Liputan KOLOM

Panembahan Al Nahyan Nasution Beserta Jatidiri Kebijaksanaan

Ditulis oleh Liputan68 pada 16 Oktober 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara –LOKANTARA. Hp 0878 6440 4347)

 

A. Sikap Pemimpin Bersikap Bijak Bestari.

Kemuliaan bertaburan di muka bumi. Kelahiran Panembahan Al Nahyan Nasution pada tanggal 3 Agustus 2020 disambut dengan wajah berseri-seri. Putra pasangan Mas Bobby Nasution dengan Mbak Kahiyang Ayu ini ibarat Bathara Kamajaya tumurun ing madyapada. Kehadirannya beserta dengan kebajikan.

Nama Panembahan mengingatkan pada sejarah berdirinya Kerajaan Mataram. Tiga tokoh utama Mataram sungguh seorang mulia berbudi luhur. Yakni Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Juru Martani dan Ki Ageng Penjawi. Mereka berhasil mengantar Panembahan Senapati untuk menjadi raja di Kraton Mataram pada tahun 1582.

Masyarakat Jawa mengenal Panembahan Senapati dengan nama Ngabehi Loring Pasar atau Danang Sutawijaya. Ngabehi Loring Pasar berarti trampil dalam bidang pemasaran. Panembahan Senapati memang ahli marketing. Danang Sutawijaya berarti Panembahan Senapati memang diasuh, dibimbing, dididik oleh Sultan Hadiwijaya sejak lahir diambil anak angkat oleh raja Pajang. Panembahan Senapati digembleng dengan melakukan lara lapa tapa brata.

Keperwiraan Danang Sutawijaya ditunjukkan saat mengatasi ontran-ontran Jipang Panolan. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Dengan berbekal pusaka sakti tombak Kyai Plered, Danang Sutawijaya berhasil memadamkan krisis sosial politik di tepi barat kali Bengawan Sore. Dia benar-benar trah kusuma prajurit sinekti.

BACA JUGAAnak Kita

Raja Pajang Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama bertambah sayang. Alas Mentaok diberikan sebagai hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan. Bumi Pati dihadiahkan untuk Ki Ageng Penjawi. Tanah Wonosobo diberikan kepada Ki Ageng juru Martani. Ketiganya berjuang untuk memperjuangkan kawasan Ngeksiganda atau Kerajaan Mataram. Lengser keprabon madeg pandhita. Sultan Pajang menyerahkan tahta kepada Panembahan Senapati.

Kebijaksanaan hidup Panembahan Senapati menjadi sumber tontonan, tuntunan, tatanan. Wiyaga dan waranggana suka mengutip syair Sinom Serat Wedhatama merupakan sastra piwulang yang amat cemerlang.

BACA JUGABabad Mataram

Sinom Parijatha

Nulada laku utama,
Tumrape wong Tanah Jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senapati, kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama.

Tafsir penjelasan makna. Lagu sinom ini berisi tentang ajaran keutamaan yang telah diwariskan oleh Panembahan Senopati. Beliau adalah raja Mataram yang pertama. Sebagai seorang pemimpin Panembahan Senopati berhasil mengendalikan tingkah lakunya. Beliau mau memperkokoh jati diri dan selalu mawas diri. Dengan rakyatnya senantiasa berbuat kebajikan yang dapat menyenangkan pada sesama. Sikap hidup yang perlu dicontoh oleh sekalian pemimpin.

Tembang sinom Parijatha iku kapethik saka Serat Wedhatama kang dianggit dening Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Panjenengane ngasta minangka adipati ing Mangkunegaran nalika taun 1853 – 1881. Kanggone para seniman tembang sinom mau mathuk minangka mat-matan. Lagune kepenak lan cakepane mawa pitutur luhur. Wong Jawa perlu nulad kautaman kang wis diwarisake dening Panembahan Senapati, raja ing Kraton Mataram.

Panembahan Senapati terkenal punya lelaku tinggi. Ilmunya bersifat manggalih. Ki Ageng Pamanahan ilmunya sebatas memanah. Sedang Ki Ageng Giring ilmunya hanya untuk menggiring. Dalam kitab Babad Tanah Jawi disebutkan kisah Ki Ageng Giring dengan air kelapa muda degan.

Sinom Ki Ageng Giring

Yata ki ageng Mantaram, Anuju dina sawiji,
Kesah datan mawi rewang, Yun pinanggih ki ageng Giring, Yata wau winarni, Ki ageng Giring winuwus, Kagya babad neng alas, Nulya rawuh Sunan Kali, Ki ageng Giring saksana angraup pada.

Jeng Sunan Kali ngandika, Wruhanta wit krambil iki, Uwohira duk dumegan, Pan iya amung sawiji, Sapa ngombe kang warih, Den telas sadegan iku, Lah iya wruhanira,
Saturun turune benjing, Kang duweni negara ing Tanah Jawa.

Jeng Sunan Kali gya musna, Ki ageng Giring ningali, Uwit klapa satunggal, sajroning babadan nenggih, Uwohe mung satunggil, Saksana pinenek gupuh, Degan nulya ingalap,Sapraptanira ing siti, Gya binekta sampun prapta wismanira.

Degan lajeng pinacokan, Sineleh ing bale jawi,
Ki ageng anulya kesah, Siram dumateng ing kali, yen prapta sangking kali, Kang toya sedya inginum, Ki ageng Giring kesah, Ki ageng Mantaram prapti, Lenggah bale kang degan sigra cinandhak.

Wahyu keprabon jatuh pada diri Panembahan Senapati. Turun tumurun berjaya di Tanah Jawa. panembahan Senapati berhasil menjadi raja yang agung berwibawa. Keluhuran Panembahan Senapati menjadi insipirasi bagi keluarga Pak Jokowi dan Bu Iriana dalma memberi nama sang cucu.

B. Berusaha Merajut Nilai Kebangsaan

Sayuk rukun bebarengan sakancane. Mas Bobby Nasution dan Mbak Kahiyang Ayu tentu setuju dengan nama bermutu. Panembahan Al Nahyan Nasution. Al Nahyan bermakna bijaksana, sesuai benar dengan pengamalan Pancasila, sila keempat. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Pernikahan Mas Bobby Nasution dengan Mbak Kahiyang Ayu sendiri jelas- jelas pengamalan Pancasila, sila ketiga, Persatuan Indonesia. Ajaran Empu Prapanca Pujangga Kraton Majapahit tahun 1352 menyusun Kitab Sutasoma. Isinya mengandung nilai filosofis kenegaraan. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Keteladanan marga Nasution ditunjukkan oleh Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang hidup tahun 1917-2000. Beliau menulis buku Perang Gerilya, Sekitar Perang Kemerdekaan, Memasuki Panggilan Tugas. Pernah menjabat sebagai Panglima Besar Komando Djawa, Menteri Pertahanan dan Ketua MPRS tahun 1966-1971. Wajar sekali sekarang di Kota Medan terdapat jalan protokol dengan nama Jalan Jenderal Nasution.

Tokoh intelektual Indonesia yang berasal dari Batak marga Nasution yaitu Prof. Dr. Harun Nasution. Beliau lahir pada tanggal 23 September 1919. Pernah belajar di Hollandsche Indlandche School, Moderne Islamistische Kwekschool, Universitas Al Azhar dan American University at Cairo. Menjabat rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1973-1984. Karya tulisnya amat berbobot. Misalnya Akal dan Wahyu dalam Islam, Filsafat Agama, Islam Rasional, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Teologis Islam.

Dalam bidang hukum dan Hak Asasi Manusia tampil Dr. Adnan Buyung Nasution. Beliau pendiri Lembaga Bantuan Hukum yang melayani rakyat kecil. Lahir pada tanggal 20 Juli 1934. Pernah menjabat sebagai anggota KPU tahun 1998-2001 dengan ketuanya Jenderal Rudini. Adnan Buyung juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden tahun 2007-2009.

Musikus kenamaan yang berasal dari Batak marga Nasution yaitu Debby Nasution. Beliau seorang seniman besar yang juga sering memberi pengajian, artis sekaligus ustad. Menikah dengan seorang artis dan ustadzah. Wafat pada tahun 2018 dengan mewariskan prestasi seni bernilai tinggi. Aktivitas seni dipersembahkan buat ibu pertiwi, dengan sikap bijak bestari.

Padamu Negeri

Padamu negeri kami berjanji. Padamu negeri kami berbakti.
Padamu negeri kami mengabdi. Bagimu negeri jiwa raga kami.

Lagu karangan Koesbini sangat relevan dihayati oleh generasi warga bangsa. Terutama di kalangan generasi muda sebagai bahan pelajaran kewarganegaraan.

Pak Jokowi dan Bu Iriana mencintai negeri Indonesia sepenuh hati. Kepada anak- anaknya selalu ditanamkan jiwa kebangsaan. Mas Gibran Rakabuming Raka, Mbak Selvi Ananda, Mas Bobby Nasution, Mbak Kahiyang Ayu, Mas Kaesang Pangarep, meresapi nilai patriotisme dan nasionalisme.

Lagu Sabang Merauke.

Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar pulau- pulau,
Sambung-menyambung menjadi satu,
Itulah Indonesia,
Indonesia tanah airku, Aku berjanji padamu, Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia.

BACA JUGAMenanamlah

Lagu wajib nasional ini kelak menjadi bahan pembinaan para cucu Pak Jokowi-Bu Iriana. Jan Ethes Srinarendra, Sedah Mirah Nasution, La Lembah Manah dan Panembahan Al Nahyan Nasution. Mereka hadir untuk menghiasi jagad raya, agar bertambah asri.

Nama Sedah Mirah Nasution yang lahir pada tanggal 1 Agustus 2018 mengandung nilai kebangsaan dengan mengambil tema rasa kesetiakawanan sosial. Sebagaimana diwariskan oleh Nyai Adipati Sedah Mirah, pejabat Karaton Pengging yang mengutamakan Kesejahteraan rakyat.

Kadang kinasih kinawula. Disusul dengan kelahiran sang adik, Panembahan Al Nahyan Nasution. Nama ini mengandung nilai kebangsaan. Dengan mengambil tema rasa kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sebagaimana pengamalan Pancasila dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Sedah Mirah Nasution dan Panembahan Al Nahyan Nasution mengokohkan jatidiri serta kepribadian bangsa. Masa depan di tangan generasi muda, bumi Nusantara semakin jaya.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian