Dikutip dari: rmolsumut.id
Sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), selain memiliki segudang masalah klasik, juga menjadi salah satu bahan jualan para kandidat yang berkontestasi pada pemilihan kepala daerah (Pilkada).
Nyaris dalam setiap kampanye, para kandidat selalu menawarkan jalan agar sektor ini bisa keluar dari masalah, tumbuh berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Pengamat dari Universitas Sumatera Utara (USU), Doli M. Jafar Dalimunthe menyebut, semua daerah pasti mengkampanyekan peningkatan UMKM dan startup bisnis milenial, karena itu adalah isu nasional saat ini.
“Tapi sayangnya, terutama di Kota Medan, hanya sebatas jargon dan kegiatan-kegiatan yang tidak strategis,” katanya di Medan, Senin (12/10/2020).
Dia menyebut, masalah klasik yang selalu menghantui UMKM adalah akses permodalan, kreatifitas, kualitas produk yang masih rendah dan SDM. Sayangnya, para pemimpin terdahulu, yang telah terpilih dengan salah satu kampanyenya soal UMKM, justru masih berkutat pada upaya penyelesaian masalah dengan cara-cara klasik.
“Kita bisa melihat di APBD. Memang ada dana. Ada program untuk meningkatkan UMKM. Tapi cara-caranya klasik. Pelatihan (UMKM) hanya cenderung formalitas, yang penting ada. Tidak kreatif dan langkah yang ditempuh itu-itu saja,” ungkap Doli.
Dia mengatakan, sebagai salah satu Kota Metropolitan, Medan harusnya menjadi barometer perkembangan industri kreatif dalam hal ini UMKM dan startup bisnis milenial.
UMKM jangan hanya sebagai jargon, tetapi harus di fokuskan sebagai atmosfer dan karakter masyarakat Kota Medan, terutama Generasi Milenial dan Generasi Z sebagai upaya menyiapkan diri pada fase bonus demografis 2030.








