Food Estate Dan Perlawanan Agraria Tuan Manullang Di Pansur Batu Tanah Batak (2020, 1920)

Di peristiwa yang pertama sambutan gegap gempita orang Batak nampak dimana mana karena kemakmuran petani Batak segera datang. Pemerintah membuat berbagai program bantuan yang luar biasa untuk kesejahteraan petani, mulai dari lahan, teknologi budidaya pertanian sampai ke pemasaran. Semua programnya bisa dilihat di internet.

Di peristiwa kedua orang Batak dipimpin Tuan Manullang melakukan perlawanan karena program agraria ini bakal menyengsarakan petani (walau pengetua adat saat itu dianggap mendapat keuntungan darinya). Tuan Manullang akhirnya dituntut di pengadilan kota Tarutung karena dianggap melawan program agraria pemerintah lewat pers. Terkena persdelick, Tuan Manullang dikalahkan di pengadilan, akhirnya dipenjarakan dan dibuang ke Cipinang.

Koran Soeara Batak tahun 1920 milik Tuan Manullang membuat reportase tentang Peristiwa Agraria Pansur Batu ini. Dalam Disertasi Lance Castle, Tapanuli 1915- 1940, peristiwa Pansur Batu ini dibahas dan dikutip pernyataan Tuan Manullang yang menyebut tanah Batak akan diambil oleh penghisap (kaum kapitalis) si mata putih. Sitor Situmorang dalam bukunya Toba Na Sae, terkesima kagumnya pada Tuan Manullang dengan slogannya “selamatkan tanah leluhur”. Nampak diposisikan, Tuan Manullang sebagai pejuang agraria di Tanah Batak. (lihat : tuanmanullang. com) Tapi kebanyakan orang Batak saat ini tidak mengenal apalagi mengetahui perjuangan Tuan Manullang melawan ekspansi agraria yang bakal mematikan petani Batak.

Berbeda dengan program plantation Belanda di Pansur Batu, program Food Estate pemerintah Jokowi diharapkan membawa kesejahteraan bagi petani di Pansur Batu. Sejarahlah nanti yang akan membuktikan.

Apakah Food Estate itu? Ada jelas dapat dibaca di internet. Walau pun saya mengalami kesulitan mencari padanan kata Food Estate ini dalam sejarah agraria.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *