Liputan KOLOM

Mas Gibran Rakabuming Raka Dalam Budaya Jawa Gagrag Surakarta

Ditulis oleh Liputan68 pada 3 Oktober 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA)

A. Lila lan Legawa Kanggo Mulyaning Negara

Nama lengkapnya Gibran Rakabuming Raka. Asma kinarya japa, bahwasanya nama itu beserta dengan japa mantra harapan. Gibran ini juga nama penyair kaliber dunia. Rakabuming mengacu pada kokohnya jagad raya. Sedangka Raka merujuk pada aspek daya pangaribawa senioritas kasepuhan.

Dalam seni pedalangan sebutan Ingkang Raka nata ing negari Dwarawati, begitu familier. Raja Dwarawati ini dianggap sangat bijaksana, ahli siasat, sakti mandraguna, waskitha ngerti sakdurunge winarah. Kita percaya bahwa Mas Gibran nyandhang asma minulya ini beserta dengan kandungan filosofis. Jumbuh kang ginayuh sembada kang sinedya.

Bapaknya seorang besar dan tenar, Ir. H. Joko Widodo. Dalam lintasan sejarah Jawa ada nama Joko Tingkir, yang penuh dengan keteladanan, keutamaan, keluhuran, keagungan. Masyarakat Jawa yang tinggal di gunung agunung, dua adua, kutha akutha mengenal Joko Tingkir dengan penuh rasa kagum. Tembang megatruh memberi deskripsi yang agung dan anggun.

Megatruh

Sigra milir sang gethek sinangga bajul

kawan dasa kang njageni

ing ngarsa miwah ing pungkur

tanapi ing kanan kering

sang gethek lampahnya alon.

Perjalanan hidup Joko Tingkir mirip dengan kisah Joko Widodo. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ki Ageng Sela memberi bekal ngelmu satataning panembah jati. Ki Ageng Banyubiru memberi wejangan kawruh kasampurnan. Sabar sebagai penguasa, syukur sebagai rakyat. Wulangan lahir batin demi diusahakan murih padhanging sasmita.

Joko Tingkir atau Mas Karebet dibimbing oleh Ki Ageng Butuh yang mengajarkan jroning urip ana urup, jroning urup ana urip kang sejati. Itulah puncak rasa jati, sari rasa jati, sarira sajati. Sari rasa tunggal, sarira satunggal, naga sari tunggal, nagara satunggal sebagaimana ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan kenegaraan yang sangat dihayati oleh Ir. H. Joko Widodo. Lila lan legawa kanggo mulyaning negara.

Sarjana winasis yang terdiri dari Ki Ageng Panjawi, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani, Ki Ageng Karanglo, Ki Ageng Pringapus, Ki Ageng Giring menjadi penyokong utama Joko Tingkir. Berkat jiwa kebangsaan dan sifat kerakyatan pada tahun 1546 Joko Tingkir dinobatkan menjadi raja Kraton Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Joko Tingkir dan Joko Widodo mengutamakan konsep labuh labet.

Trahing kusuma, rembesing madu, wijining amaratapa, tedhaking andana warih. Semangat kebangsaan ini tentu mengalir dalam tubuh Mas Gibran. Kacang ora ninggal lanjaran, perjuangan Ir. H. Joko Widodo diteruskan oleh Mas Gibran Rakabuming Raka dengan sepenuh hati. Konsep kebangsaan dan kerakyatan menjadi landasan pergaulan. Budi luhur kulinakna, watak asor singkirana.

Peran sang ibu tentu juga besar pada kepribadian Mas Gibran. Ibu Iriana Joko Widodo ibarat mustikaning putri, tetungguling widodari. Beliau memang ayu hayu rahayu. Ibunya Mas Gibran ini telah menjadi warangka keluarga Joko Widodo. Warangka manjing curiga. Dengan selamat sentosa Bu Iriana mengantarkan ke depan pintu gerbang kejayaan.

Siji garising pasthi, loro temune jodho, telu tumurune wahyu, papat mundhaking pangkat, lima tibaning begja. Mas Gibran Rakabuming Raka lahir di Surakarta pada tanggal 1 Oktober 1987. Bertemu jodoh dengan Mbak Selvi Ananda, melahirkan Jan Ethes Srinarendra dan Lembah Manah. Lengkap sudah kawibawan, kamulyan, kabagyan, pasangan Joko Widodo dan Iriana.

Kehadiran Bobby Nasution yang berjodoh dengan Kahiyang Ayu membuktikan jalur pluralisme. Joko Widodo punya menantu orang Batak memperkokoh praktek keberagaman keluarga. Kaesang Pengarep adalah adik bungsu Gibran. Semua anggota trah Joko Widodo saiyek saeka praya, mendukung penuh langkah Mas Gibran. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Siaga ing diri sawega ing gati, gotong royong lan gugur gunung murih arum kuncarane negari.

Gugur Gunung

Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyaning praja

Kono-kene kono-kene gugur gunung tandang gawe

Sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane

Lila lan legawa kanggo mulyaning negara

Siji loro telu papat bareng maju papat-papat

Diulang-ulungake murih enggal rampunge

Holopis kuntul baris holopis kuntul baris

Holopis kuntul baris holopis kuntul baris

B. Andhap Asor Wani Ngalah Luhur Wekasane

Kota Surakarta merupakan bumi kelahiran Mas Gibran. Sura berarti berani, Karta berarti berkarya. Hidup di lingkungan kota Surakarta seharusnya berani untuk berkarya. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Wong Solo paham benar arti wirya arta winasis.

Dalam kawruh kejawen diajarkan unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa. Leluhur Surakarta memberi wejangan tentang pentingnya seseorang memiliki wirya arta winasis. Wirya kekuasaan, arta keuangan, winasis kepandaian. Ketiganya diterangkan dalam bait pangkur dengan begitu indahnya.

Pangkur

Kang mangkono iku tandha

Yen janma diweruh wajibing urip

Nggugu wulang nut ing kukum

Tetep nora kamalan

Arep mangan gelem nyambut karyanipun

Kang utang esah sanyata

Kang kalal ing lahir batin.

Bonggan kang tan merlokena

Mungguh ugering ngaurip

Uripe lan tri prakara

Wirya arta tri winasis

Kalamun kongsi sepi

Saka wilangan tetelu

Telas tilasing janma

Aji godhong jati aking

Temah papa papariman ngulandara.

BACA JUGABahasa Lisan

Priyayi Solo menghayati benar makna pentingnya wirya arta winasis. Hal ini sebagai cara untuk meningkatkan kualitas kerja dan produktifitas karya. Pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mendatangkan kesejahteraan. Keluarga mas Gibran memahami benar etos kerja serta semangat berkreatifitas. Orang hidup sudah sepatutnya mempunyai ketrampilan, kepandaian, dan kekayaan. Dengan harapan dirinya akan diperhitungkan dalam pergaulan. Dengan belajar dan bekerja tekun seseorang akan dihormati.

Wirya arta winasis, ketiganya berfungsi sosial, yakni memayu hayuning bawana, mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi. Amemangun karyenak tyasing sesama. Antar sesama hidup perlu kerja sama dan gotong royong yang saling menguntungkan. Welas asih marang sapadha-padha.

Dasar-dasar kebudayaan dihayati benar oleh Mas Gibran Rakabuming Raka. Beliau selalu ingat wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga lewat cerita pedalangan. Pemimpin harus menjunjung tinggi etika ber budi bawa laksana. Maknanya seorang pemimpin hendaknya dekat dengan rakyat, mau sambang sambung, sawang srawung, tulung tinulung. Di depan rakyat jangan sampai adigang adigung adiguna. Keteladanan dari Joko Widodo dengan sikap andhap asor wani ngalah luhur wekasane.

Cakepan waranggana sering mengumandangkan ungkapan titenana wong cidra mangsa langgenga, yang mengisyaratkan supaya manusia punya loyalitas dan dedikasi. Sikap rendah hati gagrag Solo sudah mengakar kuat di hati sanubari masyarakat. Setiap ada acara macapatan, kerap terdengar lantunan tembang mijil. Isinya tentang sopan santun tata krama.

Mijil

Dedalane guna lawan sekti

kudu andhap asor

wani ngalah luhur wekasane

tumungkula yen dipun dukani

bapang den simpangi

ana catur mungkur.

Kepemimpinan yang humanis kultural itu sudah dilaksanakan oleh Ir. H. Joko Widodo. Mas Gibran tinggal melanjutkan dengan penuh kehati-hatian. Baik kiranya menggunakan ajaran trilogi berikut. Rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani.

Dibangunnya infrastruktur di seluruh pelosok tanah air adalah karya nyata. Ir.H. Joko Widodo bertekad kuat untuk melakukan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Mas Gibran mempunyai kewajiban meneruskan perjuangan luhur sang ayah. Mendhem jero mikul dhuwur, dengan tiada kenal lelah mengabdi pada ibu pertiwi.

Surakarta, Jakarta Indonesia adalah jalur pengabdian. Dari Surakarta tingkah laku pemimpin disaksikan gunung Lawu, gunung Kendheng, gunung Merapi, gunung Merbabu dan gunung Sewu. Air mengalir dari umbul Cokro dan umbul Pengging bertemu di Kali Larangan. Bersama-sama mengalir ke kota Solo dan bergabung di Bengawan Solo. Tepat sekali komponis besar, Gesang yang telah dikenal di seluruh dunia.

Bengawan Solo

Bengawan Solo, riwayatmu ini,

sedari dulu jadi perhatian insani

musim kemarau, tak brapa airmu

di musim hujan air meluap sampai jauh.

Mata airmu dari Solo terkurung gunung Seribu

Air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut.

Itu perahu riwayatnya dulu

Kaum dagang selalu naik itu perahu.

Bengawan Solo menampung aliran air dari 20 kabupaten. Panjangnya melampaui wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dulu berguna untuk alat transportasi. Para pedagang hilir mudik. Berbahagialah warga Solo yang memiliki sumber mata air yang jernih. Kejernihan air yang mengalir di Solo selaras dengan keplek ilat atau wisata kuliner. Mas Gibran turun ke lapangan demi mewujudkan Solo sebagai pusatnya wisata kuliner. Semangat untuk mengembangkan wisata kuliner ini berarti juga mengembangkan mutu industri ekonomi kretif.

Peluang usaha dilakukan dengan sangat tepat dan cepat oleh mas Gibran, demi berputarnya roda perekonomian. Pusat perekonomian di kota Solo setiap saat berkembang pesat. Perdaganan, pertanian, perkebunan, kerajinan, berlangsung terus menerus. Pagi siang sore malam kota Solo selalu sibuk beraktifitas, sesuai dengan ungkapan estetis tembang Solo Berseri : bersih sehat rapi indah.

Solo Berseri

Berseri berseri bersih sehat rapi indah

Pancen nyata pra kanca kanggo srana

Mujudake Surakarta kutha budaya

Pariwisata lan olah raga

Wus misuwur sedulur njaban rangkah

Wus genah ngondhangake kutha Sala tanpa nendra

Dadya budayane bangsa mrih kuncara

Berseri berseri bersih sehat rapi indah

Mas Gibran Rakabuming Raka kerap mendengar kumandangnya lelagon Solo Berseri : bersih sehat rapi indah. Kota Surakarta terkenal sebagai pusat budaya Jawa. Di sana tersedia berbagai macam produk seni dan kerajinan. Cocok untuk tujuan wisata. Surakarta harus dijaga kelestariannya demi menjaga kualitas kebudayaan. Berseri merupakan singkatan bersih sehat rapi indah. Penduduk timur kali Opak memiliki orientasi spiritual kota Surakarta. Kita jaga supaya Surakarta tetap menjadi sumber budaya. Bengawan Solo yang mengalir jauh menjadi tanda jauh dan luasnya pengaruh keagungan budaya gagrag Surakarta.

Pasar Gedhe, Pasar Klewer, Pasar Legi menjadi kawah candradimuka bagi Mas Gibran Rakabuming Raka. Dari tempat yang dekat Mas Gibran belajar dan menerapkan konsep ekonomi kerakyatan. Lamat-lamat Mas Gibran sering meresapi janturan wayang purwa secara tulus. Janturan pedalangan ini dijadikan mas Gibran Rakabuming Raka untuk mengabdi pada nusa dan bangsa agar terwujud, negara kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian