kota Medan dalam membawa perubahan.

“Kehadiran Bobby juga dapat dianggap representasi dari suasana bathin masyarakat kota yang menginginkan perubahan fundamental dalam penyelenggaraan kota modern, yang lebih estetis, lebih berkah.

Untuk perspektif figur, kedua sosok tersebut dinilai Faisal Riza memiliki karakter yang sangat berbeda. Akhyar Nasution adalah sosok yang emosional dan visi “Medan Cantik” yang dibawanya masih belum teruji.

“Akhyar Nasution adalah Plt Walikota, mungkin bisa menguasai birokrasi. Gaya manejerialnya emosional, meledak-ledak. Slogan ‘Medan Cantik’juga masih perlu pembuktian,” ungkapnya.

Sementara Bobby Nasution, dinilai sebagai sosok milenial yang memiliki potensi besar dalam mengelola pendukung dan masyarakat yang majemuk.

“Muda dan representasi millenial. Menjanjikan pengharapan merubah wajah kota Medan yang lebih baik. Sebagai menantu presiden, memberikan peluang terkonsolidasinya banyak kelompok pendukung,” tandasnya.

(M-02)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *