Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)
A. Rajin Belajar Tekun Bekerja.
Belajar apa saja perlu sikap rajin. Bekerja apa saja perlu sikap tekun. Begitulah pesan Pak Jokowi pada putra wayah.
Kehati- hatian harus menjadi tradisi budaya. Seorang pemimpin harus bersikap ngati- ati. Sikap ngati- ati adalah keputusan pikiran dan perasaan yang berusaha untuk menghindari resiko terburuk baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Keselamatan menjadi prioritas utama. Kecelakaan di jalan raya adalah terjadi karena faktor kurang hati-hati. Perhitungan rasional antara sebab dan akibat tidak menjadi bahan pertimbangan. Dorongan emosional untuk mengambil jalan pintas, cepat dan mudah akan menyebabkan perilaku ingin mendominasi orang lain. Bahwa tindakannya itu berbahaya, dia tidak peduli sama sekali. Main petasan yang beresiko kebakaran juga kurang dipikirkan pelakunya.
Perbuatan yang hanya menekankan faktor rasionalitas kadang- kadang juga menyakitkan. Terjadinya penindasan di depan mata kalau hanya ditinjau dari segi rasional kepentingan, tentu mengandung perasan kurang simpati dari orang lain. Apalagi ketika menjadi seorang pemimpin ngati -ati dalam mengambil kebijakan adalah sangat penting agar kebijakan itu benar- benar bijak dan tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Tertib Lalu Lintas
Malem Minggu kutha Sala pancen rame,
Abang biru mobil montor sawernane,
Pating sliwer kaya padha rebut banter,
Ora bener tanpa tandha waton minger.
Dha elinga bebaya ing tengah marga,
Yen nemahi banjur lara lan sungkawa,
Tumrap para pengemudi apa wae,
Dha nindakna lalulintas aturane.
Gambar gambar rambu rambu wigatekna,
Mlebu kutha prayogane den alona,
Peraturan lalu lintas saktemene,
Mamrihake keslametan sapa wae.
Perlu memberi tafsir penjelasan makna. Peraturan lalulintas wajib dipatuhi. Gambar dan rambu di jalan raya hendaknya diperhatikan oleh setiap pengemudi. Tujuannya semua pengendara mendapatkan keselamatan. Kecelakaan di jalan raya banyak disebabkan oleh sikap ceroboh dan sembrono. Padahal itu akan membahayakan orang lain. Perlu hati -hati. Kita perlu memberi contoh tertib lalulintas. Keselamatan menjadi tanggung jawab kita semua. Caranya dengan lalu lintas yang tertib.
Pekerjaan akan memberi penghasilan. Seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya harus bersikap tekun. Tekun mempunyai pengertian mengerjakan sesuatu dengan rajin, ulet dan tidak mudah putus asa atau putus di tengah jalan. Orang yang tekun tidak goyah oleh godaan dan kritikan orang lain yang tidak mendukungnya.
Bukti kerja sudah menjawab semua keraguan. Ketekunan terhadap suatu pekerjaan membuat bahagia orang yang mengerjakan. Orang lain yang memperhatikan pun akan ikut senang. Dari sini lama- kelamaan mengundang rasa hormat. Bila perlu banyak orang sanggup membiayai pekerjaan yang ditekuni itu. Kepercayaan umum pada profesi seseorang bisa lewat jalan tekun.
Fasilitas publik perlu digunakan dengan tepat. Pikiran yang kurang cerdas dapat ditutupi dengan ketekunan. Malah banyak orang yang lebih tekun lebih sukses dibanding dengan orang yang cerdas tapi malas.
Orang yang mau belajar berarti ada peningkatan. Seorang pemimpin harus meliliki teken. Teken secara harfiah bermakna tongkat yang digunakan sebagai penegak orang yang sedang berjalan. Biasanya teken dipakai orang yang sudah lanjut usia.
Sastra piwulang banyak terpantul dalam siaran seni di RRI Surakarta. Dalam konteks piwulang dan pasemon atau ajaran moral simbolik, kata teken berarti pedoman, petunjuk dan tuntunan hidup. Dapat juga berarti sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Orang yang mendapat teken adalah orang yang mendapat alat demi mencapai cita- cita hidupnya.
Sukses seseorang tergantung dari ragam usaha. Agar mendapat teken seseorang harus tekun. Dengan begitu teken berarti buah dari perbuatan tekun. Bagaimana pun juga ketekunan yang telah melekat pada diri seseorang, lama -lama orang tersebut akan diakui oleh masyarakat umum. Adanya fasilitas itu akan didukung oleh publik.
B. Peningkatan Kualitas Pekerjaan.
Konsep tekun teken tekan populer di kawasan kasepuhan Surakarta. Seorang pemimpin harus yakin bahwa usahanya suatu saat akan tekan. Tekan berarti kesampaian. Teken, tekun dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Siapa yang mau tekun, maka ia akan mendapat teken dan ia akan segera tekan atau kesampaian apa yang menjadi idamannya.
Semua perlu waktu. Proses yang panjang yang harus dilalui seseoang agar sampai pada tekan, penuh duri, derita, duka dan nestapa yang senantiasa mengiringi. Dari laku tekun saja membutuhkan waktu yang tidak pendek. Kemudian mendapat teken yang bukan berarti halangan dan cobaan usai. Teken yang digunakan itu harus digunakan secara sebaik- baiknya agar sampai tanpa meleset. Setelah proses demi proses dijalani, barulah tekan atau berhasil.
