Ceritera tersebut di atas masih dikenal sampai sekarang, dan merupakan data sejarah. Mengenai isinya dapat kita bandingkan dengan ceritera Bima yang mencari tirta kamandanu dalam ceritera Dewa Ruci. Di dalam ceritera Dewa Ruci digambarkan bahwa Bima setelah memasuki telinga Dewa Ruci melihat beberapa macam cahaya, merasa tenang serta tenteram, sehingga kerasan dan hampir saja lupa kembali kepada keluarganya untuk meneruskan dharma baktinya. Di samping itu secara kosmologis juga dapat diartikan bagaimana Sutawijaya berhubungan dengan alam dan berhasil menguasainya dengan baik sehingga menjadi basis yang kuat bagi negara yang ia tumbuhkan. Ada pula yang menginterpretasikan ceritera itu semata-mata sebagai mitos belaka, tetapi ada pula yang menganggap hal itu memang sungguh sungguh terjadi. Bagaimanapun pula ceritera tersebut masih mempunyai peranan dalam tata kehidupan masyarakat bahkan negara. Legitimasi semacam ini besar pengaruhnya terhadap pelaksanaan pemerintahan negara.
C. Kendaraan Dan Makanan Ratu Kidul
Kanjeng Ratu Kidul memiliki kendaraan yang bernama Kuda Sembrani. Bila berjalan suaranya riuh bergemuruh. Gentha-genthe atau krimpying kuda berbunyi gemerincing. Lintas angin yang mengiringi prajurit Kanjeng Ratu Kidul disebut Lampor. Ratu Kidul benar-benar sebagai penguasa alam, yakni Dewi Darat dan Dewi Laut.
Kunjungan kerja Kanjeng Ratu Kidul meliputi daerah Danamulya Banyuwangi, Paga Lumajang, Ngliyep Malang, Blitar dan Pacitan. Daerah ini tersedia pesanggrahan untuk beristirahat rombongan Kanjeng Ratu Kidul. Villa atau penginapan ini berwujud rumah emas yang lampunya berkelap kelip, terang dan indah sekali.
Pendherek atau pengikut Kanjeng Ratu Kidul memakai kemben. Kainnya berwarna ijo gadhung atau hijau lembayung. Sebelum bertugas mereka berhias di Alas Krendha Wahana. Tiap tahun Kanjeng Ratu Kidul mengikuti upacara Maesa Lawung atau Raja Weda di Alas Krendha Wahana. Pelaksanaan upacara Maesa Lawung setiap bulan Rabiul Akhir, pada hari Senin atau Kamis terakhir. Sesaji diberikan di Sitihinggil Kraton Surakarta. Doa dibaca dengan rapal Budha, Hindu, Jawa dan Islam.
Perlengkapan sesaji Maesa Lawung ini terdiri dari : Bekakak : dibuat dari tepung, berbentuk manusia laki-laki dan perempuan, tidak berbusana. Badheg : arak yang dibuat dari siwalan atau aren, semangkok. Kepala kerbau : kebo bule milik kraton yang dirawat abdi dalem.
Setiap hari Anggara Kasih atau Selasa Kliwon Kanjeng Ratu Kidul datang di Panggung Sangga Buwana.
Penguasa Laut Selatan ini turut serta dalam ritual Bedhaya Ketawang. Saat itu Kanjeng Ratu Kidul berbusana dodot bangun tulak, Alas alasan ngumbar kunca, tapih cindhe sekar, slepe, buntal paesan centhangan, gelung bokor mengkurep, rajutan melati, anam kanthil.
Bedhaya Ketawang menggambarkan olah asmara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Disebutkan ruang asmara itu berupa krobongan sasap kasur, urung bantal guling cindhe, ceplok bludiran, kencana tinatah, rinengga sesotya, klambu, canthelan salaka, daun sedhah tutul apu. Dalam krobongan dikasih guling, loro blonyo, arca kayu, klemuk beras, uang, kendhi dan lampu sewu. Setelah selesai olah asmara Kanjeng Ratu Kidul ganti busana sabuk sekaran klabang ngentup.
Makanan kesukaan Kanjeng Ratu Kidul yaitu ketan biru, yang dihidangkan abdi dalem Mataram. Saat itu Kanjeng Ratu Kidul berpakaian seperti Banuwati. Beliau membawa wangkingan pusaka, lambang kraton Tanah Jawa.
(M-01)
