Kemajuan jaman beserta dengan peningkatan budi pekerti. Seorang pemimpin harus memiliki pakarti. Pakarti adalah berhubungan dengan hasil kerja. Karya diperoleh melalui kerja dan perjuangan yang gigih, tak kenal menyerah dan prosesnya memerlukan waktu yang panjang. Kemajuan suatu bangsa salah satu tolok ukurnya adalah mutu karya yang dihasilkan. Bahkan karya itu merupakan merk yang mahal harganya. Orang luar mudah memberikan pengakuan dan penghormatan. Dalam diplomasi dan percaturan dunia dengan hadirnya karya unggulan akan diperhitungkan dan disegani. Bangsa yang banyak karyanya akan banyak devisanya pula sehingga otomatis sejahtera penduduknya.
Sumber daya manusia merupakan aset bangsa yang harus dikelola sebaik- baiknya. Pendidikan yang mengarah pada kualitas dan kuantitas karya perlu diberikan pada anak- anak. Setiap insan didik hendaknya diarahkan kepada hasil karya, agar mereka mempunyai rencana yang rapi menyongsong masa depan.
B. Hemat Cermat Bersahaja.
Para leluhur memberi pitutur. Sapa sing tlaten panen, sing titen mesti titi titis tatag tutug. Seorang pemimpin harus memiliki pekerti yang baik titen. Kata titen berarti selalu ingat, tidak mudah melupakan sesuatu, jeli dan teliti. Sikap titen diperoleh dengan cara menganggab setiap hal walaupun sangat kecil menjadi sesuatu yang penting.
Seseorang yang suka meremehkan kejadian- kejadian yang umum dia akan kehilangan pengetahuan yang bersifat alamiah. Dia akan mengamati semata, hanya berdasarkan untung rugi, suka benci dan kepentingan pribadi belaka. Kebodohan seseorang kemungkinan besar berpangkal dari sikap tidak mau titen.
Tinenana wong cidra mangsa langgenga adalah pepatah yang berarti ingatlah bahwa orang yang suka kianat tak akan selamat. Ungkapan itu berdasarkan kejadian- kejadian buruk yang dilakukan seseorang yang akan berakibat penderitaan, kesengsaraan, dan kerugian terhadap banyak orang.
Kepercayaan Pak Jokowi terhadap ajaran luhur sangat tinggi. Seorang pemimpin harus bersifat telaten. Kata telaten mengandung makna sikap rajin, tekun, kontinyu dan ajeg. Orang yang telaten tidak mudah putus asa, patah arang, nglokro, mutung, bosan atau jenuh.
Usaha apa saja butuh ketelitian. Ungkapan sing telaten bakal panen artinya siapa yang rajin bakal memetik buahnya. Kecerdasan yang didukung oleh sikap telaten akan memperoleh kesuksesan yang gemilang.
Orang yang cerdas tetapi malas, maka suksesnya akan selalu tertunda. Sebaliknya orang yang pas-pasan, namun gigih, tekun dan telaten lama- kelamaan hasilnya akan nampak. Oleh karena itu sebaiknya orang tidak usah minder, kecil hati, rendah diri dan malu terhadap tingkat kecerdasannya yang penting rajin, ulet, telaten dan tertib.
Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Seorang pemimpin harus bersifat gemi. Gemi mengandung makna hemat, cermat dan bersahaja. Oreng yang yang selalu gemi selalu menghitung -hitung segala pengeluaran agar dapat efektif dan efisien. Sikap gemi sama sekali berbeda dengan gaya hidup yang tamak dan pelit.
Hemat hendaknya menjadi sikap tiap warga. Tindakan gemi dilandasi oleh perhitungan bahwa mengumpulkan harta itu tidak gampang. Peras keringat banting tulang pun kadang -kadang masih gagal juga. Oleh karena itu gaya hidup kemewah- mewahan, boros dan menghambur -hamburkan uang sangat bertentangan dengan sikap hidup gemi. Harus dihindari anggapan hidup boros akan mengundang rasa hormat dari orang lain. Tindakan mesti cepat tepat bener pener.
Sikap hemat membuat sebuah keluarga akan sejahtera. Sebenarnya sikap gemi merupakan tindakan yang berprinsip ekonomi berdasarkan pemikiran yang rasional, tepat sasaran dan tak mengundang kecemburuan. Jangan sampai dahwen open panasten.
Tepa palupi duga prayogi. Dalam berbagai kesempatan Pak Jokowi memberi wejangan buat putra wayah. Sebaiknya mau berbuat gemi nastiti ngati-ati. Seorang pemimpin harus bersifat nastiti.
Nastiti berkaitan dengan tindakan seseorang dalam mempergunakan harta bendanya. Orang Jawa sangat perhitungan dalam mempergunakan hartanya. Harta benda yang dikumpulkan dengan peras keringat itu dikelola agar pengeluaran tidak melampaui pemasukan sehingga menimbulkan banyak utang. Ada ungkapan bahwa utang itu ringan di depan, amat berat di belakang.
Kehidupan masih panjang untuk diperjuangkan. Berbeda dengan gemi yang lebih condong kepada asal-usul harta, maka nastiti cenderung kepada bagaimana pemakaiannya. Sama-sama keluar uang akan lebih puas kalau mendapat untung yang lebih banyak. Sekali lagi gemi nastiti tidak mengandung unsur pelit, bakhil dan tamak. Keduanya tetap menggunakan pertimbangan rasional.
Sukses gemilang diperoleh dengan kerja keras. Harta benda yang dikeluarkan dengan sia- sia dan tidak jelas arahnya akan mengundang kesengsaraan secara material. Apalagi penggunaan harta benda orang banyak dengan ceroboh, tentu akan membuat susah dan kesulitan. Sumber daya manusia perlu ditingkatkan. Dimulai dari keluarga, Pak Jokowi memberi saran pada putra putri. Agar siap sedia ngangsu kawruh, sepanjang hayat dikandung badan.
Bangsa Indonesia mengalami masa jaya, dengan syarat pendidikan jadi prioritas utama. Esuk esuk srengengene uwis metu, Ibu nyuwun pangestu kang putra badhe sinau.
(LM-01)

