Pak Jokowi Dan Strategi Kebudayaan Nasional
Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Manunggaling Cipta Rasa Karsa.
Kebudayaan nasional dikembangkan berdasarkan puncak- puncak budaya daerah yang sudah tumbuh selama berabad- abad. Kesadaran Pak Jokowi diajarkan buat putra wayah, demi memperkokoh jatidiri bangsa. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.
Sadar budaya perlu ditanamkan pada generasi muda sejak dini. Seorang pemimpin harus memahami konsep becik ketitik. Becik Ketitik artinya kebenaran itu akhirnya akan ketahuan juga setelah proses penelitian dengan memakan waktu. Penelitian ini berfungsi membuktikan. Dari Sabang sampai Merauke terdapat nilai kearifan lokal.
Kurikulum bisa dijadikan sebagai sosialisasi strategi budaya. Untuk mencapai kebenaran banyak sekali halangannya. Apalagi upaya untuk mencapai kebenaran itu bersangkut paut dengan kepentingan dan kehormatan orang lain tentu akan menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang diuntungkan cenderung untuk mendukung, sementara orang yang dirugikan akan cenderung untuk meragukan bahkan menolak. Contoh mudah adalah penanganan hukum yang terkait kasus politik.
Pendidikan dasar menempati posisi yang vital buat pengembangan budaya nasional. Setelah melampaui waktu yang panjang dan berganti pemain dan generasi kebenaran dan kesalahan akan mudah tampak. Tidak sulit- sulit untuk menganalisis, mana yang benar dan mana yang salah akan dengan mudah dilihat.
Dhandhanggula
Songsong gora candraning hartati,
lwir winidyan saroseng parasdya,
ringa ringa pangriptane, tan darbe labdeng kawruh, angruruhi wenganing budi, kang mirong rukareng tyas,
jaga angkara nung,
minta luwaring duhkita,aywa kongsi kewran lukiteng kinteki,kang kata ginupita.
Pangapusing pustaka sayekti,
saking karsa dalem Sri Narendra,
kang kaping sanga mandhireng,
Surakarta praja gung, sumbageng rat dibyadi murti,
martotama susanta,
santosa mbek sadu,
sadargeng galih legawa, sihing wadya gung alit samya memuji, raharjeng praja nata.
Tafsir dan makna ajaran Serat Cemporet ini berisi tentang sejarah Jawa kuna. Kitab ini disusun oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita. Saat budaya mengalami jaman keemasan, kejayaan dan kemakmuran. Pesanggrahan, bendungan, kereta api, perkebunan, sungai, sawah, hutan diatur sebaik -baiknya. Serat Cemporet mengandung ilmu Jawa kuna.
Hukum sebab akibat terjadi dalam dunia nyata. Seorang pemimpin harus memahami konsep ala ketara. Ala artinya keburukan, ketara artinya tampak. Keburukan itu walaupun ditutupi dengan apapun pasti lama- lama akan tampak juga, sebagaimana bau bangkai yang busuk tidak dapat ditutupi. Bagi pihak yang merasa dirugikan atau menjadi korban sudah tentu akan mengambil reaksi dan pihak yang bersengaja menyembunyikan keburukan itu akhirnya hanya akan mendapat malu.
Alam memiliki hukum yang baku. Perbuatan yang buruk, lambat atau cepat akan tercium. Contohnya untuk kasus pembunuhan orang, lama atau cepat pasti pelakunya dapat ditangkap, setidak-tidaknya ketahuan. Proses tersingkapnya bisa dengan sengaja atau tidak sengaja atas petunjuk Tuhan.
Buat sekalian warga negara harus mau berpikir. Orang yang melakukan perbuatan jahat hatinya pasti akan diliputi kecemasan, kuatir, was- was, tidak tenang dan merasa bersalah. Oleh karena itu tidak patut keburukan macam apapun ditutupi, sebaiknya secara jantan kita mengakui perbuatan itu agar mempermudah proses hukum.
Bener ketenger goroh growah diwejangkan oleh leluhur Pak Jokowi. Seorang pemimpin harus memahami konsep goroh growah. Goroh artinya bohong, growah artinya luka, lecet, terbelah. Orang yang berbohong lama- lama akan erosi kepercayaan dirinya.
Warga Banyumas memiliki syair seni yang berkaitan dengan kejujuran. Orang yang berbohong sekali, maka dia akan dituntut untuk berbohong lagi untuk menutupi kebohongannya yang pertama. Bohong keduanya harus lagi ditutupi dengan kebohongan berikutnya secara berkelanjutan. Pada suatu saat, entah karena lupa, ceroboh, atau terlalu bodoh, maka dramanya akan terasa janggal, simpang siur dan akhirnya akan terbongkar. Ini perlu dicegah, demi kebaikan bersama.
Misalnya Srepeg Banyumas yang mengajarkan kesucian hati. Sejak itu orang akan lepas kepercayaan dengan dirinya, meskipun omongannya tetap nyaring namun orang lain minimal akan senyum dalam hati. Untuk diajak kerjasama maka orang lain akan mulai pasang kuda -kuda untuk menolaknya. Seandainya mau ia akan mau memperhitungkan dengan lebih cermat untung ruginya.
Srepeg Banyumas
Manguwuh paksi manyura, wancine andungkap gagat rahina, saniskara wosing pagelaran,
kang becik ketitik kang ala ketara,
awit iku apan nyata,
becike kang lugu aja sembrana, tindak tanduk kang prasaja.
Tafsir penjelasan makna Gendhing srempeg banyumasan kerap digunakan untuk mengawali pertunjukan wayang purwa. Gendhing ini biasanya bersatu padu dengan sajian gendhing patalon. Isinya tentang pendidikan budi pekerti luhur. Manusia sebaiknya selalu eling lan waspada. Rasa optimis digambarkan sebagaimana indahnya bulu merak.
Tanggap ing sasmita menunjukkan kepekaan hati. Seorang pemimpin harus memahami konsep bener ketenger. Seperti ungkapan becik ketitik, segala tindakan yang benar itu akhirnya akan nampak dengan jelas. Demikian juga arti dari ungkapan bener ketenger. Kebenaran yang didukung dengan logika akan lestari.
Pak Jokowi terlalu menghayati kata- kata magis kejawen. Kebenaran yang logis akan membuat rasa kagum yang layak didukung. Para pemimpin biasanya membawa kebenaran logis bagi pengikutnya. Hal ini karena gagasan- gagasannya yang muncul bisa dipahami secara nalar dan oleh karena itu layak disokong. Bahkan kebenaran yang diterima secara fanatik, pengikutnya berani berkorban apa saja.
Pagi sore siang malam RRI Surakarta kerap menyiarkan gendhing yang bernuansa strategi budaya. Para pemimpin yang miskin misi dan visi lambat laun akan ditinggalkan oleh pendukungnya. Daya tariknya akan habis karena pribadinya tidak menjanjikan apapun untuk diikuti lagi. Pelajaran yang utama bagi para seniman budayawan.
B. Harkat Martabat Bangsa.
Rumusan strategi budaya guna menjaga sebuah identitas. Derajat bangsa Indonesia tergantung dari cara warganya untuk mengembangkan diri. Agar hidupnya setaraf dengan bangsa lain. Inilah gunanya kesadaran akan harkat dan martabat.
Anak muda punya kewajiban agar menghormati martabat bangsa. Pak Jokowi berperan pada putra putrinya. Seorang pemimpin harus memahami konsep ajining diri saka lathi yang artinya harga diri seseorang itu dinilai dengan apa yang keluar dari lidahnya. Suara yang manis, sopan, dan merdu bisa membuat rasa simpati. Sebaliknya, suara yang keras, kasar, tidak memperhatikan perasaan orang lain, akan menimbulkan masalah dan meruntuhkan harga dirinya.
Penghargaan orang terhadap orang lain banyak bersumber dari tutur kata. Apa bila tutur kata itu mengenakkan hati, tentu orang lain akan senang, teduh, dan dihormati. Sebaliknya tutur kata sinis, pedas, caci maki akan mendatangkan rasa benci dari pihak lain. Dalam pergaulan sedapat-dapatnya orang itu berbuat kebajikan dalam bertutur kata. Kata peparah Arab: setajam- tajam pedang masih tajam lidah. Luka fisik bisa diobati, tetapi luka hati tiada obatnya. Oleh karena itu sebelum diucapkan hendaknya kata-kata yang akan keluar dari mulut hendaknya dipikirkan masak -masak.
Mijil
Poma kaki padha dipun- eling, ing pitutur ingong,
sira uga satriya arane, kudu anteng jatmika ing budi,
ruruh sarta wasis,
samubarangipun.
Sarya nedya prawira ing batin, nanging aja katon, sasabana yen durung masane,
kekendelan aja wani mingkis, weweka ing ati, sinamar sinamun.
Lan denmantep sami marang becik,
lan ta aja wekas- ingong, aja kurang iya panrimane,
yen wis titahira ing Hyang Widhi,
ing badan puniki,
wus pepancenipun.
Ana wong narima wus titahing, Hyang kang dadi awon,
lan wong ananarima titahe, ing wekasan iku dadi becik,
dene wong ingkang becik, wong narima iku.
Kaya umpamane wong angabdi,
amagang Sang Katong, lawas- lawas teka sasedyane,
dadi mantri utawa bupati, miwah saliyaning, ing tyase panuju.
Nuli narima terusing batin, tan menging ing Katong, lan rumasa ing kanikmatane,
sihing gusti tekeng anak rabi, wong narima becik,
kang mengkono iku.
Nanging arang iya masa mangkin,
kang kaya mengkono, kang wis kaprah iya salawase, yen wis ana linggihe sathithik, apan nuli lali, ing wiwitanipun.
Pangrasane duweke pribadi, sabarang kang kanggo, datan enget ing mula- mulane, kawiting sugih sangkaning mukti, panrimaning ati, kaya nggone nemu.
Tan rumasa murahing Hyang Widhi, jalarang Sang Katong, ing jaman mengko iki mulane,
arang turun wong lumakyeng kardi,
tyase tan salirih,
kasusu ing angkuh.
Arang kang sedya amales becik,
ing sihe Sang Katong, lawan kabeh iku ing batine,
tan anedya narima ing Widhi, iku uwong tan wrin, ing nikmat ranipun.
Mari merenungkan tafsir dan makna ajaran pujangga yang memberi wejangan kepada sekalian orang. Para satriya hendaknya memegang teguh tata susila, trampil, pintar dan suka bekerja keras. Tetapi harus rendah hati. Tidak boleh sombong. Tetap andhap asor rendah hati.
Ketika mengabdi pada masyarakat bangsa dan negara perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Kesetiaan pada tugas akan membuahkan masa depan gemilang. Taat pada pimpinan dan memegang aturan itu jalan menuju keselamatan.
Keberuntungan jangan sampai membuat lupa diri. Ingatlah pada jasa raja, sentana, nayaka, punggawa kerajaan. Dengan tujuan hidup ini bertambah tentram, aman, damai. Politisasi dihindari demi meraih prestasi. Serat Wulangreh berguna sebagai panduan untuk memperoleh kesempurnaan.
Bumi pertiwi tempat berbakti. Seorang pemimpin harus memahami konsep ajining sarira dumunung ing busana artinya badan jasmani seseorang akan dihargai jika dibungkus dengan busana yang pantas. Pantas tidak cukup berarti harus mahal dan mewah, tetapi cukuplah sopan dan sesuai lingkungan.
Tradisi tiada henti. Masing- masing kelompok sosial mempunyai tradisi berbusana yang berbeda. Busana kelompok tersebut merupakan kebanggaan dan kebesaran kolektif. Seragam militer misalnya menimbulkan rasa bangga dan gagah bagi prajurit. Pakaian adat membuat bangga bagi suku yang bersangkutan. Oleh karena itu orang harus bisa membawa diri dalam berpakaian.
Cerita rakyat mengandung kearifan lokal. Cara berpakaian yang luwes akan membuat mudah bergaul dengan segala lapisan sosial. Pakaian menggambarkan jiwa seseorang yang mudah dinilai pihak lain.
Dengan memahami strategi budaya warisan nenek moyang, pribadi bangsa makin kokoh. Seorang pemimpin harus memahami konsep jeneng. Jeneng artinya nama. Orang yang kondang artinya orang yang memiliki nama baik dan integritas yang diakui. Istilah Jawanya adalah kondang kaonang, kaloka, kawentar, kuncara, kaceluk atau tenar.
Nama baik dan harum seseorang diperoleh melalui perjuangan yang gigih. Apalagi kalau perjuangannya itu demi kesejahteraan orang banyak. Massa akan mengingat jasa -jasanya, meskipun dia sudah tiada. Contohnya adalah nama besar Ki Hajar Dewantara, Cokroaminoto, Soekarno, Ahmad Dahlan dan lain sebagainya. Mereka mempunyai jeneng yang sugeng atau langgeng. Keabadian namanya memang sudah layak dengan perjuangannya. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak menikmati jerih payahnya.
Bersih Desa
Apa iku apa iku,
dadi kuwajiban baku,
ayo bersih desa,
murih adoh suker sakit, e e e e guyah guyah, anggliyah tumandang karya.
Buat masyarakat Surakarta tembang itu memuat tafsir penjelasan makna. Adat istiadat, tradisi dan seni budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat desa perlu dihormati dan dilestarikan. Sebenarnya dalam segala upacara adat di pedesaan itu mengandung kearifan lokal. Dengan menghormati adat istiadat itu kehidupan terasa lebih ayem tentrem.
Nilai kearifan lokal diajarkan Pak Jokowi pada putra wayah. Seorang pemimpin harus memahami konsep jenang. Jenang artinya bubur atau makanan. Arti kiasnya adalah bawah orang yang memiliki jeneng nama yang kokoh secara otomatis ia akan mendapat jenang, nafkah lahiriah.
Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Jeneng harus didahulukan daripada jenang. Jangan sebaliknya minta jenang dahulu. Nanti menimbulkan kecemburuan dan kecurigaan. Kalau jeneng didapat, tidak usah minta-minta, jenang akan datang dengan sendirinya. Boleh jadi jenang itu diperoleh dalam jumlah yang berlipat- lipat dari yang diharapkan. Prinsip ini seharusnya dipegang oleh kaum profesional yang benar -benar menekuni pekerjaan atau usahanya. Mereka menggunakan pendekatan kultural.
Diplomasi budaya amat efektif. Nama yang harum jadi sarana untuk mikul dhuwur mendhem jero. Perusahaan yang memiliki modal besar dimulai dengan berlaku hemat. Tanpa harus mengorbankan nama baik. Dari situ modal bertambah dan perusahaan berkembang. Strategi kebudayaan demi memperkokoh kepribadian nasional.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan