MEDAN – LIPUTAN68.COM – Walaupun situasi masa pandemi masih belum berakhir, Sekolah Parulian selalu terus memastikan siswanya belajar dari rumah (BDR). Sekalipun itu siswa yang tidak memiliki HP Android, Sekolah Parulian Medan tetap memastikan siswa belajar.
Sebelum melakukan intervensi program BDR di masa pandemi, Sekolah Parulian terlebih dahulu melakukan pemetaan kepada para siswa. “Langkah awal kami adalah melakukan pemetaan kepada para siswa di setiap unit-unit sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Parulian. Dari pemetaan inilah kita dapat mengetahui berapa siswa yang memiliki akses android dan berapa siswa yang tidak memiliki android. Dari peta yang memiliki android ini, kita petakan lagi, berapa persen siswa yang dapat menggunakan sendiri dan berapa persen yang hp androidnya tergantung dari orang tuanya”, ungkap Erita Siburian Sekretaris Yayasan Parulian kepada liputan68.com melalui saluran telepon, Minggu (13/9/2020).
Berdasarkan pemetaan yang lebih detail inilah Sekolah Parulian melakukan intervensi program BDR-nya. “Bagi siswa yang secara penuh dapat menggunakan HP androidnya kita lakukan pembelajaran dalam jaringan (daring). Baik itu melalui WA, Google meet, maupun Zoom. Sedangkan siswa yang memiliki android tapi tidak bisa secara penuh mengakses androidnya kita lakukan kombinasi pembelajaran daring dan luar jaringan (luring). Dan siswa yang sama sekali tidak memiliki android kita menggunakan metode pembelajaran luring”, terang Erita.
Terkait dengan pembelajaran luring, Sekolah Parulian membuat program guru visit home, yaitu guru mengunjungi ke rumah siswa untuk memastikan siswa dapat belajar di masa pandemi ini. “Kita tidak ingin siswa yang tidak memiliki android tidak belajar di rumah, oleh karena itu kami membuat kebijakan guru visit home. Polanya kita membuat zona-zona dimana siswa tinggal, dan kita menentukan titik-titik pertemuan siswa dengan guru. Setiap zona maksimal 5 orang siswa. Dalam program guru visit home ini wajib menggunakan protokol pencegahan Covid-19”, kata Erita lagi.








