Liputan PARIWISATA

Pengembangan Wisata Berkelanjutan Sebagai Masa Depan Pariwisata Indonesia

Ditulis oleh Liputan68 pada 24 Oktober 2020 ā±ļø 2 Menit Baca

JAKARTA – LIPUTAN68.com – Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pandemi membuat sektor pariwisata sangat terpuruk. Tidak mau larut dalam kondisi ini, berbagai upaya dilakukan demi untuk mengembalikan geliat pariwisata dalam negeri yang berorientasi pada penerapan protokol kesehatan.

Menurut Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Nandang Prihadi, masa pemulihan pariwisata ini dinilai sebagai momen yang tepat untuk mengembangkan wisata berkelanjutan yang berpihak pada alam.

“Pengembangannya saat iniĀ sudahĀ sampai pada reaktivitasi wisata alam,” katanya dalamĀ webinar dengan tema “Wanita Indonesia dalam Pemulihan Pariwisata Indonesia 2021 yang Berorientasi Global,” di Jakarta.

Foto : Danau Toba, Sumatera Utara (doc. tobasamosirkab.go.id)

Tren wisata dalam masa adaptasi kebiasaan baru akan berorientasi pada penerapan protokol Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSES), fokus pada wisata domestik, dan pariwisata non-massal. Bercermin dari itu, pihaknya menerapkan tiga langkah strategis dalam pengembangan wisata berkelanjutan sebagai masa depan pariwisata Indonesia.

Pertama, komunitas berbasis ekowisata. “Masyarakat juga dilibatkan dalam penawaran paket wisata. Jadi, ada agenda yang melibatkan masyarakat setempat,” ucap Nandang

Yang kedua, komoditas. Diversifikasi produk wisata dan non-wisata pun terus didorong. Tanpa melupakan edukasi praktik ekowisata yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan wisata yang berkelanjutan.

Strategi terakhir atau yang ketiga, diterapkan lewat konservasi. “Sekarang tengah disuarakan bahwa kunjungan ke taman nasional itu menyehatkan dan menyejahterakan,” ujar Nandang.

Foto : Hutan di Kalimantan (doc. superadventure.co.id)

Selanjutnya, pihaknya tengah mengembangkan wisata terapi hutan atauĀ healing forest. Jenis wisata yang sebenarnya telah diadopsi banyak negara ini bertujuan menghilangkan stress dengan melakukan kunjungan ke alam, dalam hal ini hutan.

Nandang menerangkan bahwa terapi ini dilakukan dengan cara masuk ke hutan dan dalam perjalanannya para peserta akan membiarkan hutan terhubung dengan semua indera manusia. Termasuk di dalamnya indera penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan pengecap.

“PengembanganĀ healing forestĀ sekarang sedang dilakukan lewat kerja sama dengan Korea dan IPB untuk menemukanĀ spotĀ mana yang cocok. Karena hutan memang ada di banyak wilayah Indonesia, tapi tidak semuanya cocok,” tegasnya.(1-M)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian