Tanggapan Emrus Sihombing: “…Lagi, Kepala Daerah Meninggal Akibat Covid-19, Bagaimana Komunikasi Kepemimpinan Publik Ditengah Pandemi ?”

Minggu, 16 Agustus 2020

Jakarta – LIPUTAN68.COM – Melalui Siaran Radio Elshinta diskusi interaktif secara live yang berlangsung di kantor Radio Elshinta, Jakarta, pada hari Minggu 16 Agustus 2020, malam.

Acara tersebut menghadirkan narasumber pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Dr. Emrus Sihombing dengan mengusung tema “Lagi, Kepala Daerah meninggal akibat Covid-19, bagaimana komunikasi dan kepemimpinan publik di tengah pandemi?”.

Dengan bertambahnya sejumlah kepala daerah yang terkonfirmasi positif COVID-19, bahkan berita duka baru tersiar dari Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Way Kanan yakni wafatnya Wakil Bupati Way Kanan Edward Antony yang sepekan sebelumnya Terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan dari hasil tes Swab.

Menanggapi hal tersebut Dr. Emrus Sihombing yang merupakan ahli komunikolog mengungkapkan dengan meningkatnya jumlah penderita Covid-19 ditinjau dari aspek komunikasi publik perlu adanya evaluasi mendalam agar penanganan wabah Covid-19 dapat disikapi secara efektif oleh Pemerintah dan masyarakat.

“Komunikasi publik yang dilakukan oleh Pemerintah dirasa belum maksimal dan belum memiliki efektifitas, karena kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat terhadap ketaatan protokol kesehatan belum memadai.

justru korban terkonfirmasi positif COVID-19 terus meningkat bahkan seorang kepala daerah ada yang wafat akibat Covid-19. Komunikasi publik harus dilakukan secara efektif oleh Pemerintah.

Sedangkan terkait kepemimpinan, seorang pemimpin tentunya harus bisa menjadi rolmodel untuk masyarakat, seperti pemimpin dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Camat, Kepala Daerah hingga Presiden, mereka sebagai pemimpin bukan hanya mematuhi protokol Kesehatan, namun mereka juga harus bisa memberikan pengaruh kepada masyarakat.

Pada level kepemimpinan nasional, Presiden telah memberikan contoh, program yang baik dan kebijakan strategis bahkan beliau meminta kepada jajaran menterinya untuk melakukan tindakan extraordinary.

Namun apa yang terjadi justru serapan anggaran masih minim, dengan kondisi daya tampung rumah sakit yang masih terbatas kenapa tidak serapan anggaran diperuntukan membangun rumah sakit darurat, artinya pengaruh kepemimpinan tersebut belum juga maksimal”, ungkap Dr. Emrus.

“Sementara untuk level paling bawah yaitu kepemimpinan ditingkat RT, apakah mereka sudah melakukan komunikasi dengan membangun ruang diskusi bersama warga tentang penanganan COVID-19.

jika ruang komunikasi hanya menggunakan media massa, media sosial maka pada level kesadaran kurang efektif, kemudian mengenai tingkat kesadaran perlu dilakukan sebuah survei.

BAGIKAN KE :