Liputan BERITA

Jejak Willem Iskandar

Ditulis oleh Liputan68 pada 1 September 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Agus Marwan

(Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia)

Sesungguhnya jauh sebelum Kihajar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta, Willem Iskandar pada tahun 1862 telah mendirikan Sekolah Guru (Kweekschool) di Tano Bato, Madina.

Siapa Willem Iskandar?

Willem lahir di tahun 1840 dan meninggal tahun 1876 adalah Tokoh Pendidikan dari daerah Mandailing Natal. Willem juga seorang pujangga bahasa yg menyair ttg pendidikan dan cinta kampung halaman.

Terlahir di sebuah kampung bernama Pidoli Lombang, Panyabungan, Madina. Dilahirkan dengan nama Sati Nasution gelar Sutan Iskandar. Nama Willem Iskandar muncul. Sesudah ia dibaptis tahun 1858. Willem mengawali pendidikannya di Sekolah Rendah di Panyabungan pada 1853-1855. Pada tahun 1857 ia berangkat ke Belanda bersama asisten residen Madina-Angkola Tuan Godon untuk melanjutkan sekolahnya.

Willem dapat beasiswa di Sekolah Guru, dan lulus tahun 1859. Setelah lulus ia pun kembali ke kampung halamannya. Di Madina atas persetujuan gubernur Jenderal ia mendirikan Sekolah Guru. Di tahun 1862 Sekolah itu sudah berdiri.

Pada tahun 1874 ia pergi melanjutkan pendidikannya ke Belanda utk mendapatkan ijazah Guru Kepala Sekolah. Dan Sekolah yang ia didikannya pun ditutup dan dipindahkan ke Padang Sidempuan.

Saat melanjutkan sekolahnya di Belanda, Willem terpaut hati dengan Maria Jacoba Christina Winter. Pada 27 Januari 1876, ia pun menikahi wanita itu. Usia pernikahannya hanya berusia 103 hari dan belum mempunyai keturunan. Pernikahan ini merupakan awal malapetaka bagi Willem. Karena dengan perkawinan ini justru Willem mengalami banyak masalah. Puncaknya pada 8 Mei 1876 ia pun bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri di Taman Vondel.

Sebelum bunuh diri, Willem telah menulis surat kepada Hekker. “Hidup ini sangat berat bagi saya, Kesedihan yg akhir2 ini saya tanggung membuat hidup saya tak lama lagi….. Dengan menarik pelatuk senjata api saya akan serahkan hidup ini kepada Tuhan”.

Sebagai seorang pujangga, Willem telah melahirkan karya2 Seperti Sibulus-bulus si Rumbuk-rumbuk, dan O Mandailing Godang.

Mungkin Willem Iskandar adalah orang pertama Pribumi yang mendirikan sekolah dan membangun gerakan pencerahan melalui pendidikan di bumi Mandailing. Di usia 15 tahun ia sdh menjadi guru, dan kemudian di usianya yg ke 22 tahun ia mendirikan sekolah Guru pertama di Nusantara.

Beberapa bulan yg lalu, saya sempat mengunjungi rumah keluarga keturunan Willem di Pidoli Lombang, Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Kebetulan Raja Pidoli Lombang saat ini adalah sahabat saya. Rumah tempat kelahiran Willem pun kini dijadikan sebagai semacam Monumen jejak Willem Iskandar.

Tampak rumah bernuansa khas Mandailing, berdinding kayu, berbentuk rumah panggung. Beberapa peninggalannya baik itu berupa keris, pedang, tongkat, dan buku2 dari keturunan Willem ini masih bisa saya lihat.

Di pojok depan rumah terdapat tugu menjulang 3 meter tingginya dengan terpampang foto Willem Iskandar. Juga terdapat sebuah monumen dalam bentuk prasasti batu bertulis monumen Willem Iskandar.

Bila berkunjung ke Madina, jangan lewatkan singgah ke Pidoli Lombang tempat jejak Willem Iskandar berasal. Lokasinya tak jauh dari jalan raya Panyabungan. Bila kita memasuki Kota Panyabungan sebelum deretan ruko-ruko dan pasar Panyabungan, kita akan menemukan tulisan penanda daerah Pidoli Lombang. Selamat berpetualang…!!!

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian